Liputan6.com, Jakarta - Upacara tedak sinten menandai momen penting ketika seorang anak pertama kali menginjakkan kaki ke tanah. Di dalamnya terkandung harapan dan doa turun tanah dari orang tua untuk masa depan sang buah hati, memohon agar ia tumbuh kuat dan mandiri.
Tedak Siten tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga merupakan bentuk bimbingan orang tua kepada anaknya dalam meniti kehidupan. Melalui setiap prosesinya, tradisi ini mengajarkan nilai-nilai kemandirian, tanggung jawab, dan ketangguhan.
Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Rabu (24/9/2025).
Advertisement
Doa Turun Tanah atau Tedak Siten dalam Perspektif Islam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4280693/original/049246900_1672761550-attahalilintar_308586858_792025192114063_4219705340713963624_n.jpeg)
Dalam ajaran Islam, tidak ada doa khusus yang secara spesifik disebut sebagai "doa turun tanah" atau "doa tedak sinten" yang merupakan bagian dari ritual adat Jawa. Namun, orang tua dapat memanjatkan doa-doa umum untuk memohon kekuatan dan kemudahan bagi anak agar cepat berjalan dan tumbuh kembang dengan baik.
Salah satu doa yang dapat dipanjatkan adalah dengan menyebut nama-nama Allah SWT yang termasuk dalam Asmaul Husna, yaitu Al-Qawi dan Al-Matin. Doa ini diambil dari buku 99 Kisah Asmaul Husna untuk Membangun Karakter Anak oleh Syafi’ie el-Bantanie dan Andri Agus Fabianto (2009).
Bacaan doa tersebut adalah:
يَا قَوِيُّ يَا مَتِيْنُ
(Yaa Qawiyyu, Yaa Matiinu).
Doa ini memiliki arti "Ya Allah, Yang Maha Kuat dan Maha Kokoh".
Memanjatkan doa ini merupakan bentuk tawakal kepada Tuhan, memohon kelancaran dan kemudahan bagi si kecil dalam mencapai fase perkembangannya.
Makna doa ini adalah mengimani Allah sebagai Yang Maha Kuat dan Kokoh, serta memohon agar Allah SWT juga menguatkan anak dalam belajar berjalan. Dengan demikian, orang tua berharap anak diberikan kekuatan fisik dan mental untuk menapaki setiap tahapan tumbuh kembangnya.
Advertisement
Makna Tradisi Tedak Siten
Tedak Siten, atau sering juga disebut upacara turun tanah, adalah tradisi adat Jawa yang diselenggarakan saat bayi pertama kali menginjakkan kakinya ke bumi. Istilah "Tedak" berarti turun atau menapakkan kaki, dan "Siten" berasal dari kata "Siti" yang berarti tanah atau bumi.
Upacara ini umumnya dilaksanakan ketika anak berusia tujuh lapan kalender Jawa, yang setara dengan sekitar delapan bulan kalender Masehi, yaitu saat anak mulai belajar duduk dan berjalan.
Tradisi ini merupakan wujud syukur orang tua kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia buah hati dan sebagai bentuk penghormatan kepada bumi sebagai tempat anak mulai belajar menapakkan kakinya.
Seperti dijelaskan dalam kebudayaan.jogjakota.go.id, "Tedhak Siten berasal dari kata Tedhak berarti turun (menapakkan kaki) dan Siten atau Siti yang artinya tanah, sehingga Tedhak Siten merupakan tradisi menginjakkan atau menapakkan kaki ke tanah bagi seorang anak."
Selain itu, Tedak Siten juga menyimbolkan bimbingan orang tua kepada anaknya dalam meniti kehidupan. Harapannya agar anak kelak menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan mampu menghadapi berbagai tantangan hidup. Tradisi ini juga mencerminkan kesiapan anak untuk menghadapi masa depan dengan restu dan doa turun tanah dari keluarga.
Rangkaian Prosesi Adat Tedak Siten
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4233109/original/082153800_1668987248-thepotomoto_316351995_523734092944303_2119199447369848162_n.jpg)
Prosesi Tedak Siten memiliki beberapa tahapan utama yang sarat makna simbolis. Urutan prosesi ini dapat bervariasi di setiap daerah, namun umumnya meliputi langkah-langkah berikut:
- Membersihkan Kaki. Orang tua menggendong anaknya untuk dicuci bersih kakinya sebelum menginjakkan kaki ke tanah. Prosesi ini melambangkan kesucian hati yang diperlukan anak saat memulai menapaki kehidupannya.
