Liputan6.com, Jakarta Mengetahui cara wudhu yang benar merupakan fondasi penting dalam menjalankan ibadah sholat yang sah dan diterima oleh Allah SWT. Wudhu bukan sekadar membasuh anggota tubuh dengan air, melainkan bagian dari penyucian diri secara lahir dan batin. Dalam Islam, wudhu menjadi syarat sah sholat, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah ayat 6 yang bunyinya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.”
Advertisement
Dalam Buku Fikih Ibadah Harian karya Muhammad Al-Arifi, dijelaskan bahwa wudhu adalah ibadah yang memiliki tata cara yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Maka siapa pun yang berwudhu hendaknya meneladani langkah demi langkah sebagaimana yang beliau praktikkan. Hal ini menunjukkan bahwa wudhu yang benar tidak boleh dilakukan sembarangan.
Sementara itu, dalam Ensiklopedia Fikih Indonesia 3: Shalat karya Ustaz Ahmad Sarwat, Lc., MA, disebutkan bahwa wudhu tidak hanya sah jika dilakukan sesuai rukun, tapi menjadi sempurna apabila juga mengikuti sunnah-sunnahnya, seperti mendahulukan yang kanan, tidak berlebihan dalam memakai air, dan membaca doa setelahnya. Maka dari itu, bagi siapa pun yang ingin menjalankan ibadah dengan sempurna, memahami wudhu yang benar sesuai sunnah adalah langkah awal yang tak bisa diabaikan.
Berikut Liputan6.com ulas selengkapnya, Rabu (16/7/2025).
Niat Wudhu dalam Bahasa Arab, Latin dan Artinya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4669396/original/057272700_1701340063-male-traveler-montenegro-outdoors.jpg)
Niat wudhu artinya sengaja dengan kesungguhan hati untuk mengerjakan wudhu karena melaksanakan perintah Allah SWT dan mengikuti anjuran Rasul-Nya.
“Rasulullah SAW menerangkan bahwa segala perbuatan tergantung kepada niatnya, dan seseorang akan mendapatkan balasan menururt apa yang diniatkannya…” (HR. Bukhari dalam Fathul Baary, 1:9; Muslim, 6:48).
Berikut ini bacaan niat wudhu dalam Bahasa Arab, Latin, dan artinya yang bisa anda amalkan:
نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitul whuduua liraf'il hadatsil asghari fardal lillaahi ta'aalaa
Artinya: "Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardhu karena Allah Ta'ala"
Advertisement
Urutan Wudhu yang Benar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3536712/original/099173000_1628588583-the-man-who-drank-the-water-4067318_1920.jpg)
Berikut adalah urutan tata cara wudhu yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW:
- Membaca basmalah dan berniat dalam hati untuk berwudhu
- Membasuh kedua telapak tangan sebanyak 3 kali
- Berkumur-kumur sebanyak 3 kali
- Membersihkan hidung dengan menghirup air lalu mengeluarkannya sebanyak 3 kali
- Membasuh seluruh wajah sebanyak 3 kali
- Membasuh tangan kanan hingga siku sebanyak 3 kali, dilanjutkan tangan kiri
- Mengusap sebagian kepala (rambut) sebanyak 1 kali
- Mengusap kedua telinga bagian luar dan dalam sebanyak 1 kali
- Membasuh kaki kanan hingga mata kaki sebanyak 3 kali, dilanjutkan kaki kiri
- Berdoa setelah selesai wudhu
- Dalam melakukan urutan wudhu di atas, perlu diperhatikan beberapa hal penting:
- Membasuh anggota wudhu dimulai dari yang kanan terlebih dahulu
- Menggosok-gosok anggota wudhu agar benar-benar bersih
- Membasuh hingga melebihi batas yang diwajibkan
- Tidak berlebihan dalam menggunakan air
- Tidak berbicara selama berwudhu kecuali jika diperlukan
Dengan melakukan urutan wudhu secara benar dan sempurna, wudhu yang dilakukan akan sah dan diterima.
Doa Setelah Wudhu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4726812/original/039632200_1706240470-close-up-hands-young-adult-by-waterfall.jpg)
Setelah wudhu dianjurkan untuk membaca doa setelah wudhu, berikut ini bacaannya:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Arab Latin: Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuuluhu. Allahummaj 'alnii minat tawwaabiina waj 'alnii minal mutathaahiriina subhaanaka Allahumma wa bihamdika laa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.
Artinya: "Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus Rasul utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci. Mahasuci Engkau wahai Tuhan kami dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu."
Advertisement
Doa-doa Saat Berwudhu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5114255/original/097086900_1738231333-1738218761041_arti-wudhu.jpg)
Selain niat, ada beberapa doa yang dianjurkan untuk dibaca saat melakukan gerakan-gerakan wudhu. Membaca doa-doa ini akan menambah kesempurnaan dan keberkahan wudhu kita. Berikut adalah doa-doa yang dibaca saat berwudhu, yakni:
1. Doa ketika membasuh kedua telapak tangan
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ يَدَيَّ مِنْ مَعَاصِيْكَ كُلِّهَا
Arab Latin: Allaahumma-hfazh yadayya min ma'aashiika kullihaa
Artinya: "Ya Allah, jagalah kedua tanganku dari semua perbuatan maksiat kepada-Mu"
2. Doa ketika berkumur
اَللّٰهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Arab Latin: Allaahumma a'innii 'alaa dzikrika wa syukrika wa husni 'ibaadatik
Artinya: "Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu"
3. Doa ketika membasuh hidung
اَللّٰهُمَّ أَرِحْنِيْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
Arab Latin: Allaahumma arihnii raa-ihatal jannah
Artinya: "Ya Allah, ciumkanlah kepadaku bau harum surga"
4. Doa ketika membasuh wajah
اَللّٰهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ
Arab Latin: Allaahumma bayyidh wajhii yauma tabyadhdhu wujuuhun wa taswaddu wujuuh
Artinya: "Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari dimana wajah-wajah memutih dan menghitam"
5. Doa ketika membasuh tangan kanan
اَللّٰهُمَّ أَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِيْنِيْ وَحَاسِبْنِيْ حِسَابًا يَسِيْرًا
Arab Latin: Allaahumma a'thinii kitaabii biyamiinii wa haasibnii hisaaban yasiiron
Artinya: "Ya Allah, berikanlah kitab amalku di tangan kananku dan hisablah aku dengan hisab yang mudah"
Membaca doa-doa di atas saat berwudhu akan menambah kekhusyukan dan keberkahan wudhu kita. Namun jika tidak hafal, cukup membaca doa yang mampu diingat saja.
Hal yang Dapat Membatalkan Wudhu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4894665/original/063572200_1721269424-family-showcasing-their-home.jpg)
Dikutip dari laman Kementerian Agama RI, menurut Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami, seorang ulama mazhab Syafi‘iyah dalam kitabnya yang berjudul Safinatun Naja, menjelaskan bahwa ada 4 hal yang dapat membatalkan wudhu sehingga seseorang berada dalam keadaan hadats, yaitu:
1. Keluar Sesuatu dari Qubul dan Dubur
Selain sperma, apa pun yang keluar dari lubang qubul (kelamin) dan dubur (anus) baik berupa air kencing, angin atau kotoran, barang suci atau najis, kering atau basah, dan sebagainya, itu semua bisa membatalkan wudhu. Sedangkan bila yang keluar adalah sperma maka tidak membatalkan wudhu, namun yang bersangkutan wajib melakukan mandi junub. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 6:
أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ
Artinya: “.... salah seorang di antara kamu kembali dari tempat buang air,”.
2. Hilang Akal
Orang yang hilang akal atau kesadarannya entah itu karena tidur, gila, mabuk, atau pingsan maka wudhunya menjadi batal. Rasulullah Saw bersabda:
فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ
Artinya: “Barangsiapa yang tidur maka berwudhulah.” (HR. Abu Dawud)
Namun demikian, ada tidur yang tidak membatalkan wudhu, yaitu posisi tidurnya duduk dengan menetapkan pantat pada tempat duduknya sehingga tidak memungkinkan keluarnya kentut.
3. Bersentuhan Kulit
Bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan yang keduanya telah baligh, bukan mahram, dan tanpa penghalang bisa membatalkan wudhu. Allah berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 6:
أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ
Artinya: “... atau kalian menyentuh perempuan.”
Adapun sentuhan kulit yang tidak membatalkan wudhu adalah antara laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, dan laki-laki dengan perempuan yang menjadi mahramnya. Selain itu, wudhu juga tidak menjadi batal ketika terjadi sentuhan yang terhalang oleh sesuatu, misalnya kain.
Demikian pula tidak batal wudhunya bila seorang laki-laki yang sudah baligh bersentuhan kulit dengan seorang perempuan yang belum baligh atau sebaliknya.
