Liputan6.com, Jakarta - PISA adalah singkatan dari Programme for International Student Assessment, survei pendidikan yang diikuti puluhan negara untuk mengukur kemampuan siswa usia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains. Hasil PISA 2025 baru dirilis, dan angkanya membuat banyak pihak terkejut, sebab skor rata-rata di banyak negara berada pada titik terendah sepanjang sejarah program.
Salah satu temuan paling mencolok datang dari kebiasaan membaca. Jumlah siswa yang membaca cepat namun salah menjawab naik hampir dua kali lipat dalam tujuh tahun terakhir. Padahal keterampilan membaca teliti justru makin dibutuhkan di tengah banjir informasi dari internet dan kecerdasan buatan yang kini dipakai jutaan pelajar untuk belajar setiap minggu.
Pada artikel ini, Liputan6.com telah merangkum berbagai informasi mengenai apa itu PISA, bagaimana tes ini diselenggarakan, dan mengapa itu penting, dilansir dari berbagai sumber, Selasa (8/9/2026). Mari simak informasi selengkapnya di bawah ini.
Advertisement
Apa Itu PISA?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343689/original/011571600_1788870736-pexels-nasirun-khan-102497153-15275051.jpg)
PISA adalah program penilaian pelajar internasional yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development atau OECD sejak tahun 2000. OECD menjelaskan PISA sebagai survei rutin terhadap siswa usia 15 tahun di berbagai negara untuk melihat sejauh mana mereka menguasai pengetahuan dan keterampilan penting untuk hidup di tengah masyarakat dan dunia kerja.
PISA tidak sekadar menguji apakah siswa hafal materi pelajaran di sekolah. Menurut OECD, PISA menilai kemampuan siswa menerapkan pengetahuan pada situasi nyata di luar kelas maupun di dalam kelas. Konsep ini membuat PISA berbeda dari ujian sekolah biasa, karena fokusnya bukan pada hafalan, melainkan pada cara siswa berpikir, menalar, dan memecahkan masalah sehari-hari.
Sejak pertama digelar, jumlah peserta PISA terus bertambah. Pada tahun 2000 hanya 43 negara ikut serta, sementara PISA 2025 diikuti 91 negara dan ekonomi, termasuk Indonesia. Lebih dari 760 ribu siswa mengerjakan tes ini, mewakili sekitar 33 juta remaja usia 15 tahun di seluruh dunia yang masih duduk di bangku sekolah.
Advertisement
Apa yang Diukur PISA?
PISA menguji tiga kemampuan inti: sains, membaca, dan matematika. Setiap putaran PISA memilih satu di antaranya sebagai fokus utama secara bergiliran. Pada PISA 2025, sains menjadi fokus utama, seperti juga terjadi pada 2006 dan 2015. Membaca sempat jadi fokus pada 2000, 2009, dan 2018, sementara matematika jadi fokus pada 2003, 2012, dan 2022.
Mulai PISA 2025, ada domain baru bernama Learning in the Digital World, yang mengukur kemampuan siswa memecahkan masalah menggunakan alat komputer. Domain ini menilai sejauh mana siswa mampu berpikir sistematis saat menghadapi tugas berbasis teknologi digital, termasuk menyusun langkah pemecahan masalah secara bertahap.
Selain tiga mata pelajaran dan satu domain digital, PISA 2025 juga menambahkan tes bahasa Inggris sebagai bahasa asing di 22 negara. Tes ini bersifat opsional dan diikuti negara yang bahasa pengantar sekolahnya bukan bahasa Inggris. Hasilnya akan dirilis terpisah pada pertengahan 2027 dalam laporan volume kedua PISA 2025.
