9 Doa Saat Cuaca Panas Teks Arab Latin Arti, Lengkap Penjelasannya

Doa saat cuaca panas menjadi bagian dari amalan yang dianjurkan dalam Islam untuk bersabar, memohon ampun dan dzikir saat dilanda panas terik atau kekeringan

Diterbitkan 20 Oktober 2025, 06:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebagian besar wilayah Indonesia mengalami cuaca panas dengan suhu udara yang lebih tinggi dari rata-rata klimatologis pada pertengahan Oktober 2025. Panas terik dan gerah ini tentu menyebabkan rasa tak nyaman dan terkadang memicu berbagai penyakit, utamanya kelompok rentan. Penting bagi umat Islam mengetahui doa saat cuaca panas.

Cuaca panas ini dipicu berbagai penyebab. Namun, secara umum adalah masa transisi dari kemarau ke musim hujan. hujan. BMKG memperkirakan suhu akan normal pada akhir Oktober atau awal November, seturut meningkatnya curah hujan.

Dalam kondisi seperti ini, umat Islam dianjurkan bersabar dan banyak-banyak meminta ampun. Hal ini berdasar dalil Al-Qur'an: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu,–sungguh Dia adalah Maha Pengampun–niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, membanyakkan harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai" (Surat Nuh ayat 10-12).

Berikut ini adalah doa-doa saat cuaca panas yang dicontohkan Rasulullah SAW, nabi-nabi dan diriwayatkan dalam hadis.

1. Doa Saat Panas Terik dalam Hadis Bukhari dan Muslim

Merujuk buku Doa Dzikir Muslimah karya Abu Ayyub El-Faruqi, Dahsyatnya Doa Para Nabi karya Syamsuddin Noor, Kitab Induk Doa dan Zikir, Kamus Doa oleh Luqman Junaedi, Kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi, berikut ini doa-doa saat cuaca panas menyengat:

 

اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا, اَللَّهُمَّ أَغِثْنَ, اَللَّهُمَّ أَغِثْنَ

Latin: Allāhumma agitsnā, allāhumma agitsnā, allāhumma agitsnā.

Artinya: "Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami."

Doa ini dibaca Rasulullah saat sedang khutbah Jumat ketika seorang sahabat datang ke masjid menceritakan bencana kekeringan dan memohon kepada beliau untuk diturunkan hujan.

2. Doa Saat Panas Terik dalam Hadis Bukhari, Muslim, dan Abu Daud

Berikut bacaan doa saat panas terik dalam hadis riwayat Bukhari, Muslim, dan Abu Daud.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْئًا مُغِينَّا مَرِيئًا نَافِعًا غَيْرِ ضَاءٍ عَاجِلًا غَيْرَ أَجِلٍ.

Latin: Allâhummas qinâ ghaitsam mughîtsam mari`am nâfi'an ghaira dhârrin, 'âjilan ghaira âjilin.

Artinya: "Ya Allah, berilah kami hujan yang merata, menyegarkan tubuh, dan menyuburkan tanaman, bermanfaat, tidak membahayakan. Kami mohon hujan dengan segera, tidak ditunda-tunda."

Doa ini adalah bagian dari doa meminta hujan (istisqa’), yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika terjadi kekeringan atau musim panas yang panjang.

Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ dan Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menjelaskan bahwa doa istisqa’ boleh menggunakan berbagai lafaz yang maknanya meminta hujan yang bermanfaat, tidak membahayakan, dan segera turun. Tidak harus satu lafaz tertentu, dan boleh menambah sifat-sifat kebaikan dalam permintaan hujan.

Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar juga menyebutkan, dalam istisqa’, Rasulullah SAW dan para sahabat mengajarkan berdoa dengan berbagai ungkapan yang bermakna meminta hujan yang baik dan penuh manfaat.

4. Doa Ketika Panas Terik Pembukaan Khutbah Shalat Istisqa Rasulullah

Doa ini merupakan pembukaan khutbah Rasulullah dalam Shalat Istisqa:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ, اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ, مَالِكِ يَوْمِ اَلدِّينِ, لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ, اَللَّهُمَّ أَنْتَ اَللَّهُ, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَنْتَ اَلْغَنِيُّ وَنَحْنُ اَلْفُقَرَاءُ, أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ, وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ عَلَيْنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ

Latin: Alhamdulillāhi rabbil ālamīn. Arrahmānir rahīm. Māliki yaumid dīn. Lā ilāha illallāhu yaf'alu mā yurīd. Allahumma antallāhu. Lā ilāha illā anta. Antal ghaniyyu wa nahnul fuqara`. Anzil 'alainal ghaitsa waj'al mā anzalta 'alainā quwwatan wa balaghan ilā hīn.

