Liputan6.com, Jakarta Kisah hidup Nabi Ayub ‘alaihis salam merupakan teladan abadi dalam menghadapi cobaan berat dengan penuh sabar dan keikhlasan. Dalam sejarah kenabian, beliau diuji dengan penyakit kronis yang menggerogoti tubuhnya selama bertahun-tahun, kehilangan keluarga serta harta, namun tetap teguh dalam keimanan tanpa pernah berkeluh kesah kepada makhluk. Dari ujian itu, lahirlah doa Nabi Ayub, sebuah ungkapan hati yang lembut, tulus, dan penuh tawakal, yang hingga kini dijadikan amalan oleh umat Islam untuk memohon kesembuhan dari berbagai penyakit.
Dalam buku Rahasia Doa Mustajab karya Ibnu Athaillah dan Ibnu Qayyim, disebutkan bahwa, doa Nabi Ayub adalah simbol kelembutan dan adab dalam bermunajat. Ia tidak menuntut, melainkan menyampaikan deritanya dengan kepasrahan total kepada kasih sayang Allah SWT. Dari doa tersebut, umat Islam belajar bahwa kesembuhan sejati tak hanya datang dari pengobatan, melainkan dari keyakinan, kerendahan hati, dan kesungguhan dalam meminta kepada Dzat Yang Maha Menyembuhkan.
Hal yang sama ditegaskan dalam buku Ampuhnya Mukjizat Doa dan Dzikir Para Nabi karya Ustadz Ali Amrin Al Qurawy, bahwa doa Nabi Ayub menjadi salah satu dzikir yang paling ampuh diamalkan oleh orang-orang yang sedang menghadapi sakit keras, depresi, ataupun keterpurukan hidup. Tak heran jika doa ini hingga kini dipercaya sebagai amalan penyembuh lahir dan batin yang mendatangkan rahmat dan ketenangan jiwa.
Advertisement
Berikut ini Liputan6.com ulas selengkapnya, Selasa (8/7/2025).
Doa dan Kisah Hidup Nabi Ayub
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4344696/original/048405500_1677815277-hands-women-who-raise-their-hands.jpg)
Kisah Nabi Ayub ‘alaihissalam menjadi pelajaran penting bagi umat Islam tentang kesabaran, keteguhan iman, dan adab dalam menghadapi ujian hidup yang berat. Sebelum cobaan datang, Nabi Ayub dikenal sebagai sosok yang kaya raya, dermawan, dan taat kepada Allah.
Ia diutus untuk menyampaikan syariat kepada penduduk Hauran dan Tih, mengajak mereka membangun masjid dan beribadah kepada Allah SWT. Namun, kehidupannya berubah drastis saat Allah mengujinya dengan penyakit yang sangat parah selama delapan belas tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Anas bin Malik:
إِنَّ نَبِيَّ اللهِ أَيُّوبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِثَ فِي بَلائِهِ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ سَنَةً فَرَفَضَهُ الْقَرِيبُ وَالْبَعِيدُ إلاَّ رَجُلَيْنِ مِنْ إِخْوَانِهِ كَانَا مِنْ أَخَصِّ إِخْوَانِهِ كَانَا يَغْدُوَانِ إِلَيْهِ وَيَرُوحَانِ
Artinya: "Sesungguhnya Nabiyullah Ayub ‘alaihissalam berada dalam ujiannya selama delapan belas tahun. Baik keluarga dekat maupun keluarga jauh menolaknya kecuali dua orang laki-laki dari saudara-saudaranya. Kedua saudara itulah yang selalu memberinya makan dan menemuinya."
Nabi Ayub juga difitnah tidak ikhlas dalam ibadah dan dianggap tidak menunaikan zakat. Harta kekayaannya kemudian habis, anak-anaknya wafat satu per satu, bahkan istrinya sempat meninggalkannya, membuat ia bernazar akan mencambuknya sebanyak 100 kali jika sembuh kelak. Namun, meski didera penderitaan lahir dan batin, Nabi Ayub tetap memuji Allah SWT dan tidak sedikit pun mengeluh.
