Keutamaan Puasa Syawal 6 Hari, Ibadah Sunah Usai Ramadan yang Penuh Keberkahan

Ketahui keutamaan puasa Syawal 6 hari yang memberikan pahala besar, meningkatkan ketakwaan, dan melengkapi ibadah setelah Ramadan.

Diterbitkan 28 Maret 2026, 11:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keutamaan puasa Syawal 6 hari menjadi topik yang selalu menarik untuk dibahas di pengujung Ramadan. Ya, diketahui, setelah Ramadan, hadir kesempatan emas di bulan Syawal untuk melanjutkan amal kebaikan dengan melakukan puasa Syawal. Puasa enam hari ini bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi memiliki nilai pahala yang sangat besar dan istimewa.

Puasa enam hari ini juga menjadi bentuk konsistensi dalam menjaga kedekatan dengan Allah setelah melewati bulan penuh ampunan.Selain itu, puasa Syawal juga memiliki keutamaan yang luar biasa lainnya yang menarik untuk dikulik. 

Di bawah ini akan dipaparkan secara terperinci tentang berbagai keutamaan puasa Syawal 6 hari. Berikut informasinya untuk Anda sebagaimana dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber pada Sabtu (28/3/2026).

1. Pahala Puasa Setara Setahun

Keutamaan puasa Syawal 6 hari memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam, sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih. 

Rasulullah SAW bersabda, 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ سِتَّاً مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya: Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan enam hari dari Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun." (HR Muslim).

Pahala buasa setahun penuh ini didasarkan pada prinsip bahwa setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Dengan demikian, puasa Ramadan selama 30 hari setara dengan 300 hari puasa (30 x 10). Ini menjadi landasan perhitungan pahala yang luar biasa bagi umat Muslim.

Kemudian, puasa enam hari di bulan Syawal setara dengan 60 hari puasa (6 x 10). Jika dijumlahkan, totalnya menjadi 360 hari, yang kurang lebih sama dengan satu tahun penuh. 

Hadis lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah juga menegaskan bahwa puasa Ramadan dihitung sepuluh kali lipat dan puasa enam hari setelahnya dihitung dua bulan, sehingga totalnya sama dengan puasa setahun penuh. 

صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشْرَةِ أَمْثَالِهِ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَهُ بِشَهْرَيْنِ فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ

"Puasa bulan Ramadan itu dihitung sepuluh kali lipat dan puasa enam hari setelahnya dihitung dua bulan, maka itu sama dengan puasa setahun penuh," (HR Ibnu Majah).

2. Penyempurna bagi Puasa Ramadan

Puasa Syawal  juga berfungsi sebagai penyempurna bagi puasa Ramadan, mirip dengan shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan shalat fardhu. Puasa ini dapat menutupi kekurangan atau cacat yang mungkin terjadi selama puasa Ramadhan. 

  إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ “

Artinya, “Amalan seorang hamba yang dihisab pertama kali di hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka sungguh dia beruntung dan selamat. Jika shalatnya buruk, maka sungguh dia celaka dan rugi. Jika ada kekurangan pada shalat wajibnya, Allah Ta’ala berfirman, ‘Periksalah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah yang dapat menyempurnakan kekurangan ibadah wajibnya?’ Kemudian yang demikian berlaku pada seluruh amal wajibnya.” (HR at-Tirmidzi).   

3. Tanda Diterimanya Puasa Ramadhan

Melaksanakan puasa Syawal juga dapat menjadi indikasi bahwa puasa Ramadan seseorang diterima oleh Allah SWT. Hal ini karena salah satu ciri diterimanya suatu amal kebaikan adalah seseorang diberikan taufik atau kemudahan untuk melakukan amal kebaikan selanjutnya. Dengan demikian, puasa Syawal menjadi tanda keberlanjutan spiritual yang positif.

4. Bentuk Syukur atas Anugrah dan Ampunan Allah SWT

Puasa Syawal merupakan bentuk rasa syukur seorang hamba atas nikmat dan ampunan yang telah Allah berikan selama Ramadan. Ini adalah cara untuk berterima kasih atas kesempatan beribadah dan pengampunan dosa, sekaligus memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta. Rasa syukur ini termanifestasi dalam ketaatan yang berkelanjutan.

   مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ [وفي رواية]: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 

Artinya, “Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah, maka dosanya yang lalu akan diampuni.” [dalam riwayat lain]: “Siapa saja yang menghidupkan malam hari bulan Ramadhan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah, maka dosanya yang lalu akan diampuni.” (Hr. Bukhari dan Muslim).