Artinya: "Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. Tidak ada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Kau adalah Allah. Tidak ada tuhan yang layak disembah kecuali Engkau. Kau Maha Kaya. Sementara kami membutuhkan-Mu. Maka turunkanlah hujan kepada kami. Jadikanlah apa yang telah Kau turunkan sebagai kekuatan dan bekal bagi kami sampai hari yang ditetapkan." (HR Abu Dawud).

Doa ini merupakan salah satu doa istisqa’ (meminta hujan) yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Bagian awalnya adalah potongan dari surat Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan pengakuan tauhid, pengakuan kebutuhan manusia terhadap Allah, dan permohonan turunnya hujan yang bermanfaat.

 

5. Doa Saat Cuaca Panas Riwayat Ibnu Sunni

 لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ مَا أَشَدَّ حَرُّ هَذَا الْيَوْمِ اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنْ حَرِّ جهَنَّمَ

Latin: Laa ilaaha illallaahu wahdahu, maa asyadda harru haadzal yaum, allahumma ajirni min harri jahannama.

Artinya: "Tidak ada Tuhan, kecuali Allah Yang Maha Esa. Alangkah panasnya hari ini. Ya Allah, lindungi aku dari panasnya api neraka." (HR Ibnu Sunni).

Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi SAW bersabda:

"Jika seseorang berkata pada hari yang sangat panas:'Laa ilaaha illallaahu wahdahu, maa asyadda harr hadzal yaum, Allahumma ajirni min harri Jahannam'Maka Allah berfirman kepada Jahannam:'Sesungguhnya seorang hamba-Ku memohon perlindungan kepada-Ku dari panasmu. Maka lindungilah dia.'"

Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar menyebutkan doa ini dalam bab dzikir-dzikir harian dan membolehkan mengamalkannya, meski sanadnya lemah, karena termasuk doa permohonan perlindungan yang maknanya baik.

 

6. Doa agar Panas Tidak Terlalu Terik (Doa Nabi Idris AS)

يَا رَبِّ أَنَا مَشِيْتَ يَوْمًا فَكَيْفَ بِمَنْ يَحْمِلُهَا خَمْسَمِائَةَ عَامٍ فِي يَوْمِ وَاحِدٍ، اَللَّهُمَّ خَفِّفْ عَنْهُ مِنْ ثَقْلِهَا اَللَّهُمَّ خَفِّفْ عَنْهُ مِنْ ثَقْلِهَا وَاحْمِلْ عَنْهُ مِنْ حَرِّهَا

Latin: "Yaa rabb ana masyiitu yauman fakaifa biman yahmiluhaa khamsamiati 'aamin fii yaumi waahidin. Allahumma khaffif 'anhu min tsaqlihaa. Allahumma khaffif 'anhu min tsaqlihaa wahmil 'anhu min harrihaa.

Artinya: "Ya Tuhanku, aku berjalan seharian, maka bagaimana seandainya seseorang yang mengatur perjalanan matahari selama lima ratus tahun menjadi sehari saja. Ya Allah Tuhanku, ringankanlah berat matahari daripadanya. Ya Allah Tuhanku, lambatkanlah peredaran matahari dan aku dapat menahan terik panasnya matahari." (Doa Nabi Idris AS, dinukil dari Tafsir Qurtubi).

Kisah dan doa ini bukan berasal dari hadis shahih yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW, melainkan dari israiliyyat (riwayat Ahli Kitab). Ulama tafsir seperti Imam Al-Qurthubi, Ibnu Katsir, dan At-Thabari sering mengutip israiliyyat untuk memperkaya penjelasan, namun mereka selalu mengingatkan agar tidak meyakininya sepenuhnya kecuali jika sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan kisah ini untuk menunjukkan kesabaran dan ketabahan Nabi Idris AS dalam menghadapi ujian, serta doanya yang penuh adab dan pengakuan atas kelemahan manusia di hadapan kekuasaan Allah.

