Doa Buka Puasa Sunnah Arab dan Artinya yang Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

Temukan panduan lengkap mengenai doa buka puasa sunnah, mulai dari bacaan Arab, Latin, dan artinya, hingga waktu terbaik membacanya dan keutamaan yang terkandung di dalamnya.

Diterbitkan 04 September 2025, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Puasa sunnah merupakan amalan ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam, mengikuti teladan Rasulullah SAW. Salah satu momen penting dalam ibadah puasa sunnah adalah saat berbuka, di mana umat Muslim dianjurkan untuk membaca doa buka puasa sunnah ini.

Membaca doa buka puasa sunnah adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan setelah menahan lapar dan dahaga seharian. Puasa sunnah dikerjakan umat Muslim sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

Mengutip dari buku Panduan Praktis Menjalankan Puasa Sunnah karya Siti Nur Aidah dan Tim Penerbit KBM Indonesia (2021), pengertian puasa sunnah adalah jenis puasa yang jika dikerjakan akan mendapat pahala dan jika tidak dikerjakan tidak akan mendapat dosa ataupun pahala.

Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Kamis (4/8/2025).

Bacaan Doa Buka Puasa Sunnah: Arab, Latin, dan Artinya

Bacaan doa buka puasa sunnah memiliki beberapa versi yang diajarkan dalam Islam, yang semuanya bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur dan permohonan kepada Allah SWT. Berikut adalah beberapa versi doa buka puasa yang umum diamalkan:

  1. Riwayat Sahabat Mu'adz bin Zuhrah

    Doa ini merupakan salah satu doa yang paling sering digunakan dan diajarkan.

    Arab: اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

    Latin: Allahumma laka shumtu wa 'ala rizqika afthartu

    Artinya: "Ya Allah hanya untuk-Mu kami berpuasa dan atas rezeki yang Engkau berikan kami berbuka."

  2. Riwayat Sahabat Abdullah bin 'Umar

    Doa ini sering dibaca bersamaan dengan doa riwayat Mu'adz bin Zuhrah, terutama ketika berbuka dengan air. Doa ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam hadis nomor 2537 dan disepakati sahih.

    Arab: ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

    Latin: Dzahabadzh dzhama-u wabtallatil-'uruqu wa tsabatal-ajru insyaa-Allah

    Artinya: "Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala tetap, insyaallah."

  3. Kombinasi Doa dalam Kitab Fathul Mu'in

    Dalam Kitab Fathul Mu'in juz 2 halaman 279, dijelaskan bahwa doa sesuai lafal Mu'adz bin Zuhrah adalah yang utama, dan lafal Abdullah bin Umar ditambahkan jika berbuka dengan air.

    Arab: وَيُسَنُّ أَنْ يَقُوْلَ عَقِبَ الْفِطْرِ: اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ وَيَزِيْدُ - مَنْ أَفْطَرَ بِالْمَاءِ -: ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.

    Artinya: "Disunnahkan membaca doa setelah selesai berbuka 'Allahumma laka shumtu wa 'ala rizqika aftharthu' dan bagi orang yang berbuka dengan air ditambahkan doa: 'Dzahabadzh dzhama-u wabtallatil-'uruqu wa tsabatal-ajru insyaa-Allah'."

  4. Doa dalam Hasyiyah Iqna oleh Sulaiman Bujairimi

    Versi doa ini lebih panjang dan mencakup permohonan ampunan.

    Arab: اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَبِكَ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ. ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شاءَ اللهُ. يا وَاسِعَ الفَضْلِ اِغْفِرْ لِي الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي هَدَانِي فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ

    Latin: Allahumma laka shumtu wa 'ala rizqika afthartu, wa bika amantu, wa bika 'alaika tawakkalatu, dzahabadzh dzhama-u wabtalatil-'uruqu wa tsabatal-ajru insyaa-Allah. Ya wasi'al-fadhli ighfirli alhamdulillahilladzi hadani fashumtu, wa razaqani fa-afthartu.

    Artinya: "Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berpuasa. Dengan rezeki-Mu aku membatalkannya. Kepada-Mu aku berpasrah. Dahaga telah pergi. Urat-urat telah basah dan Insyaallah pahala sudah tetap. Wahai Dzat Yang Luas Karunia, ampuni aku. Segala puji bagi Tuhan yang memberi petunjuk padaku, lalu aku berpuasa. Dan segala puji Tuhan yang memberiku rezeki, lalu aku membatalkannya."

  5. Doa Populer (Da'if namun Tidak Bertentangan)

    Meskipun status hadisnya da'if (lemah), doa ini populer di masyarakat dan tetap bisa dibacakan karena tidak bertentangan dengan nilai-nilai Al-Qur'an, hadis sahih, dan hukum Islam lainnya.

    Arab: اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

    Latin: Allahumma laka shumtu wabika amantu wa 'ala rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar rahimin

    Artinya: "Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan kepada-Mu aku beriman, dengan rizqi-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu, wahai Dzat yang Maha Penyayang."

Kapan Waktu Membaca Doa Buka Puasa Sunnah?