- Berjalan Melewati Tujuh Jadah. Anak dituntun untuk berjalan di atas jadah (sejenis kue dari beras ketan) sebanyak tujuh buah dengan warna yang berbeda-beda. Tujuh warna jadah melambangkan berbagai kesulitan dan rintangan hidup yang akan dihadapi anak.
- Menaiki Tangga dari Tebu Wulung. Anak diajak orang tua untuk menaiki tujuh tangga yang terbuat dari batang tebu. Tebu berasal dari kata "antebing kalbu" yang berarti penuh tekad dan rasa percaya diri.
- Memasuki Kurungan. Anak dimasukkan ke dalam sangkar atau kurungan ayam yang di dalamnya terdapat berbagai benda seperti perhiasan, buku tulis, beras, dan mainan. Kurungan ayam melambangkan kehidupan nyata yang akan dimasuki anak kelak saat dewasa.
- Memandikan Anak. Anak dimandikan dengan air yang diberi bunga, yang diambil oleh kedua orang tua pada waktu tertentu. Maknanya adalah agar kelak si bayi dapat mengharumkan nama keluarga dan dirinya sendiri.
- Memberikan Udhik-udhik. Udhik-udhik, yaitu uang logam yang dicampur dengan bermacam-macam bunga, disebar dan dibagikan kepada anak-anak dan orang dewasa yang hadir. Harapannya agar kelak si anak memiliki sifat dermawan.
Setiap tahapan dalam upacara ini merupakan bentuk doa dan harapan orang tua. Hal ini selaras dengan penelitian dalam Al-Qawaid: Journal of Islamic Family Law (2023) yang menyebutkan bahwa tradisi Tedhak Siten memiliki makna pembentukan karakter anak dan nilai positif untuk kebaikan anak dari orang tua dalam meraih cita-cita.
Advertisement
Makna Simbolis dalam Setiap Prosesi Tedak Siten
Setiap tahapan dalam upacara Tedak Siten mengandung makna simbolis yang mendalam, mencerminkan harapan dan doa orang tua untuk kehidupan anaknya. Prosesi ini dirancang untuk memberikan bimbingan moral dan spiritual sejak dini.
- Membersihkan Kaki: Prosesi ini melambangkan kesucian hati yang diperlukan anak saat memulai menapaki kehidupannya. Ini adalah simbol awal yang bersih untuk perjalanan hidup yang panjang.
- Berjalan Melewati Tujuh Jadah: Tujuh warna jadah (merah, putih, hijau, kuning, biru, merah jambu, dan ungu) melambangkan berbagai kesulitan dan rintangan hidup yang akan dihadapi anak. Angka tujuh dalam bahasa Jawa disebut "pitu", yang diharapkan anak akan selalu mendapat "pitulungan" atau pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
- Tangga dari Tebu Wulung: Tebu berasal dari kata "antebing kalbu" yang berarti penuh tekad dan rasa percaya diri. Ritual ini menggambarkan bahwa bayi akan menghadapi perjalanan hidupnya hari demi hari sampai pada puncaknya, dengan dukungan keluarga.
- Kurungan: Kurungan ayam melambangkan kehidupan nyata yang akan dimasuki anak kelak saat dewasa. Benda-benda di dalamnya, seperti perhiasan, buku, atau mainan, menggambarkan profesi atau minat yang ingin dijalani anak di masa depan.
- Memandikan Anak: Maknanya adalah agar kelak si bayi dapat mengharumkan nama keluarga dan dirinya sendiri, menjadi anak yang membanggakan. Ini juga simbol pembersihan diri dari hal-hal negatif.
- Memberikan Udhik-udhik: Harapannya agar kelak si anak, jika dikaruniai rezeki yang cukup, dapat mendermakan rezekinya kepada fakir miskin dan memiliki sifat dermawan.
Makna-makna ini menunjukkan betapa kaya tradisi Tedak Siten dengan nilai-nilai luhur yang ingin ditanamkan orang tua kepada anaknya. Setiap gerakan dan benda memiliki arti yang mendalam.
Tips Mendukung Perkembangan Motorik Anak agar Cepat Berjalan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4364620/original/072251300_1679283616-riaricis1795_336246647_911860116726305_8820902965734300224_n.jpg)
Selain memanjatkan doa turun tanah atau tedak sinten, usaha nyata dari orang tua sangat penting untuk mendukung perkembangan motorik anak agar cepat berjalan. Dukungan ini mencakup aspek fisik, emosional, dan lingkungan.
Buku Panduan Perkembangan Anak 0 sampai 1 Tahun karya dr. Danis Widyastuti dan dr. Rr. Retno Widyani (2007) memberikan beberapa tips penting.
- Beri Pujian dan Motivasi. Berikan senyum dan pujian setiap kali anak mencapai kemajuan, baik itu merangkak, berdiri, maupun berjalan. Afirmasi positif akan memberi semangat pada bayi untuk terus mencoba dan belajar.
- Jangan Panik jika Anak Jatuh. Jatuh adalah hal yang tidak bisa dihindari saat bayi belajar berjalan. Bantu si kecil bangkit kembali dan hibur mereka. Pastikan lingkungan aman dengan melakukan baby proofing untuk mengurangi risiko cedera serius.
- Beri Mainan Dorong. Berikan mainan yang bisa didorong untuk memancing anak berjalan. Anak memiliki kecenderungan suka mendorong benda, dan mainan ini dapat menjadi alat bantu yang efektif untuk melatih keseimbangan dan koordinasi.
- Lingkungan yang Baik. Anak memerlukan dukungan lingkungan yang baik, termasuk sirkulasi udara yang sehat, orang tua yang suportif, gizi maksimal, dan kesehatan orang-orang di sekitar. Lingkungan yang positif akan mempercepat proses belajar anak.
Melalui kombinasi doa dan upaya praktis ini, orang tua dapat memberikan fondasi terbaik bagi perkembangan motorik anak. Hal ini memastikan anak tumbuh dengan optimal dan siap menghadapi setiap tahapan kehidupannya.
Advertisement
FAQ (Frequently Asked Questions)
Apa itu Tedak Siten?
Tedak Siten adalah tradisi adat Jawa saat bayi pertama kali menapakkan kakinya ke tanah, melambangkan awal perjalanan hidup dan doa orang tua untuk anak.
Kapan biasanya Tedak Siten dilakukan?
Upacara ini umumnya dilakukan saat anak berusia sekitar delapan bulan kalender Masehi, saat mulai belajar duduk dan berjalan.
Apa makna doa dalam Tedak Siten?
Doa menjadi wujud harapan orang tua agar anak tumbuh kuat, mandiri, dan sukses menapaki hidupnya. Dalam perspektif Islam, doa umum seperti Asmaul Husna dapat dipanjatkan.
Apa saja prosesi utama Tedak Siten?
Prosesi meliputi membersihkan kaki, berjalan melewati tujuh jadah, menaiki tangga tebu, memasuki kurungan, memandikan anak, dan memberikan udhik-udhik.
Apa makna simbolis setiap prosesi?
Setiap tahapan melambangkan nilai seperti kesucian hati, kesiapan menghadapi rintangan hidup, tekad, penghargaan terhadap kehidupan nyata, dan sifat dermawan.
Bagaimana cara mendukung anak agar cepat berjalan?
Dukung dengan pujian, motivasi, mainan dorong, lingkungan aman, gizi seimbang, dan kesabaran saat anak jatuh.
Apakah pelaksanaan Tedak Siten sama di semua daerah?
Ritual inti sama, tapi ada variasi prosesi, sesaji, dan pakaian adat sesuai kearifan lokal masing-masing daerah.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5567468/original/050020200_1777282004-cek_fakta_alsintan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4536545/original/069114500_1691974925-cek_fakta_satir_ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299087/original/053914000_1784192454-cek_fakta_-_Sherly_Tjoanda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4691763/original/031604000_1702982141-Serangan_macan_tutul_melukai_tiga_orang_di_Guwahati-AP__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4364618/original/043171800_1679283616-riaricis1795_336292260_914892513160524_641674375393219566_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298637/original/010650700_1784178420-INGGRIS_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5519344/original/095709500_1772548220-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287272/original/017051900_1783206951-pra1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299397/original/073517100_1784250863-000_B6Z433V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290280/original/032335300_1783446810-063_2285091355.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299067/original/052484900_1784191879-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298224/original/042744300_1784155877-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4887995/original/062540200_1720596126-AP24190447290414.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264050/original/062227400_1782063258-063_2282639788.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298238/original/090944000_1784161387-messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4893064/original/098068400_1721122752-FotoJet.jpg)