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menegaskan bahwa kisah-kisah israiliyyat tidak boleh diyakini kebenarannya secara mutlak, kecuali ada dalil syar’i yang menguatkan. Sementara, Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya sering mengutip israiliyyat, namun beliau juga mengingatkan agar lebih mengutamakan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah.

7. Doa Nabi Isa

اللّٰهُمَّ رَبَّنَآ اَنْزِلْ عَلَيْنَا مَاۤىِٕدَةً مِّنَ السَّمَاۤءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا لِّاَوَّلِنَا وَاٰخِرِنَا وَاٰيَةً مِّنْكَ وَارْزُقْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

Latin: Allāhumma rabbanā anzil 'alainā mā'idatam minas-samā'i takūnu lanā 'īdal li'awwalinā wa ākhirinā wa āyatam minka warzuqnā wa anta khairur-rāziqīn(a).

Artinya: "Ya Allah Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu. Berilah kami rezeki. Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki." (Doa Nabi Isa AS dalam QS Al-Maidah: 114.

Doa Nabi Isa AS dalam QS Al-Maidah: 114 adalah permohonan mukjizat dan rezeki dari Allah, yang dijadikan hari raya sebagai bentuk syukur dan pengakuan atas kekuasaan Allah. Para ulama menegaskan bahwa doa ini mengajarkan adab, tawadhu’, dan pentingnya bersyukur atas nikmat Allah.

 

8. Doa Istisqa Seekor Semut

doa istisqa seekor semut di zaman Nabi Sulaiman As sesuai dengan cerita Rasulullah saw dalam riwayat Imam Ahmad.

اَللَّهُمَّ إِنَّا خَلْقٌ مِنْ خَلْقِكَ، لَيْسَ بِنَا غِنًى عَنْ سُقْيَاكَ

Latin: Allāhumma innā khalqun min khalqika, laysa binā ghinan ‘an suqyāka.

Artinya: Ya Allah, kami adalah salah satu makhluk-Mu. Kami tidak dapat berlepas ketergantungan dari anugerah air-Mu (HR Ahmad).

Meski hanya doa seekor semut, Nabi Sulaiman As bersama rakyatnya membatalkan rencana istisqa karena Nabi Sulaiman As merasakan keistimewaan doa tersebut. Riwayat ini secara lengkap dapat dibaca pada hadits berikut:

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bercerita, ‘Nabi Sulaiman As pernah melakukan ibadah istisqa, tetapi ia melihat seekor semut berposisi telentang dan mengangkat tangan dan kakinya sambil berdoa, ‘Ya Allah, kami adalah salah satu makhluk-Mu. Kami tidak dapat berlepas ketergantungan dari anugerah air-Mu.’ Menyaksikan ini, Nabi Sulaiman As mengatakan kepada rakyatnya, ‘Mari kita pulang, kalian telah di(mintakan)anugerahkan air oleh doa makhluk hidup selain kalian (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Imam Al-Hakim).

 

9. Istighfar Cuaca Panas

Meski sebenarnya semua lafal istighfar baik, namun dalam konteks cuaca panas berikut ini adalah lafal istighfar alternatif yang perlu dibaca sebanyak-banyaknya:

Lafal istighfar ini diambil dari pembukaan khutbah istisqa menurut Madzhab Syafi’i.

أَسْتَغفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Latin: Astaghfirullahal azhim, la ilaha illa huwal hayyul qayyum, wa atubu ilaihi.

Artinya: Aku meminta ampun kepada Allah yang Maha Agung. Tiada tuhan selain Dia yang Maha Hidup dan Maha Tegak. Aku bertobat kepada-Nya.

Dalam Al-Qur’an, Allah mengaitkan istighfar dengan datangnya hujan dan kebaikan alam. Allah berfirman:

"Maka aku (Nuh) berkata (kepada mereka): ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.’"(QS. Nuh: 10-11).

Imam al-Qurthubi dan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan, ayat ini menunjukkan bahwa istighfar menjadi sebab turunnya hujan, diangkatnya kesulitan, dan dihilangkannya bencana seperti panas ekstrem atau kekeringan.

Hikmah Berdoa Saat Cuaca Panas

Berikut hikmah berdoa saat cuaca panas beserta penjelasannya menurut pandangan ulama dan nilai-nilai Islam:

1. Menyadari Keterbatasan dan Kelemahan Manusia

Berdoa saat cuaca panas mengingatkan manusia bahwa mereka lemah dan tidak mampu mengendalikan alam. Hanya Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk perubahan cuaca. Ini menumbuhkan sikap tawadhu’ (rendah hati) dan tidak sombong terhadap kemampuan diri.

2. Mengingatkan Akan Dahsyatnya Panas Neraka

Panas dunia adalah gambaran kecil dari panasnya api neraka. Dengan berdoa, seorang Muslim diingatkan untuk berlindung dari panas neraka, memperbanyak istighfar, dan meningkatkan ketakwaan. Nabi SAW mengaitkan panas dunia dengan hembusan neraka Jahannam (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Memperkuat Tauhid dan Ketergantungan kepada Allah

Berdoa saat cuaca panas mempertegas bahwa hanya Allah yang dapat mengubah keadaan dan menurunkan rahmat-Nya. Ini memperkuat tauhid (keyakinan kepada keesaan Allah) dan mengajarkan untuk selalu bergantung kepada-Nya dalam segala kondisi.

4. Melatih Kesabaran dan Syukur

Cuaca panas adalah ujian. Dengan berdoa, seseorang belajar bersabar menghadapi ujian dan tetap bersyukur atas nikmat Allah yang lain. Kesabaran ini merupakan salah satu sifat mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam.

5. Mendekatkan Diri kepada Allah

Setiap ujian atau kesulitan, termasuk cuaca panas, adalah momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui doa, dzikir, dan istighfar. Ini adalah sarana untuk memperbanyak amal saleh dan meningkatkan kualitas ibadah.

6. Menyadari Hikmah dan Tanda Kekuasaan Allah

Fenomena alam seperti panas ekstrem adalah tanda-tanda kekuasaan Allah (ayat kauniyah). Dengan berdoa, manusia diajak untuk merenung, mengambil pelajaran, dan tidak sekadar mengeluh, tetapi mengagumi kebesaran Allah.

7. Sebagai Sarana Memohon Perlindungan dan Rahmat

Dengan berdoa, seorang Muslim memohon agar Allah meringankan panas, menurunkan hujan, atau melindungi dari mudarat panas. Ini sesuai dengan ajaran para Nabi yang memohon pertolongan Allah saat menghadapi kesulitan alam.

People also Ask:

1. Apa doa ketika kita kepanasan?

Allahumma Ajirnaa min harri jahannama yaa Ghaafira ad-dzanb, wa Qaabila at-taubah, Ya Ghafuur, Ya Rahiim. Artinya: "Ya Allah, ringankanlah dari kami dan kaum muslimin. Ya Allah, selamatkan kami dari bahaya panas ini, lindungilah kami dari panas ini dan dari penyakit yang dibawanya.

2. Allahumma ajirna minhari jahanam doa apa?

"Allahumma ajirna min harri jahanam" adalah doa yang berarti "Ya Allah, hindarkan kami dari panasnya neraka Jahanam". Doa ini dibaca untuk memohon perlindungan dari siksa api neraka, dan juga dibaca saat cuaca panas sebagai bentuk pengharapan agar dijauhkan dari azab neraka di hari kiamat, demikian dikutip dari TikTok dan Media Indonesia. Doa ini dapat dibaca secara khusus setelah salat, terutama salat Subuh dan Maghrib, dengan diulang sebanyak tujuh kali.

3. Badan panas baca surat apa?

Imam An-Nawawi menganjurkan orang-orang yang sedang mengalami penyakit ringan itu membaca Surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas untuk kemudian ditiupkan pada kedua tangan, lalu diusapkan pada semua bagian tubuh, khususnya organ tubuh yang sakit.

4. Kapan waktu baca Allahumma ajirna minannar?

Bacaan "Allahumma ajirni minannar" dibaca tujuh kali setelah Shalat Subuh dan tujuh kali setelah Shalat Maghrib, sebelum berbicara dengan orang lain. Manfaatnya, jika seseorang meninggal pada hari itu (setelah Subuh) atau pada malam itu (setelah Maghrib), ia akan dilindungi dari api neraka oleh Allah.