7 Usaha Ternak yang Paling Mudah Dipelihara untuk Pemula, Modal Kecil dan Minim Risiko

Ingin memulai bisnis dari rumah dengan modal terbatas? Temukan 6 usaha ternak yang paling mudah dipelihara, minim risiko, dan berpotensi untung besar bagi pemul

Diterbitkan 19 Februari 2026, 09:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Usaha ternak yang paling mudah dipelihara menjadi incaran banyak orang yang ingin memulai bisnis dari rumah dengan modal terbatas. Di tengah naik turunnya harga kebutuhan pokok, beternak bisa menjadi sumber penghasilan tambahan yang menjanjikan. Apalagi jika memilih jenis ternak yang perawatannya sederhana dan biaya pakannya tidak terlalu mahal.

Bagi pemula, memilih hewan ternak yang mudah dirawat adalah langkah bijak. Pasalnya, dalam usaha peternakan, biaya pakan bisa mencapai 60 persen dari total biaya operasional. Jika salah memilih jenis ternak, risiko kerugian pun semakin besar.

Beruntungnya, ada banyak pilihan ternak skala kecil yang relatif mudah dipelihara dan cepat menghasilkan. Berikut ulasan Liputan6.com, Kamis (19/2/2026).

1. Ikan Lele

Ikan lele menjadi salah satu pilihan ternak perikanan yang paling diminati masyarakat Indonesia, terutama bagi pemula yang ingin memulai usaha dari rumah. Fleksibilitas budidayanya menjadi daya tarik utama, karena lele bisa dipelihara di kolam tanah, kolam terpal, hingga drum atau tong bekas yang tidak memerlukan lahan luas. Modal awalnya relatif kecil dan tidak membutuhkan teknologi rumit.

Selain itu, masa panen lele tergolong cepat, yakni sekitar 40–50 hari. Perputaran panen yang singkat ini membuat arus kas usaha lebih stabil. Lele juga dikenal tahan terhadap kondisi air yang kurang ideal, selama kualitas air tetap dikontrol secara berkala. Dari sisi pakan, peternak bisa mengombinasikan pakan pabrikan dengan limbah organik bernutrisi tanpa mengurangi kebutuhan gizinya. Inilah sebabnya lele sering direkomendasikan sebagai usaha ternak yang paling mudah dipelihara untuk pemula.

2. Ayam Kampung dan Ayam Petelur

Ayam merupakan ternak yang paling umum dan mudah dijumpai di lingkungan rumah tangga. Banyak referensi peternakan, termasuk dari Old Farmer's Almanac, menyebut ayam sebagai salah satu ternak termudah bagi pemula karena tidak membutuhkan peralatan rumit dan bisa dipelihara di lahan terbatas.

Keunggulan ayam terletak pada produktivitasnya. Ayam petelur mampu menghasilkan telur hampir setiap hari, sementara ayam kampung memiliki nilai jual tinggi sebagai ayam potong. Selain itu, kotorannya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman. Dalam praktiknya, ayam hanya membutuhkan kandang yang aman dari predator, pakan rutin, serta tambahan kalsium untuk menjaga kualitas cangkang telur. Bahkan dengan 10–20 ekor saja, peternak rumahan sudah bisa memperoleh tambahan penghasilan yang cukup stabil.

3. Bebek, Itik, dan Entok

Bebek, itik, dan entok sebenarnya masih dalam kelompok unggas air, sehingga pola pemeliharaannya relatif mirip. Bebek petelur dikenal produktif dan memiliki permintaan pasar yang luas di Indonesia. Telurnya bisa dijual langsung atau diolah menjadi telur asin dan telur asap untuk meningkatkan nilai tambah.

Di sisi lain, entok (Muscovy duck) justru memiliki keunggulan dari segi daya tahan tubuh. Dibanding ayam, entok lebih tahan terhadap penyakit dan cuaca ekstrem, serta biaya pakannya cenderung lebih hemat. Karena belum banyak dibudidayakan secara besar-besaran, persaingan usaha entok relatif rendah sehingga peluang pasar masih terbuka luas.

Sementara itu, itik pedaging maupun petelur memiliki kelebihan pada ukuran telur yang lebih besar dan rasa yang khas. Unggas air ini memang membutuhkan akses air atau kolam kecil agar tetap sehat, tetapi kandangnya tidak perlu serumit kandang ayam. Dengan manajemen pakan yang baik, hasil telur harian mampu menutup biaya operasional dan menghasilkan keuntungan yang menjanjikan.

4. Kambing dan Domba

Kambing dan domba termasuk ternak ruminansia yang mudah dipelihara serta cocok untuk skala kecil hingga menengah. Berdasarkan data dari United States Department of Agriculture, kambing menjadi pilihan populer di kalangan peternak kecil karena biaya perawatannya lebih rendah dibanding sapi dan mampu beradaptasi di berbagai kondisi iklim.

