Biawak Pohon Biru, Reptil Langka dari Indonesia yang Punya Ekor Istimewa

Ketahui biawak pohon biru (Varanus macraei), reptil endemik Pulau Batanta, Raja Ampat, dengan warna kobalt cerah, dengan segala fakta uniknya.

Diterbitkan 13 Oktober 2026, 16:10 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Biawak pohon biru (Varanus macraei), yang juga dikenal sebagai biawak pohon tutul biru, adalah spesies reptil yang memukau dengan warna biru kobalt cerah dan bintik-bintik hitam yang khas. Melansir laman London Zoo, keberadaannya secara alami hanya ditemukan di Pulau Batanta, Indonesia, menjadikannya salah satu anggota paling istimewa dari keluarga biawak.

Biawak pohon biru merupakan spesies reptil dengan warna tubuh yang mencolok dan baru diperkenalkan secara ilmiah pada tahun 2001. Hanya dalam waktu dua tahun setelah dideskripsikan, spawak pohon biru merupakan spesies reptil dengan warna tubuh yang mencolok dan baru diperkenalkan secara ilmiah pada tahun 2001. Hanya dalam waktu dua tahun setelah dideskripsikan, spesies ini sudah mulai ditemukan dalam perdagangan satwa liar. Warna tubuhnya yang cerah serta penampilannya yang unik membuat biawak pohon biru memiliki nilai jual yang tinggi di pasar hewan eksotis.

Ciri Fisik dan Habitat Eksklusif

Biawak pohon biru memiliki tubuh yang ramping dan memanjang, dengan panjang total mencapai 100 hingga 110 cm. Ekor prehensilnya, yang menyumbang sekitar dua pertiga dari total panjang tubuhnya, berfungsi sebagai “kaki kelima” untuk mencengkeram cabang saat bergerak di kanopi hutan. Jantan dari spesies ini dapat tumbuh hingga panjang total 1,1 meter.

Spesies ini menampilkan warna hitam dengan sisik biru yang tersebar, membentuk pola oselasi yang kadang juga membentuk pita di bagian punggung. Ujung moncongnya berwarna biru muda, sementara rahang bawahnya putih, dan sisik hijau seragam terlihat di sepanjang leher, membentuk pola berbentuk V.

Habitat alami biawak pohon biru sangat terbatas, yakni endemik di Pulau Batanta, yang merupakan bagian dari kepulauan Raja Ampat, Papua Barat, Indonesia. Jangkauan alaminya hanya mencakup sekitar 455 kilometer persegi hutan hujan tropis yang lembap. Mereka hidup hampir secara eksklusif tinggi di kanopi hutan, terlindung oleh dedaunan tropis yang lebat. Suhu siang hari di lingkungan aslinya berkisar antara 28 hingga 38 °C, dengan kelembapan yang dapat mencapai 100% selama musim hujan.

Perilaku Arboreal dan Pola Makan

Sebagai spesies diurnal dan arboreal, biawak pohon biru aktif di siang hari dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di pohon. Mereka sangat lincah, dilengkapi dengan cakar tajam dan ekor prehensil yang panjang, yang digunakan sebagai anggota tubuh kelima untuk memanjat.

Biawak pohon biru adalah karnivora dan insektivora yang rakus. Diet alaminya meliputi berbagai serangga, kadal kecil, burung kecil, dan kadang-kadang telur. Mereka berburu dengan meninggalkan tempat istirahat di pohon-pohon besar untuk mencari makan di pohon-pohon yang lebih kecil yang terpapar sinar matahari, tempat serangga sering berkumpul.

Dalam hal reproduksi, biawak pohon biru adalah ovipar, yang berarti mereka berkembang biak dengan bertelur. Mereka mampu menghasilkan 1 hingga 5 kelompok telur setiap tahun, tergantung pada asupan makanannya. Telur-telur ini memiliki panjang sekitar 43 mm dengan diameter sekitar 21 mm, dan berat rata-rata sekitar 9 gram. Waktu pengeraman telur dapat mencapai 159 hari pada suhu sekitar 28 hingga 30 °C.

Upaya Pelestarian Biawak Pohon Biru

Sebagai informasi, IUCN Red List of Threatened Species adalah sistem standar global untuk mengukur risiko kepunahan suatu spesies hewan, tumbuhan, dan jamur. Dalam Daftar Merah IUCN, biawak pohon biru termasuk kategori Endangered atau terancam punah. Perdagangan internasionalnya juga diatur melalui Apendiks II CITES. Di Indonesia, spesies ini termasuk satwa yang dilindungi, sehingga pengambilan dari alam liar tidak diperbolehkan secara legal.

Walaupun demikian, penampilan tubuhnya yang menarik membuat biawak pohon biru diminati dalam perdagangan hewan peliharaan eksotis. Penangkapan ilegal dan pengumpulan yang tidak berkelanjutan dikhawatirkan mengurangi jumlah individu di habitat aslinya. Jika berlangsung terus-menerus, tekanan tersebut dapat meningkatkan risiko kepunahan dalam jangka panjang.

Pelestarian Biawak Pohon Biru perlu memperhatikan perlindungan habitat, pengawasan perdagangan satwa liar, dan penelitian terhadap populasinya. Karena wilayah persebarannya terbatas, gangguan pada satu kawasan dapat memberikan dampak yang berarti bagi populasi setempat.

Edukasi kepada masyarakat juga berperan penting dalam meningkatkan kesadaran tentang risiko penangkapan satwa dari alam. Selain itu, penelitian mengenai perilaku, kebutuhan habitat, dan reproduksi dapat membantu mendukung pengelolaan serta perlindungan spesies ini.

Bagi masyarakat yang tertarik pada reptil eksotis, mengenal Biawak Pohon Biru sebaiknya tidak hanya berfokus pada keindahan warnanya. Memahami asal-usul, kebutuhan ekologis, dan ancaman yang dihadapinya merupakan langkah penting untuk menumbuhkan kepedulian terhadap satwa liar Indonesia.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Biawak Pohon Biru

1. Apa nama ilmiah dari biawak pohon biru?

Nama ilmiah dari biawak pohon biru adalah Varanus macraei.

2. Di mana habitat alami biawak pohon biru?

Biawak pohon biru endemik di Pulau Batanta, kepulauan Raja Ampat, Papua Barat, Indonesia, di hutan hujan tropis.

3. Apa makanan utama biawak pohon biru?

Biawak pohon biru adalah karnivora dan insektivora, dengan diet utama serangga, kadal kecil, burung kecil, dan telur.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6