Bagaimana PISA Dilaksanakan?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343690/original/022297400_1788870736-pexels-airlangga-35865722.jpg)
PISA melibatkan siswa berusia 15 tahun 3 bulan sampai 16 tahun 2 bulan yang sudah menempuh minimal 6 tahun pendidikan formal. Rentang usia ini dipakai agar hasil antarnegara bisa dibandingkan secara adil, meski sistem pendidikan tiap negara berbeda. Siswa bisa berasal dari sekolah negeri, swasta, kejuruan, atau program lain, asal masih terdaftar sebagai pelajar aktif.
Tes PISA berlangsung dua jam dan sebagian besar dikerjakan lewat komputer sejak putaran 2015. Soal disusun bertahap, sehingga tingkat kesulitan soal berikutnya menyesuaikan jawaban siswa di soal sebelumnya. Enam negara masih memakai tes berbasis kertas, yaitu Kamboja, Tajikistan, Kurdistan Irak, Mauritius, Rwanda, dan Zambia, karena keterbatasan akses komputer di wilayah tersebut.
Selain mengerjakan soal, siswa juga mengisi kuesioner tentang latar belakang, kebiasaan belajar, dan penggunaan perangkat digital selama sekitar 35 menit. Kepala sekolah turut mengisi kuesioner tentang manajemen sekolah dan lingkungan belajar.
Advertisement
Mengapa PISA Penting?
Hasil PISA bukan sekadar angka atau papan peringkat. Data ini dipakai pemerintah, sekolah, dan orang tua untuk memahami kondisi belajar siswa secara nyata, lalu menentukan langkah perbaikan yang tepat. Berikut alasan mengapa hasil PISA layak mendapat perhatian setiap kali dirilis.
- Tolok Ukur Antarnegara: PISA memberi data yang bisa dibandingkan langsung antara satu negara dan negara lain, karena semua peserta memakai soal dan metode penilaian yang sama. Perbandingan ini membantu setiap negara melihat posisi sistem pendidikannya di tingkat dunia secara objektif.
- Dasar Perumusan Kebijakan: Pemerintah memakai hasil PISA untuk menyusun kebijakan pendidikan, mulai dari kurikulum sampai pelatihan guru. Kemendikdasmen menjadikan hasil PISA 2025 sebagai bahan evaluasi untuk menentukan program prioritas pendidikan pada tahun-tahun mendatang, termasuk penguatan literasi dan numerasi.
- Deteksi Kesenjangan Belajar: PISA menunjukkan kesenjangan skor antara siswa dari keluarga mampu dan kurang mampu di setiap negara. Data ini membantu sekolah dan pemerintah mengenali kelompok siswa yang butuh dukungan tambahan, sehingga bantuan bisa diarahkan ke sasaran yang tepat.
- Panduan Menghadapi Zaman Digital: PISA 2025 turut menilai penggunaan AI dan perangkat digital saat belajar. Hasilnya, siswa yang memakai AI tanpa panduan justru mendapat skor lebih rendah, sehingga sekolah perlu mengajarkan cara memakai AI secara tepat, bukan melarang atau membiarkannya.
- Pemantauan Tren Jangka Panjang: PISA digelar tiap tiga tahun sejak 2000, sehingga tiap negara bisa melihat naik-turunnya kualitas pendidikan dari waktu ke waktu. Data historis ini membantu mengevaluasi apakah kebijakan pendidikan yang dijalankan selama ini membawa hasil atau perlu diganti.
Hasil PISA 2025: Tren Global
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343691/original/031865200_1788870736-pexels-airlangga-35865693.jpg)
OECD melaporkan skor rata-rata negara anggotanya berada pada titik terendah sepanjang sejarah PISA, baik di membaca maupun matematika. Mengutip dari press release OECD, skor membaca turun 28 poin dan matematika turun 22 poin sejak 2015. Satu dari lima siswa kini masuk kategori kemampuan rendah di ketiga mata pelajaran itu, naik dari sebelumnya satu dari enam siswa pada 2022.