Kambing dapat dimanfaatkan untuk produksi daging maupun susu, sekaligus membantu mengendalikan gulma di lahan karena kebiasaan makannya yang beragam. Sementara itu, domba memiliki nilai tambah dari bulunya (wol), selain daging yang permintaannya tinggi terutama saat momen keagamaan.

Keduanya hanya membutuhkan kandang sederhana yang kering serta pakan hijauan seperti rumput dan dedaunan yang mudah diperoleh. Dengan pemeriksaan kesehatan rutin dan kebersihan kandang terjaga, kambing dan domba termasuk usaha ternak yang paling mudah dipelihara bagi pemula yang memiliki sedikit lahan terbuka.

5. Kelinci

Kelinci menjadi pilihan menarik bagi masyarakat perkotaan atau yang memiliki lahan terbatas. Hewan ini tidak berisik, tidak membutuhkan ruang luas, dan bisa dipelihara dalam kandang bertingkat. Dari sisi reproduksi, kelinci berkembang biak dengan cepat sehingga potensi peningkatan populasi cukup tinggi dalam waktu singkat.

Daging kelinci dikenal rendah lemak dan memiliki pasar tersendiri. Selain itu, kotorannya dapat langsung dimanfaatkan sebagai pupuk organik tanpa proses fermentasi panjang. Biaya pakan pun relatif rendah karena bisa memanfaatkan hijauan dan sisa sayuran. Kombinasi antara kebutuhan lahan kecil dan biaya operasional ringan menjadikan kelinci salah satu ternak yang efisien untuk usaha rumahan.

6. Burung Kicau

Berbeda dengan ternak konsumsi, burung kicau seperti kenari, murai, dan lovebird menawarkan potensi keuntungan dari segmen hobi dan kontes. Nilai jual burung bisa meningkat drastis apabila memiliki kualitas suara yang baik atau memenangkan perlombaan.

Budidaya burung kicau tidak membutuhkan lahan luas dan bisa dilakukan di rumah dengan kandang gantung. Meski membutuhkan ketelatenan dalam perawatan pakan, kebersihan kandang, serta pelatihan suara, margin keuntungan bisa cukup tinggi. Pasar komunitas pecinta burung yang aktif juga menjadi faktor pendukung keberlanjutan usaha ini.

7. Puyuh

Puyuh termasuk unggas kecil yang cepat bertelur dan tidak memerlukan kandang luas. Dalam waktu relatif singkat, puyuh sudah mulai berproduksi sehingga perputaran modal lebih cepat dibanding unggas lain.

Telur puyuh memiliki permintaan stabil untuk konsumsi rumah tangga maupun industri kuliner. Karena ukuran tubuhnya kecil, biaya pakan dan kebutuhan ruang pun lebih hemat. Inilah yang membuat puyuh sering masuk dalam daftar usaha ternak yang paling mudah dipelihara, terutama untuk skala mikro atau pemula yang ingin mencoba beternak tanpa risiko besar.

Tips Agar Usaha Ternak Tetap Menguntungkan

Meskipun tergolong mudah, setiap jenis ternak tetap membutuhkan manajemen yang baik agar menghasilkan keuntungan maksimal. Pastikan kandang aman dari predator dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Ketersediaan pakan dan air bersih harus terjamin setiap hari karena kualitas pakan sangat memengaruhi produktivitas.

Selain itu, lakukan pemantauan kesehatan secara rutin untuk mencegah penyebaran penyakit. Pilih jenis ternak yang sesuai dengan luas lahan dan kemampuan modal Anda. Yang terpenting, mulailah dari skala kecil agar risiko kerugian bisa ditekan sebelum memperbesar usaha.

Dengan perencanaan matang dan konsistensi perawatan, usaha ternak rumahan tidak hanya menjadi sumber penghasilan tambahan, tetapi juga berpotensi berkembang menjadi bisnis utama yang berkelanjutan.

 

FAQ Seputar Usaha Ternak

1. Ternak apa yang paling cocok untuk pemula dengan modal kecil?

Ikan lele, ayam, dan kelinci adalah pilihan terbaik karena modal rendah dan perawatan mudah.

2. Berapa persen biaya pakan dalam usaha ternak?

Rata-rata biaya pakan bisa mencapai 60 persen dari total biaya operasional.

3. Apakah ternak skala rumahan bisa menguntungkan?

Ya, jika manajemen pakan dan kesehatan hewan baik, keuntungan bisa stabil bahkan berkembang.

4. Berapa lama waktu panen ternak yang cepat menghasilkan?

Lele bisa panen 40–50 hari, puyuh mulai bertelur sekitar 5–6 minggu, ayam petelur sekitar 4–5 bulan.

5. Apa risiko terbesar dalam usaha ternak?

Penyakit, manajemen pakan buruk, dan kurangnya perencanaan pasar menjadi risiko utama.

 

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6