Waktu yang paling tepat untuk membaca doa buka puasa sunnah adalah setelah selesai berbuka puasa, bukan sebelum atau saat berbuka. Hal ini dijelaskan dalam beberapa kitab dan pandangan ulama.

Mengutip dari Hasyiyah I'anah at-Thalibin juz 2 halaman 279 oleh Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha, disebutkan bahwa maksud dari membaca doa buka puasa "setelah berbuka" adalah selesainya berbuka puasa, bukan dibaca sebelumnya dan bukan saat berbuka.

Penempatan doa berbuka puasa yang dilakukan setelah berbuka sesuai dengan makna yang terkandung dalam doa tersebut, khususnya pada doa riwayat Abdullah bin Umar yang menggunakan kata "telah hilang dahaga" dan "telah basah urat-urat".

Wahba Zuhaili dalam Fiqh al-Islam wa Aditullah juga berpendapat bahwa salah satu sunnah puasa adalah berdoa setelah berbuka. Meskipun demikian, kebiasaan membaca doa sebelum berbuka tetap dibolehkan, namun diutamakan setelah berbuka sebagai bentuk kesempurnaan sunnah (Kamal al-Sunnah).

Keutamaan Membaca Doa Buka Puasa

Membaca doa buka puasa memiliki banyak keutamaan dan manfaat spiritual bagi umat Muslim. Ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah ibadah yang mendalam.

  1. Doa yang Mustajab

    Salah satu keutamaan utama adalah bahwa doa orang yang berpuasa, terutama saat berbuka, adalah doa yang mustajab atau mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Dalam hadis riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ada doa yang tidak tertolak saat berbuka." (HR. Abu Dawud). Senada, HR. Tirmidzi (no. 2525) menyebutkan, "Orang yang berpuasa memiliki doa yang mustajab ketika berbuka."

  2. Bentuk Rasa Syukur

    Membaca doa buka puasa adalah wujud rasa syukur kepada Allah atas nikmat makanan dan minuman setelah menahan diri seharian. Puasa mengajarkan kesabaran, dan saat berbuka, umat Islam diingatkan untuk bersyukur atas nikmat-Nya, sebagaimana disebutkan oleh Baznas.go.id.

  3. Mendekatkan Diri kepada Allah

    Dengan membaca doa berbuka, seorang Muslim menunjukkan bahwa ia menyadari bahwa segala sesuatu yang ia dapatkan berasal dari Allah SWT. Ini adalah salah satu sunnah yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya, menurut informasi dari Baznas.go.id.

  4. Mendapatkan Pahala Besar

    Mengamalkan doa buka puasa sesuai sunnah tidak hanya menambah keberkahan dalam ibadah, tetapi juga memberikan pahala yang besar bagi yang mengamalkannya. Menurut Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, bacaan buka puasa sangat dianjurkan untuk dibaca sebagai bentuk rasa syukur.

Jenis-Jenis Puasa Sunnah dan Waktu Pelaksanaannya

Selain puasa wajib Ramadan, terdapat berbagai jenis puasa sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, masing-masing dengan keutamaan dan waktu pelaksanaannya sendiri. Mengamalkan puasa sunnah ini dapat menjadi ladang pahala tambahan bagi umat Muslim.

  1. Puasa Senin-Kamis

    Puasa ini dilakukan setiap hari Senin dan Kamis. Dari Aisyah, Rasulullah memilih waktu puasa hari Senin dan hari Kamis (HR. At-Tirmidzi).

    Niat puasa Senin: Nawaitu sauma gadin fi yaumil-isnaini sunnatal lillāhi ta'ālā. (Artinya: "Saya niat puasa besok pada hari Senin sunnah karena Allah Ta'ala.")

    Niat puasa Kamis: Nawaitu sauma gadin fi yaumil-khamisi sunnatan lillāhi ta'ālā. (Artinya: "Saya niat puasa besok pada hari Kamis sunnah karena Allah Ta'ala.")

  2. Puasa Tarwiyah

    Dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, sehari sebelum Hari Arafah.

    Niat puasa Tarwiyah: Nawaitu shauma tarwiyyata sunnatan lillaahi ta'aalaa. (Artinya: "Saya niat berpuasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta'ala.")

  3. Puasa Arafah

    Dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, bagi yang tidak menunaikan ibadah haji. Dari Abu Qatadah, Rasulullah bersabda, "Puasa hari Arafah itu menghapuskan dosa dua tahun, yaitu satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang." (HR. Muslim)

    Niat puasa Arafah: Nawaitu sauma gadin fi yaumi 'arafata sunnatan lillāhi ta'ala. (Artinya: "Saya niat puasa besok pada hari Arafah sunnah karena Allah Ta'ala.")

  4. Puasa Syawal

    Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Idul Fitri. Dari Abu Ayyub, Rasulullah bersabda, "Barang siapa puasa dalam bulan Ramadaan, kemudian ia mengikutinya dengan puasa pula enam hari dalam bulan Syawal, adalah seperti puasa sepanjang masa." (HR. Muslim)

    Niat puasa Syawal: Nawaitu sauma gadin fi syahrisy-syawwali sunnatan lillāhi ta'ala. (Artinya: "Saya niat puasa besok pada bulan Syawal sunnah karena Allah Ta'ala.")

