Cara Menanam Porang agar Umbinya Berkembang Besar, Mulai dari Bibit Sehat

Cara menanam porang agar umbinya berkembang besar dimulai dari memilih bibit sehat, mengatur naungan, hingga pemupukan yang tepat.

Diterbitkan 18 Oktober 2026, 16:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Cara menanam porang agar umbinya berkembang besar perlu dimulai dari pemilihan bibit, pengolahan tanah, hingga perawatan tanaman yang tepat. Tanaman porang (Amorphophallus muelleri) dikenal karena umbinya yang mengandung glukomanan dan banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan maupun industri.

Ukuran umbi tidak hanya ditentukan oleh kesuburan tanah, tetapi juga umur tanaman, ketersediaan air, unsur hara, dan kondisi lingkungan. Karena itu, memahami kebutuhan porang sejak awal dapat membantu tanaman tumbuh sehat dan menghasilkan umbi yang lebih optimal.

Melansir dari publikasi ilmiah The Genus Amorphophallus: A Review of Ethnobotany, Phytochemistry and Pharmacology (2011) karya S. K. Singh dan rekan-rekan, genus Amorphophallus memiliki beragam pemanfaatan dan karakteristik biologis yang penting untuk dipahami. Meski demikian, pembesaran umbi porang tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tumbuh dan teknik budidaya yang tepat.

Berikut adalah cara menanam porang agar umbinya berkembang besar dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (14/10/2026).

1. Pilih Bibit Porang yang Sehat dan Berkualitas

Langkah pertama adalah memilih bahan tanam yang sehat, baik berupa umbi maupun bulbil atau katak, yaitu bulatan kecil yang tumbuh pada percabangan daun porang. Pilih bibit yang tidak busuk, tidak berjamur, tidak terluka, dan memiliki kondisi fisik yang baik.

Ukuran bibit juga perlu disesuaikan dengan metode budidaya. Bibit yang lebih besar umumnya memiliki cadangan makanan lebih banyak, tetapi pertumbuhan tetap dipengaruhi oleh varietas, kondisi tanah, dan perawatan.

Melansir dari Info Teknologi: Budidaya Porang yang diterbitkan Pusat Perpustakaan dan Literasi Pertanian Kementerian Pertanian pada 2022, bahan tanam porang dapat berupa bulbil, umbi, biji, maupun hasil kultur jaringan. Untuk pemula, gunakan bahan tanam yang jelas asal-usulnya dan sesuai dengan rekomendasi petugas pertanian setempat.

2. Siapkan Lahan yang Gembur dan Tidak Tergenang

Porang membutuhkan tanah yang memungkinkan akar dan umbinya berkembang tanpa terhambat. Pilih lahan yang gembur, kaya bahan organik, dan memiliki saluran pembuangan air yang baik agar umbi tidak mudah membusuk.

Bersihkan gulma, batu, serta sisa tanaman yang mengganggu. Jika tanah terlalu padat, gemburkan terlebih dahulu dan campurkan kompos matang untuk memperbaiki struktur tanah.

Apabila menanam di lahan yang mudah tergenang, buat bedengan atau saluran drainase. Jangan menganggap tanah yang selalu basah sebagai kondisi ideal karena kelebihan air dapat mengganggu pertumbuhan dan meningkatkan risiko pembusukan umbi.

3. Atur Naungan agar Tanaman Mendapat Cahaya yang Cukup

Porang cocok dibudidayakan di bawah naungan pepohonan. Namun, tanaman tetap memerlukan cahaya untuk mendukung fotosintesis, yaitu proses tanaman menghasilkan makanan dengan bantuan cahaya.

Penelitian Edi Santosa, Nobuo Sugiyama, Miki Nakata, dan O New Lee dalam Growth and Corm Production of Amorphophallus at Different Shading Levels in Indonesia (2006) menunjukkan bahwa naungan memengaruhi ukuran daun dan perkembangan umbi porang. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa umbi cenderung lebih berat pada kondisi teduh dibandingkan dengan paparan sinar matahari penuh dalam percobaan yang dilakukan di Bogor.

Tempatkan tanaman di bawah naungan pohon atau gunakan paranet jika diperlukan. Hasil penelitian itu tidak berarti porang harus selalu ditanam dalam kondisi sangat gelap, sebab tingkat naungan yang sesuai tetap perlu mempertimbangkan kondisi lahan dan pertumbuhan tanaman.

4. Tanam Bibit dengan Kedalaman yang Tepat

Buat lubang tanam sesuai ukuran bibit, kemudian letakkan bibit dengan bakal tunas menghadap ke atas. Tutup menggunakan tanah gembur secukupnya agar bibit terlindungi tanpa membuat tunas kesulitan tumbuh.

Untuk bibit berupa bulbil, kedalaman tanam dapat berbeda dari bibit umbi yang berukuran besar. Karena itu, sesuaikan kedalaman dengan ukuran bahan tanam dan petunjuk budidaya yang digunakan.