Dalam keterasingan dan kesakitannya, Nabi Ayub tidak henti-hentinya berdoa kepada Allah SWT dengan penuh kerendahan hati. Doa yang dipanjatkannya tercatat dalam Al-Qur’an Surah Al-Anbiya ayat 83–84, Berikut isinya:
۞ وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَۚ ٨٣
فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَۚ ٨٤
Artinya: "(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, "(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang." Maka, Kami mengabulkan (doa)-nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya, Kami mengembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami melipatgandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami dan pengingat bagi semua yang menyembah (Kami)." (QS Al-Anbiya: 83-84)
Doa Nabi Ayub tersebut yang menjadi salah satu doa paling masyhur dalam tradisi Islam untuk memohon kesembuhan dan kasih sayang Allah SWT. Doa Nabi Ayub menggambarkan kelembutan jiwa Nabi Ayub dalam mengadu kepada Rabb-nya, bukan dengan desakan atau keluhan, tetapi dengan pengakuan jujur akan penderitaan dan pengharapan terhadap rahmat Allah SWT yang tak bertepi. Doanya dikabulkan, Allah pun mengangkat penyakit dari tubuhnya, mengembalikan keluarganya, dan melipatgandakan kenikmatan hidupnya sebagai bentuk kasih sayang dan peringatan bagi hamba-hamba yang beribadah.
Setelah kesembuhannya, Nabi Ayub kembali bertemu istrinya dalam keadaan sehat. Dalam kondisi itu, ia teringat akan nazarnya. Namun, Nabi Ayub merasa berat memenuhi nazarnya secara literal karena cintanya yang dalam kepada istrinya. Maka, dengan kebijaksanaan dan kasih sayang, ia mengambil seikat jerami dan memukulnya sekali saja, sehingga tetap memenuhi nazarnya tanpa menyakiti.
Sikap ini menjadi cerminan bagaimana seorang nabi tetap menjaga komitmen kepada Allah, namun tetap penuh kelembutan terhadap sesama. Kisah ini tak hanya menggugah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kesabaran yang tulus dan doa yang lembut dapat membuka pintu rahmat yang tak terduga dari Allah SWT.
Advertisement
Doa Nabi Ayub yang Lainnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4476505/original/028696200_1687402340-portrait-interpreter-teaching-sign-language.jpg)
Selain bacaan doa Nabi Ayub di atas, terdapat bacaan doa lainnya yang bisa diamalkan untuk memohon kesembuhan dari segala penyakit. Berikut bunyinya:
أَسْأَلُ اللهَ العَظِيْمَ رَبَ العَرْشِ العَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ
Arab Latin: Asalulallahu 'azhiim robbul 'arsyil 'azhiim ayyasyfiyak.
Artinya: "Aku memohon kepada Allah, Dzat yang Maha Besar, Tuhan yang Mempunyai Arasy, yang Maha Besar, semoga Dia berkenan memberi kesembuhan padamu." (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Doa selanjutnya yang bisa dibaca untuk meminta kesembuhan dari penyakit kepada Allah SWT adalah sebagai berikut ini:
ههَّللَاُلَصىَلَعاَنديَسُدَّمَحهمُبطُبْوهلهقْلااَهئاَوَدَوُةَيفاَعَوُناَدْبَلأْااَهئاَفشَوُرْوهنَوُراَصْبَلأْااَهئاَيضَوىَلَعَوُهلآُهبْحَصَوُْملَسَو
Arab Latin: Allahuma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammadin thibbil quluubi wadawaa-iha wa'aafiyatil abdaani wasyifaa-ihaa wanuuril ab-shaari wadhiyaa-ihaa wa’alaa aalihii washohbihii wasaliim.
Artinya: "Ya Allah, berikanlah rohmat kepada baginda kami, Nabi Muhammad sebagai penyembuh hati sekaligus obatnya, memberikan kesehatan badan dan mengobatinya, yang menjadi cahaya mata hati dan sinarnya, juga kepada keluarga dan sahabat beliau, dan semoga Engkau memberikan barokah dan kesejahteraan."
Selain meminta kesembuhan, umat Islam dapat membaca doa pengampunan dosa dan perlindungan saat sedang sakit. Begini bacaannya yang bisa anda amalkan, yakni:
شَفَى اللهُ سَقَمَكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَعَافَاكَ فِي دِيْنِكَ وَجِسْمِكَ إِلَى مُدَّةِ أَجَلِكَ
Arab Latin: Syafaakallaahu saqamaka, wa ghafara dzanbaka, wa 'aafaaka fīi diinika wa jismika ilaa muddati ajalika.
Artinya: "Wahai (sebut nama orang yang sakit), semoga Allah menyembuhkanmu, mengampuni dosamu, dan mengafiatkanmu dalam hal agama serta fisikmu sepanjang usia."