Sedangkan wudhu sepasang suami istri yang bersentuhan kulit dapat batal karena pasangan suami istri bukanlah mahram. Seorang perempuan disebut mahram jika perempuan tersebut haram untuk dinikahi oleh seorang laki-laki. Sebaliknya, seorang perempuan disebut bukan mahram bila boleh dinikahi oleh seorang laki-laki. Sepasang suami istri adalah dua orang berbeda jenis kelamin yang boleh menikah. Karena keduanya diperbolehkan menikah alias bukan mahram, maka saat bersentuhan kulit tentu wudhunya menjadi batal.
4. Menyentuh Kemaluan
Menyentuh kemaluan atau lubang dubur manusia dengan menggunakan bagian dalam telapak tangan bisa membatalkan wudhu. Rasulullah bersabda:
مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ
Artinya: “Barangsiapa yang memegang kelaminnya maka berwudhulah.” (HR. Ahmad)
Wudhu seseorang bisa menjadi batal dengan menyentuh kemaluan atau lubang dubur manusia, baik dari orang yang masih hidup atau sudah mati, milik sendiri atau orang lain, anak kecil atau dewasa, sengaja atau tidak sengaja, atau kemaluan yang disentuh itu telah terputus dari badan. Adapun wudhu orang yang disentuh kemaluannya tidak menjadi batal kecuali jika keduanya sudah baligh sebagaimana pada poin ketiga. Selain itu, wudhu juga tidak menjadi batal jika menyentuh kemaluan dengan menggunakan selain bagian dalam telapak tangan atau menggunakan perantara benda, seperti pakaian, kain, kayu, dan sebagainya.
Advertisement
QnA Seputar Wudhu yang Benar
Q: Apa itu wudhu yang benar menurut Islam?
A: Wudhu yang benar adalah tata cara bersuci menggunakan air untuk membasuh anggota tubuh tertentu, dengan niat, urutan yang benar, dan mengikuti contoh yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Wudhu ini menjadi syarat sah sholat dan ibadah lainnya yang mensyaratkan kesucian dari hadas kecil.
Q: Apakah tertib dalam wudhu itu wajib?
A: Ya, tertib atau melakukan wudhu sesuai urutan yang telah ditentukan merupakan rukun dalam mazhab Syafi’i. Jika urutan dilanggar, maka wudhunya tidak sah. Misalnya membasuh kaki sebelum membasuh wajah dianggap tidak sesuai dengan syariat.
Q: Apakah wudhu batal jika bersentuhan dengan lawan jenis?
A: Dalam mazhab Syafi’i, bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan non-mahram tanpa penghalang dapat membatalkan wudhu, meskipun tanpa syahwat. Namun, dalam mazhab lain seperti Hanafi, wudhu tidak batal kecuali jika timbul syahwat.
Q: Apakah memakai air terlalu banyak saat wudhu dibolehkan?
A: Tidak. Berlebihan dalam menggunakan air saat wudhu dilarang, bahkan disebut makruh. Rasulullah SAW berwudhu hanya dengan satu mudd air (kurang lebih 650 ml). Beliau bersabda:
"Akan datang suatu kaum yang melampaui batas dalam bersuci dan berdoa." (HR Ahmad)
Sumber:
- Sarwat, Ahmad. 2019. Ensiklopedia Fikih Indonesia 3: Shalat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Al‘Arifi, Muhammad. 2022. Fiqih Ibadah Harian. Istanbul.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259258/original/056986600_1781493541-3549582318816429688.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8520488/original/002175600_1782447973-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T112427.080.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/2378469/original/055253400_1737413276-IMGE9883.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4146664/original/055122600_1662351527-shutterstock_Lens_Hitam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812277/original/052062800_1684314288-Beach_life.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8380798/original/058541300_1782259430-Didier_Deschamps.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/934935/original/034536700_1437647124-AP_173328494831.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264147/original/086220300_1782096373-063_2282523599.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/916085/original/009668100_1435788780-Cover.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261449/original/024360400_1781704034-000_B7CB6XN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8530300/original/023508000_1782462492-AP26175847717345.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528304/original/000911800_1782459714-AP26177049351866.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5448078/original/040755400_1765983961-Barcelona-Pau-Cubarsi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525155/original/017274300_1782455154-AP26176798846634.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524757/original/078321100_1782454482-AP26176835585287.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524143/original/085744300_1782453577-Yuto_Nagatomo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3039313/original/079114600_1580697243-the-man-who-drank-the-water-4067318_1920.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5129406/original/000117000_1739286774-mimpi-wudhu-mau-sholat.jpg)