Penelitian Edi Santosa dan rekan-rekan dalam Effects of Planting Depth on Growth and Corm Shape of Two Amorphophallus Species Cultivated in Indonesia (2004) menunjukkan bahwa kedalaman tanam memengaruhi posisi dan bentuk umbi, meskipun tidak memberikan pengaruh nyata terhadap bobot segar umbi dalam percobaan tersebut. Artinya, menanam terlalu dalam tidak otomatis membuat umbi lebih besar.

5. Berikan Jarak Tanam yang Cukup

Jangan menanam porang terlalu rapat jika menginginkan pertumbuhan umbi yang optimal. Jarak yang memadai membantu tanaman memperoleh ruang tumbuh, cahaya, air, dan unsur hara tanpa persaingan berlebihan.

Tentukan jarak tanam berdasarkan ukuran bibit, kondisi lahan, dan sistem budidaya. Tanaman yang berasal dari bibit besar mungkin membutuhkan ruang lebih luas dibandingkan tanaman dari bulbil kecil.

Perhatikan juga ukuran tajuk tanaman ketika daun mulai berkembang. Jika daun saling menutupi secara berlebihan, evaluasi kepadatan tanaman dan atur pola penanaman pada musim berikutnya. Tidak ada satu jarak tanam yang otomatis menghasilkan umbi terbesar untuk semua kondisi lahan.

6. Lakukan Pemupukan dan Penyiraman Secara Seimbang

Porang membutuhkan unsur hara untuk membentuk daun dan mengembangkan umbi. Campurkan kompos atau pupuk kandang yang sudah matang ke tanah sebelum tanam, lalu gunakan pupuk tambahan sesuai kebutuhan tanaman dan hasil pemeriksaan kesuburan tanah jika tersedia.

Hindari memberikan pupuk secara berlebihan, terutama pupuk nitrogen. Unsur ini diperlukan untuk pertumbuhan daun, tetapi dosis yang tidak seimbang dapat membuat pertumbuhan bagian atas tanaman tidak sejalan dengan perkembangan umbinya.

Penyiraman dilakukan ketika tanah mulai mengering, dengan tetap memperhatikan kondisi cuaca dan kemampuan tanah menahan air. Pada musim hujan, kurangi penyiraman jika tanah masih lembap. Sebaliknya, saat musim kemarau, pastikan tanaman memperoleh air yang cukup selama masa pertumbuhan aktif.

7. Kendalikan Gulma dan Tunggu hingga Umbi Siap Dipanen

Gulma dapat bersaing dengan porang dalam memperoleh air, cahaya, dan unsur hara. Bersihkan gulma secara berkala dengan hati-hati agar alat yang digunakan tidak melukai umbi di dalam tanah.

Amati pula kondisi daun, batang, serta tanda serangan hama dan penyakit. Jika daun menguning atau batang membusuk sebelum waktunya, periksa kondisi air, drainase, dan kesehatan tanaman sebelum memberikan perlakuan.

Jangan terburu-buru memanen hanya karena tanaman sudah memiliki daun besar. Porang mengalami fase istirahat ketika bagian atas tanaman mengering dan mati secara alami. Pada fase ini, umbi tetap berada di dalam tanah dan dapat dipanen setelah mencapai umur serta ukuran yang sesuai dengan tujuan budidaya.

Menurut penelitian Santosa dan rekan-rekan dalam Growth and Corm Production of Amorphophallus at Different Shading Levels in Indonesia (2006), umbi porang mencapai ukuran komersial sekitar dua tahun setelah penanaman umbi berumur satu tahun dalam kondisi naungan yang diteliti. Waktu panen sebenarnya dapat berbeda menurut bahan tanam, varietas, dan lingkungan tumbuh.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Budidaya Porang

1. Berapa lama porang bisa menghasilkan umbi besar?

Porang umumnya membutuhkan waktu lebih dari satu musim tanam untuk menghasilkan umbi yang besar. Ukurannya bergantung pada umur tanaman, jenis bibit, naungan, dan perawatan.

2. Apakah porang bisa ditanam di halaman rumah?

Bisa, selama tersedia media tanam yang cukup dalam, gembur, tidak mudah tergenang, dan memiliki naungan yang sesuai. Porang juga dapat ditanam dalam pot besar dengan media yang memadai.

3. Apakah porang harus ditanam di bawah pohon?

Tidak harus, tetapi porang cocok tumbuh di tempat teduh. Jika tidak tersedia pohon, paranet dapat digunakan untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung.

4. Apakah pupuk bisa membuat umbi porang cepat besar?

Pupuk membantu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu. Keseimbangan pemupukan, air, kondisi tanah, dan umur tanaman juga berpengaruh terhadap perkembangan umbi.

5. Kapan waktu terbaik untuk memanen porang?

Panen dilakukan ketika umbi telah mencapai ukuran yang sesuai dan tanaman memasuki fase istirahat, yang ditandai bagian atas tanaman mengering secara alami. Waktu panen perlu disesuaikan dengan umur tanaman dan tujuan budidaya.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6