  5. Puasa Tasu'a

    Dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram, untuk membedakan dengan puasa Yahudi.

    Niat puasa Tasu'a: Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati taasuu’aa sunnatan lillahi ta’ala. (Artinya: "Saya niat puasa sunnah Tasua esok hari karena Allah Ta'ala.")

  6. Puasa Asyura

    Dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram, memiliki keutamaan menghapus dosa setahun yang lalu. Dari Abu Qatadah, Rasulullah bersabda, "Puasa hari Asyura' itu menghapuskan dosa satu tahun (yang telah lalu)." (HR. Nasai)

    Niat puasa Asyura: Nawaitu sauma gadin fi yauma 'äsyūrā 'a sunnatan lillāhi ta'ala. (Artinya: "Saya niat puasa Asyura, sunnah karena Allah Ta'ala.")

  7. Puasa Sya'ban

    Puasa yang banyak dilakukan Rasulullah di bulan Sya'ban. Dari Aisyah, "Saya tidak melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh selain dalam bulan Ramadan, dan saya tidak melihat beliau dalam bulan-bulan yang lain berpuasa lebih banyak daripada bulan Sya'ban." (HR. Muslim)

    Niat puasa Sya'ban: Nawaitu sauma gadin min syahri sya'ban sunnatal lillāhi ta'ala. (Artinya: "Saya niat berpuasa besok dari bulan Sya'ban sunnah karena Allah Ta'ala.")

  8. Puasa Ayyamul Bidh (Abyad)

    Puasa tiga hari setiap bulan pada tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah. Dari Abu Dzar, Rasulullah bersabda, "Hai Abu Dzar, apabila engkau hendak puasa hanya tiga hari dalam satu bulan, hendaklah engkau puasa tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriah)." (HR. Tirmidzi)

    Niat puasa Abyad: Nawaitu sauma gadin 'an ada 'i sunnatan ayyāmal bīḍi lillāhi ta'alā. (Artinya: "Saya niat puasa besok untuk menunaikan puasa sunnah hari-hari putih karena Allah Ta'ala.")

Tata Cara Berbuka Puasa yang Benar Sesuai Sunnah

Selain membaca doa buka puasa sunnah, ada beberapa adab dan tata cara berbuka puasa yang dianjurkan dalam Islam untuk mendapatkan keberkahan yang lebih sempurna.

  • Menyegerakan Berbuka

    Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk segera berbuka begitu waktu Maghrib tiba. Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda: "Umatku akan tetap berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." (HR. Bukhari, no. 1957).

  • Berbuka dengan Kurma atau Air

    Sunnah Rasulullah SAW adalah berbuka dengan kurma, jika tidak ada, maka dengan air. Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah SAW berbuka dengan kurma basah sebelum melaksanakan salat Maghrib.

  • Membaca Doa Buka Puasa
  • Tidak Berlebihan dalam Makan dan Minum

    Meskipun lapar dan haus, umat Islam dianjurkan untuk makan dan minum secukupnya agar tidak kekenyangan dan tetap bisa menjalankan ibadah malam dengan baik. Ini juga merupakan adab yang dianjurkan dalam Islam, seperti yang disampaikan oleh Baznas.go.id.

Daftar Sumber

  • Al-Adzkar | Imam Nawawi
  • Fiqh al-Islam wa Aditullah | Wahba Zuhaili
  • Hasyiyah I'anah at-Thalibin | Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha
  • Hasyiyah Iqna | Sulaiman Bujairimi
  • Kitab Fathul Mu'in
  • Panduan Praktis Menjalankan Puasa Sunnah | Siti Nur Aidah dan Tim Penerbit KBM Indonesia | 2021
  • Baznas.go.id 
  • Kemenag RI Sulawesi Barat 

FAQ

1. Apa itu puasa sunnah?

Puasa sunnah adalah ibadah tambahan yang jika dikerjakan mendapat pahala, tetapi jika ditinggalkan tidak berdosa.

2. Kapan waktu membaca doa buka puasa sunnah?

Doa dibaca setelah berbuka, bukan sebelum atau saat berbuka.

3. Apa bacaan doa buka puasa sunnah yang umum?

Salah satunya: Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu (Artinya: Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka).

4. Apa keutamaan membaca doa buka puasa?

Doanya mustajab, menjadi wujud syukur, mendekatkan diri kepada Allah, dan menambah pahala.

5. Apa saja jenis puasa sunnah yang dianjurkan?

Antara lain puasa Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, Syawal, Arafah, Asyura, Tasua, Tarwiyah, dan Sya’ban.

6. Bagaimana tata cara berbuka puasa sesuai sunnah?

Menyegerakan berbuka, diawali dengan kurma atau air, membaca doa, lalu makan secukupnya tanpa berlebihan.

7. Apakah doa berbuka boleh dibaca sebelum makan?

Boleh, namun lebih utama dibaca setelah berbuka sesuai sunnah Rasulullah SAW.