QnA Seputar Doa Nabi Ayub
Q: Apa itu doa Nabi Ayub?
A: Doa Nabi Ayub adalah doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ayub ‘alaihis salam ketika beliau diuji dengan penyakit berat selama bertahun-tahun. Doa ini tercantum dalam Al-Qur’an Surah Al-Anbiya ayat 83, yang mengandung permohonan kesembuhan dan pengakuan kelemahan diri di hadapan Allah SWT.
Q: Apa keistimewaan doa Nabi Ayub dibanding doa lainnya?
A: Doa Nabi Ayub sangat singkat, sederhana, namun penuh makna. Ia menunjukkan adab dalam berdoa: tidak mengeluh, tidak memaksa, hanya menyampaikan kondisi diri sambil memuji sifat rahmat Allah. Karena keikhlasan dan tawadhu’ itu, Allah segera mengabulkan doanya.
Q: Untuk apa saja doa ini biasa diamalkan?
A: Doa ini biasa diamalkan untuk memohon kesembuhan dari penyakit fisik, penyakit hati, kesulitan batin, serta sebagai bentuk penguatan diri saat menghadapi cobaan berat dan berkepanjangan.
Q: Apakah doa Nabi Ayub harus dibaca dalam bahasa Arab?
A: Sebaiknya dibaca dalam bahasa Arab sebagaimana teks Al-Qur’an. Namun, jika belum mampu, boleh dibaca dalam terjemahan atau disertai pemahaman maknanya agar hati ikut terlibat dalam doa.
Q: Apakah doa Nabi Ayub bisa dibaca oleh orang yang sedang sehat?
A: Ya, sangat dianjurkan. Doa ini tidak hanya untuk orang sakit, tetapi juga sebagai bentuk perlindungan dari penyakit dan penguat batin agar tetap sabar serta tidak mudah putus asa saat menghadapi ujian hidup.
Q: Apakah ada kisah yang menunjukkan dikabulkannya doa ini?
A: Ya. Dalam QS. Al-Anbiya ayat 84, dijelaskan bahwa Allah langsung mengabulkan doa Nabi Ayub, menyembuhkannya dari penyakit, mengembalikan keluarganya, serta melipatgandakan nikmat sebagai rahmat dan peringatan bagi para hamba yang taat.
Q: Apa yang bisa dipelajari dari doa Nabi Ayub selain memohon kesembuhan?
A: Doa ini mengajarkan tentang kesabaran, ketawadhu’an, dan adab berdoa. Kita belajar untuk tidak mengeluh, tidak menyalahkan takdir, melainkan tetap memuji Allah dan percaya pada kasih sayang-Nya meski sedang dalam kondisi yang sangat sulit.
Q: Apakah doa Nabi Ayub termasuk wirid atau dzikir harian?
A: Ya, banyak ulama dan ahli dzikir yang memasukkan doa Nabi Ayub sebagai bagian dari wirid harian, terutama bagi yang ingin mendekatkan diri kepada Allah dalam keadaan sakit atau menghadapi ujian berat dalam hidup.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/2378469/original/055253400_1737413276-IMGE9883.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3987331/original/064843300_1649264825-man-praying-alone-divinity-home.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3403886/original/091287400_1615978933-quran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1860530/original/010220100_1777609466-pp.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261509/original/095684300_1781725548-RD_Kongo_s_Yoane_Wissa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8574835/original/057277000_1782531340-AP26177858339524.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263769/original/046217200_1782009540-Jeremy_Doku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264183/original/033782000_1782097869-063_2282689980-Timnas_Mesir_vs_Selandia_Baru.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8571890/original/029692900_1782526551-000_B8H338Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8571665/original/074668100_1782526250-063_2283504461.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8362045/original/070572100_1782237587-AP26174619862047.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264303/original/054619900_1782106281-AP26172737361128.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260726/original/045162900_1781650279-Mohammad_Mohebi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2241544/original/039258100_1528334197-20180606-Muslim-Afghanistan-Berburu-Berkah-Lailatul-Qadar-AP-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5553186/original/075515900_1775911814-IMG-20260410-WA0016_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5530858/original/024083900_1773495896-WhatsApp_Image_2026-03-14_at_07.01.28__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5519665/original/044511200_1772592972-unnamed__44_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5523352/original/069144700_1772804015-WhatsApp_Image_2026-03-06_at_16.21.40__1_.jpeg)