Peringkat teratas masih dikuasai negara Asia. Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang di China, bersama Singapura, tercatat sebagai wilayah dengan skor tertinggi di tiga mata pelajaran utama. Estonia, Jepang, Korea Selatan, Makau, Taipei, dan Inggris turut masuk sepuluh besar. Sebagian negara justru mencatat kenaikan skor sains sejak 2022, seperti Kosta Rika, Slowakia, Turki, dan Inggris.
Sekretaris Jenderal OECD, Mathias Cormann, menyebut penurunan skor pelajar dunia harus segera diatasi. Sistem pendidikan yang berhasil, menurutnya, fokus pada beberapa hal secara mendalam, memperkuat kualitas guru, melibatkan orang tua, dan memberi bantuan tepat sasaran bagi sekolah yang membutuhkan. Teknologi dan kecerdasan buatan bisa membantu belajar, asal dipakai dengan tujuan jelas, bukan pengganti usaha siswa.
Advertisement
PISA dan Indonesia
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat skor membaca siswa Indonesia naik dari 359 poin pada 2022 menjadi 365 poin pada 2025. Skor sains juga naik dari 383 menjadi 389 poin. Namun skor matematika turun tipis dari 366 menjadi 364 poin, menandakan mata pelajaran ini masih perlu perhatian lebih dari pemerintah dan sekolah.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, mengatakan bahwa arah kebijakan pendidikan pemerintah sudah ada di arah yang tepat. Menurutnya, keberhasilan pendidikan bukan diukur dari naiknya posisi Indonesia di peringkat PISA, melainkan dari naiknya kemampuan siswa bernalar, memecahkan masalah, dan belajar sepanjang hidup. Pemerintah menyiapkan program penguatan kompetensi guru, pembelajaran mendalam, serta penguatan literasi, numerasi, dan sains di semua jenjang sekolah.
Chief of Education UNESCO untuk kawasan Asia Tenggara, Santosh Khatri, mengingatkan skor membaca Indonesia sebesar 365 poin masih jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 476 poin. Ia menyebut hampir 97 persen penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas sudah melek huruf pada 2024, namun kemampuan memahami bacaan secara mendalam masih perlu diperkuat sejak kelas awal.
Pertanyaan Seputar PISA yang Sering Dicari
Apa itu PISA dalam pendidikan?
PISA adalah survei internasional yang diselenggarakan OECD sejak tahun 2000 untuk menilai kemampuan siswa usia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains, serta menerapkan pengetahuan itu pada situasi nyata.
Kapan PISA dilaksanakan?
PISA digelar setiap tiga tahun. Putaran terbaru, PISA 2025, dilaksanakan pada April sampai Mei 2025 dan hasilnya dirilis pada 8 September 2026.
Berapa skor PISA Indonesia 2025?
Skor membaca Indonesia naik menjadi 365 poin, sains naik menjadi 389 poin, sementara matematika turun menjadi 364 poin, dibanding hasil PISA 2022.
Negara mana yang skor PISA-nya tertinggi?
Yurisdiksi Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang di China, bersama Singapura, mencatat skor tertinggi di sains, membaca, dan matematika pada PISA 2025.
Apa yang membuat skor PISA dunia turun pada 2025?
OECD mencatat penurunan skor membaca dan matematika sebagai yang terendah sepanjang sejarah PISA, dengan meningkatnya kebiasaan membaca cepat tapi tidak teliti dan penggunaan AI yang belum diimbangi bimbingan yang tepat.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5480209/original/055827300_1769049427-53be1b51-4a07-4337-a7d7-3ea2480321b2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343335/original/092273200_1788851870-HOAX__12_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7366296/original/044645100_1780146957-dedi_mulyadi-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555013/original/059216600_1776139675-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-14T102537.741.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343688/original/001037900_1788870736-pexels-airlangga-35865718.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2284535/original/099802600_1531925496-SISWA_SMP_9-Muhamad_Ridlo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343627/original/075180100_1788864032-bc551162-9d7a-4ab1-bbbb-1d8ea76fa002.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343595/original/015480600_1788862113-Hl_Dapur_Kampung.jpg)