5. Menjaga Konsistensi Ibadah

Lebih lanjut, setelah sebulan penuh berpuasa, puasa Syawal membantu menjaga semangat ibadah agar tidak padam dan melatih konsistensi dalam ketaatan sepanjang tahun. Amalan yang rutin, meskipun sedikit, lebih dicintai Allah. Puasa sunah, termasuk puasa Syawal, juga menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, melatih ketaatan, dan menunjukkan kesungguhan dalam beribadah. Selain keutamaan spiritual, puasa Syawal juga memberikan manfaat bagi kesehatan fisik dan mental, seperti detoksifikasi tubuh, peningkatan sistem kekebalan, serta pengendalian stres.

   وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ 

Artinya, “Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku pun mencintainya.” (HR al-Bukhari)

Hukum dan Tata Cara Pelaksanaan Puasa Syawal 6 Hari

Hukum melaksanakan puasa Syawal adalah sunah muakkadah, yang berarti sangat dianjurkan dalam Islam. Meskipun tidak wajib, meninggalkannya berarti kehilangan pahala yang besar dan kesempatan emas untuk meraih keberkahan. Oleh karena itu, memahami tata cara pelaksanaannya sangat penting untuk mendapatkan keutamaan puasa Syawal 6 hari.

Puasa Syawal dapat dimulai pada tanggal 2 Syawal, karena berpuasa pada Hari Raya Idulfitri (1 Syawal) hukumnya haram. 

Dari Abi Ubaid r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Saya menyaksikan hari raya bersama Umar r.a. lalu dimulailah shalat Id sebelum khutbah, kemudian ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw melarang berpuasa pada dua hari raya ini. Adapun di hari Idul Adha maka hendaklah kamu sekalian makan daging kurbanmu, sedang di hari Idul Fitri hendaklah kamu sekalian berbuka dari puasamu. (HR Abu Dawud].

Meskipun idealnya puasa Syawal ditunaikan secara berturut-turut segera setelah Idul Fitri, yakni dari tanggal 2 hingga 7 Syawal, namun terdapat fleksibilitas melaksanakannya. Artinya, puasa ini juga dapat dilakukan secara terpisah atau tidak berturut-turut selama masih dalam bulan Syawal.  Anda bisa memilih berpuasa pada Senin dan Kamis, atau  mengikuti puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriah) di bulan Syawal, dan tetap mendapatkan keutamaan puasa Syawal.

Terkait bayar utang puasa Ramadan dulu atau puasa syawal itu, ada beberapa pendapat ulama yang bisa jadi rujukan. Mayoritas ulama berpendapat bahwa qadha puasa Ramadan sebaiknya didahulukan sebelum puasa Syawal.

Di sisi lain, ada pendapat ulama yang membolehkan mendahulukan puasa Syawal, terutama bagi orang yang memiliki uzur. Karena puasa Syawal hanya bisa dilakukan di bulan Syawal, sebagian ulama memberikan keringanan untuk mendahulukannya. Tidak ada satu jawaban mutlak yang berlaku untuk semua orang. Jadi menjawab puasa syawal atau bayar utang dulu, keputusan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Niat puasa Syawal dapat dilafalkan pada malam hari sebelum berpuasa atau di siang hari selama belum makan dan minum sejak subuh, karena ini adalah puasa sunah. 

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى      

"Nawaitu shauma ghadin an ada i sunnatis Syawwali lillahi ta'ala." 

Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah ta'ala.".

Atau, 

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى    

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatisy Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah ta’ala.” Wallahu a'lam.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

1. Apa itu puasa Syawal?

Puasa sunnah selama enam hari di bulan Syawal setelah Ramadan.

2. Apa keutamaan utama puasa Syawal 6 hari?

Keutamaan utamanya adalah mendapatkan pahala seperti berpuasa selama setahun penuh.

3. Mengapa puasa Syawal 6 hari pahalanya setara puasa setahun penuh?

Karena setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, sehingga puasa Ramadan (30 hari) setara 300 hari, dan puasa Syawal (6 hari) setara 60 hari, totalnya 360 hari atau setahun penuh.

4. Kapan waktu terbaik untuk melaksanakan puasa Syawal?

Puasa Syawal dapat dilakukan kapan saja selama bulan Syawal, kecuali pada tanggal 1 Syawal (Idulfitri) yang diharamkan berpuasa, namun lebih utama jika dilakukan secara berurutan segera setelah Idulfitri.

5. Apakah puasa Syawal harus dilakukan secara berurutan?

Tidak harus berurutan; puasa Syawal boleh dilakukan secara terpisah-pisah selama masih dalam bulan Syawal, dan tetap mendapatkan keutamaan yang sama.