Sukses

Kisah Syekh Atas Angin dan Jejak Islam di Gunung Slamet

Liputan6.com, Banyumas - Meski bukan yang tertinggi, Gunung Slamet adalah gunung terbesar di Pulau Jawa. Kaki gunung ini menjangkau Kabupaten Tegal, Pemalang, Brebes, Banyumas dan Purbalingga.

Saking besarnya gunung dan karena lokasinya berada di tengah pulau Jawa, ada mitos, jika Gunung Slamet meletus maka pulau Jawa akan terbelah menjadi dua bagian.

Dalam Islam, nama adalah doa. Nama yang disematkan kepada gunung ini, Slamet, adalah perlambang doa dan harapan agar Gunung Slamet selamat dan tidak menimbulkan malapetaka.

Nama Slamet identik dengan Jawa. Namun, beberapa pendapat mengatakan, Slamet juga berasal dari bahasa arab, yakni salamatan, yang berarti selamat.

Bahkan, dipercaya yang memberi nama Gunung Slamet adalah ulama yang sangat disegani pada masa itu, Syekh Maulana Maghribi, seorang penyebar agama Islam yang berasal dari negeri Rum-Turki.

Belakangan, syekh ini disebut Syekh Atas Angin atau Mbah Atas Angin, karena kedatangannya dari jauh, dari sebuah negeri tak dikenal masyarakat lokal.

 

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Kisah Syekh Maulana Maghribi

Syekh Maulana dikisahkan terkena penyakit kulit sehingga harus melanglangbuana berlayar mencari kesembuhan. Nasib lantas menuntunnya ke Gunung Slamet. Dia mendarat di Pantai Pemalang.

Sesampai di Gunung Slamet, Syekh Maulana Maghribi mendapati ada ada pancuran air panas berjumlah tujuh pancuran. Dia kemudian mandi di pancuran air panas ini dan lantas sembuh dari penyakitnya.

Belakangan, pancuran itu disebut dengan pancuran pitu dan kini dikembangkan menjadi objek wisata andalan, sekaligus pemandian air panas.

Karena sembuh, Syekh Maulana lantas memberi nama gunung tersebut dengan nama Slamet, yang berasal dari kata salamatan, atau selamat, yang berasosiasi dengan Islam.

Terlepas dari benar dan tidaknya kisah ini, jejak perabadan Islam di Gunung Slamet masih tampak hingga hari ini. Tentu saja, jejak budaya Jawa-lah yang lebih dominan.

Selain nama, ada sejumlah ritual dan tempat yang berasosiasi dengan Islam. Misalnya, masyarakatnya yang gemar bersholawat, hingga nama-nama situs yang diduga terhubung dengan tokoh-tokoh penyebar Islam di masa lalu. 

3 dari 3 halaman

Tradisi dan Petilasan Islam

Keunikan Gunung Slamet juga terjadi para pendaki. Karena itu, adab dan sopan santun harus dijaga. Hal itu dilakukan agar pendaki selamat dalam proses naik dan turun gunung ini.

Mengutip fahmialinh.wordpress.com, tradisi masyarakat lereng Gunung Slamet khususnya lereng utara adalah tradisi Islam. Meskipun tidak ditegaskan dengan istilah Arab, seperti mitoni 4 bulan, rasulan dan debaan, tradisi-tradisi itu bisa ditemukan legitimasinya di dalam kitab-kitab sunah seperti Mu’jam al-Zawaaid atau Mu’jam al-Thobrony.

Bagi masyarakat lereng utara, mendawamkan bacaan sholawat sebelum azan shubuh merupakan “keharusan” untuk menjaga harmoni Alam.

Jika di lereng Merapi pada masa lalu, seperti dituturkan Kyai Ahmad Baso, sering dibacakan Shohih al-Bukhory agar Gunung itu tidak mengamuk, maka Gunung Slamet mungkin cukup dengan sholawat Nabi yang dilantunkan para penghuninya.

Tidak sampai di situ. Beberapa tempat yang diduga sebagai petilasan di Gunung Slamet mempunyai nama seperti nama para nabi, semisal petilasan Mbah Soleh di arah Purwokerto dan Mbah Sulaiman di arah Bumiayu.

Gunung Slamet bukan sekadar sebuah gunung yang menyimpan banyak misteri. Tapi, Gunung ini adalah representasi dari wujud Islam yang menusantara di bumi Indonesia.

Tim Rembulan

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS