Apakah Ular Padi Berbahaya? Kenali Jenis, Ciri, dan Cara Aman Menghadapinya di Persawahan

Masyarakat sering bertanya, apakah ular padi berbahaya? Artikel ini mengupas tuntas jenis ular sawah, tingkat bahayanya.

Diterbitkan 18 Desember 2025, 07:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bagi masyarakat yang sering beraktivitas di area persawahan atau perkebunan, pertanyaan mengenai apakah ular padi berbahaya sering kali muncul saat mereka berpapasan dengan reptil satu ini. Kekhawatiran ini cukup beralasan, mengingat Indonesia merupakan rumah bagi beragam spesies ular, baik yang tidak berbisa maupun yang memiliki bisa mematikan .

Dijelaskan dalam buku A Field Guide to the Reptiles of Borneo Oleh Indraneil Das (2026: hlm. 336) ular padi tinggal di rawa-rawa, paya, sungai, parit, dan sawah; kadang-kadang dilaporkan dari perairan payau. Makanan terdiri dari krustasea, katak dan telurnya, berudu, dan ikan

Istilah "ular padi" sendiri merupakan sebutan umum yang digunakan masyarakat untuk beberapa jenis ular yang habitatnya dekat dengan persawahan, rawa, atau daerah lembap lainnya. Oleh karena itu, penting untuk tidak menggeneralisasi semua ular yang ditemukan di sawah sebagai satu spesies yang sama. 

Dengan informasi yang akurat dan terstruktur, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam menyikapi keberadaan ular di lingkungan sekitar.  Berikut Liputan6.com mengulas seputar ular padi dari  berbagai sumber, Kamis (18/12/2025).

 

Ular Padi (Hypsiscopus plumbea): Tidak Berbahaya bagi Manusia

Ular Padi (Hypsiscopus plumbea), atau Ular-air kelabu, adalah ular berukuran kecil hingga sedang yang hidup di lingkungan semiakuatik seperti sawah, rawa, kolam, dan aliran air yang lambat di Asia Tenggara.

Karakteristik Fisik dan Habitat

Ular ini memiliki tubuh ramping dengan sisik halus berwarna abu-abu kecokelatan hingga zaitun, terkadang dengan kilau kebiruan. Bagian bawah tubuhnya berwarna lebih terang, seringkali oranye/jingga atau kekuningan, kadang dihiasi bintik-bintik hitam. Panjang tubuhnya dapat mencapai sekitar 48 hingga 50 cm. Ular Padi dapat ditemukan di dataran rendah hingga ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut, berkeliaran di perairan sekitar persawahan, sungai, rawa, atau sumber air lainnya.

Perilaku dan Makanan

Ular Padi aktif pada malam hari, namun sering juga terlihat di siang hari. Makanan utamanya adalah ikan, katak, dan kecebong. Spesies ini bersifat penakut dan akan menghindar jika didekati manusia.

Status Bisa dan Ancaman

Ular Padi (Hypsiscopus plumbea) tidak berbisa dan tidak menimbulkan ancaman melalui bisa terhadap manusia. Gigitannya tidak fatal dan umumnya tidak berbahaya.

Ular Sawah Lain yang Umum Ditemukan (Non-Berbisa)

Selain Hypsiscopus plumbea, ada beberapa jenis ular lain yang sering ditemukan di sawah dan umumnya tidak berbisa mematikan bagi manusia.

Ular Tikus Besar (Ptyas mucosa)

Ular Tikus Besar, atau Bandotan Macan, adalah ular besar dan ramping yang tersebar luas di Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ular ini dapat tumbuh hingga mencapai panjang 3 meter.

Ular Sawah, yang juga dikenal dengan sebutan Ular Tikus Oriental, merupakan salah satu predator tikus yang paling efektif dan umum ditemukan di lingkungan pertanian, termasuk area persawahan. Ular ini tidak berbisa dan membunuh mangsanya dengan cara melilit.

Meskipun umumnya tidak agresif dan akan berusaha kabur jika terganggu, ular ini dapat mendesis keras, mengembangkan lehernya, dan menyerang sebagai bentuk pertahanan diri jika terpojok.

Ular Sapi (Coelognathus radiatus)

Ular Sapi, atau Ular Lanang Sapi, adalah spesies ular berukuran sedang hingga besar yang tersebar luas di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Ular ini memiliki kepala berwarna tembaga atau perunggu dengan tubuh berwarna pucat disertai garis atau belang gelap.

Ular ini tidak memiliki bisa yang berbahaya bagi manusia dan membunuh mangsanya dengan cara melilit (konstriksi). Ular Sapi tidak berbisa dan tidak berbahaya bagi manusia.

Namun, air liurnya dapat mengandung bakteri yang bisa menyebabkan infeksi jika menggigit. Ular ini dikenal karena perilakunya yang defensif, seperti mendesis, menyerang, atau meratakan tubuhnya untuk tampak lebih besar saat merasa terancam.

Ular Air Pelangi (Xenochrophis piscator)

Ular Air Pelangi, yang kadang disebut "ular padi", memiliki ciri khas pola kotak-kotak di bagian punggungnya dan dapat mencapai panjang sekitar 1 meter. Ular ini memiliki bisa yang tergolong ringan (opisthoglyphous) dan umumnya tidak berbahaya bagi manusia, meskipun gigitannya dapat menyebabkan pembengkakan di area yang terkena. Ular ini berperan penting dalam mengendalikan populasi tikus, katak, dan ikan di sawah.

 

Jenis Ular Berbisa yang Sering Ditemukan di Persawahan (Waspada!)

Meskipun banyak ular di sawah tidak berbahaya, ada beberapa spesies berbisa tinggi yang juga menghuni area persawahan dan memerlukan kewaspadaan ekstra.

Ular Weling (Bungarus candidus)

Ular Weling adalah spesies ular berbisa kuat dari famili Elapidae yang endemik di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ular ini memiliki pola garis hitam putih yang khas dan bisanya bersifat neurotoksik, yang dapat menyebabkan kelumpuhan dan kematian dengan tingkat kematian mencapai 70% jika tidak ditangani. Ular weling aktif di malam hari dan sering masuk ke rumah.

Ular Tanah (Calloselasma rhodostoma)

Ular Tanah adalah ular berbisa yang sering bersembunyi di tanah sawah atau lahan lembap. Ular ini memiliki tubuh pendek (kurang dari 1 meter), gemuk, dengan warna cokelat dan pola segitiga, serta kepala lebar. Bisanya mengandung antikoagulan yang mencegah pembekuan darah, menyebabkan pendarahan hebat. Ular ini dikenal agresif saat merasa terancam.

Ular Kobra Jawa (Naja sputatrix)

Ular Kobra Jawa adalah spesies kobra yang sangat berbisa dan dapat ditemukan di sawah. Bisanya bersifat neurotoksik dan sitotoksik, yang dapat menyebabkan kematian. Kobra Jawa juga mampu menyemburkan bisanya. Ular ini adalah predator tikus yang efektif, namun keberadaannya sangat berbahaya.

Ular Welang (Bungarus fasciatus)

Ular Welang adalah kerabat dekat Ular Weling dan juga sangat berbisa. Ular ini memiliki pola garis kuning dan hitam yang mencolok. Bisanya bersifat neurotoksik dan dapat menyebabkan kelumpuhan.

 

Cara Membedakan Ular Berbisa dan Tidak Berbisa

Mampu membedakan ular berbisa dan tidak berbisa adalah keterampilan penting untuk keselamatan di area persawahan.

Ciri Fisik

Bentuk Kepala: Ular berbisa umumnya memiliki kepala berbentuk segitiga yang agak lebar karena keberadaan kelenjar bisa di belakang rahang atas. Sebaliknya, ular tidak berbisa cenderung memiliki kepala lebih lonjong dan proporsional dengan leher.

Pupil Mata: Ular berbisa seringkali memiliki pupil mata vertikal dan pipih tipis, sedangkan ular tidak berbisa umumnya memiliki pupil bulat.

Pola Sisik: Beberapa ular berbisa memiliki pola sisik yang mencolok, seperti belang hitam-putih pada ular weling.

Gigi: Ular berbisa memiliki dua gigi taring besar di rahang atas yang meninggalkan dua lubang gigitan yang jelas. Ular tidak berbisa meninggalkan bekas gigitan berupa deretan gigi kecil.

Perilaku

Defensif vs. Melarikan Diri: Ular berbisa cenderung menunjukkan tanda defensif yang agresif, seperti mendesis, mengangkat kepala, atau mengibas ekor saat merasa terancam. Ular tidak berbisa lebih mudah melarikan diri saat diganggu.

Gerakan: Ular tidak berbisa seperti ular jali cenderung bergerak cepat dan menghindar dari manusia.

Jika ragu, selalu anggap ular tersebut berbisa dan hindari mendekat.

Pertolongan Pertama Gigitan Ular

Gigitan ular, baik berbisa maupun tidak, memerlukan penanganan yang tepat.

Langkah Awal yang Tepat

  1. Jauhkan Korban dari Ular: Pastikan korban berada di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan ular.
  2. Tetap Tenang dan Minimalkan Gerakan: Yakinkan korban agar tetap tenang dan tidak banyak bergerak. Gerakan dapat mempercepat penyebaran bisa melalui sistem limfatik.
  3. Posisikan Area Gigitan Lebih Rendah dari Jantung: Jika memungkinkan, posisikan area yang digigit lebih rendah dari jantung untuk memperlambat penyebaran bisa.
  4. Lepaskan Benda di Sekitar Luka: Lepaskan perhiasan, jam tangan, atau pakaian ketat di sekitar lokasi gigitan karena bisa menyebabkan pembengkakan.
  5. Bersihkan Luka: Bersihkan area gigitan dengan air mengalir dan sabun.
  6. Tutup Luka dengan Perban Bersih: Tutupi gigitan dengan perban bersih dan kering.
  7. Segera Cari Bantuan Medis: Hubungi ambulans atau bawa korban ke fasilitas medis terdekat sesegera mungkin. Ingatlah bentuk dan warna ular jika memungkinkan untuk membantu dokter menentukan penanganan yang tepat.

Hal yang Harus Dihindari

  • Jangan Panik: Panik dapat memperburuk kondisi.
  • Jangan Mengikat (Torniket): Mengikat terlalu kencang dapat menghambat aliran darah dan menyebabkan kerusakan jaringan.
  • Jangan Mengiris atau Menyedot Bisa: Tindakan ini tidak efektif dan justru dapat menyebabkan infeksi sekunder.
  • Jangan Memberikan Minuman Beralkohol atau Kopi: Ini dapat mempercepat penyerapan bisa.
  • Jangan Mencoba Menangkap atau Membunuh Ular: Ini meningkatkan risiko gigitan kedua.

Pencegahan dan Hidup Berdampingan dengan Ular di Sawah

Ular memiliki peran penting dalam ekosistem sawah sebagai predator alami hama seperti tikus. Oleh karena itu, penting untuk mencari cara hidup berdampingan yang aman.

Menjaga Kebersihan Lingkungan

  • Bersihkan Semak dan Tumpukan Jerami: Lingkungan yang dipenuhi semak lebat, tumpukan jerami, kayu, atau sisa tanaman sering menjadi tempat persembunyian favorit ular. Membersihkan area sekitar rumah dan lahan pertanian secara rutin dapat mengurangi daya tarik lingkungan tersebut.
  • Singkirkan Sumber Makanan Ular: Ular datang mencari mangsa seperti tikus, katak, dan serangga. Menjaga kebersihan lingkungan dari hama pengerat dapat mengurangi daya tarik ular.

Mengusir Ular Secara Alami

  • Gunakan Aroma Menyengat: Ular sensitif terhadap bau menyengat. Aroma seperti sereh, daun pandan, bawang putih, atau kapur barus dapat mengganggu kenyamanan indera penciuman ular dan mendorongnya menjauh. Minyak kayu manis dan minyak cengkeh juga dipercaya dapat mengusir ular.
  • Hindari Genangan Air: Genangan air dapat menarik perhatian ular.
  • Buat Penghalang Fisik: Pastikan tidak ada celah atau lubang di dinding atau pondasi rumah yang bisa menjadi akses masuk ular.

 QNA 

1. P: Apakah gigitan ular padi bisa mematikan?

J: Ya. Ular ini memiliki bisa hemotoksik yang merusak jaringan tubuh dan sistem pembekuan darah. Tanpa penanganan medis cepat, gigitannya sangat fatal.

2. P: Apa ciri paling mencolok dari ular padi?

J: Kepalanya berbentuk segitiga yang sangat tegas (seperti mata panah) dan bagian ujung ekornya berwarna cokelat kemerahan atau oranye.

3. P: Bolehkah luka gigitannya diikat kencang?

J: Tidak boleh. Mengikat terlalu kencang (torniket) justru memicu kematian jaringan (nekrosis) lebih cepat. Cukup balut searah dan diamkan (imobilisasi).

4. P: Apakah ular padi takut pada garam?

J: Mitos. Ular tidak takut garam. Cara mengusir yang efektif adalah dengan aroma menyengat seperti karbol, kapur barus, atau minyak kayu putih.

5. P: Di mana ular ini biasanya bersembunyi?

J: Di sela-sela batang padi, dahan pohon yang rendah, atau di balik tumpukan kayu yang lembap. Warnanya yang hijau membuat mereka sulit terlihat. 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6