7 Pakaian Adat Banten Jenis dan Cirinya, Warisan Budaya dari Tanah Jawara

Kenali filosofi, jenis, dan keunikan pakaian adat Banten. Dari Pangsi hitam yang gagah, hingga Jamang Sangsang Suku Baduy sebagai warisan busana Jawara.

Diterbitkan 11 Desember 2025, 03:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Provinsi Banten dikenal lewat keindahan alam Ujung Kulon yang memukau. Banten identik dengan kekayaan budaya yang tercermin lewat busana tradisionalnya. Pakaian adat Banten hingga kini masih lestari dan jadi ikon tersendiri. 

Keberadaan busana tradisional Indonesia yang satu ini sangat dipengaruhi akulturasi budaya yang unik. Perpaduan antara budaya Sunda, Kesultanan Islam, dan nilai kearifan lokal yang dipegang oleh masyarakat adat.  

Menurut buku Mengenal Rumah Adat, Pakaian Adat, Tarian Adat, dan Senjata Tradisional (2009:hlm. 24) Pakaian Adat Banten Pria mirip dengan baju koko. Baju ini dipadukan celana panjang dan kain batik. Selain itu dilengkapi ikat pinggang dan sehelai sarung diselempangkan di bahu. Ikat pinggang bagian depan disisipkan sebuah parang. 

Melansir dari  Ensiklopedi Pakaian Nusantara: Aceh hingga D. I. Yogyakarta Oleh R. Toto Sugiarto dkk, (2021:hlm. 5) menyebutkan terdapat diferensiasi yang jelas antara pakaian untuk keperluan upacara resmi, pakaian keseharian, hingga pakaian khusus masyarakat adat tertentu seperti Suku Baduy.

 

1. Pakaian Adat Panganten

Pakaian Adat Panganten adalah busana yang dikhususkan bagi para mempelai saat melangsungkan resepsi pernikahan. Jika diperhatikan sekilas, pakaian adat Banten untuk pengantin ini punya kemiripan yang cukup signifikan dengan busana pengantin adat Sunda. Hal ini wajar mengingat kedekatan geografis dan rumpun budaya yang sama.  

Busana Pengantin Pria

Mempelai pria tampil gagah dengan memakai atasan berupa baju koko dengan kerah tertutup (sering disebut kerah Shanghai atau kerah tegak). Dipadukan dengan kain samping atau kain batik khas Banten yang dililitkan sebagai bawahan.

Seorang pengantin pria akan mengenakan penutup kepala (bisa berupa blangkon atau topi adat khusus), serta sabuk dari kain batik dengan motif yang senada dengan bawahannya.  

Busana Pengantin Wanita

Sementara itu, mempelai wanita tampil anggun dengan balutan kebaya sebagai atasan. Kebaya ini dibuat dari bahan brokat berkualitas tinggi. Bagian depan kancing kebaya biasanya dipercantik dengan bros kerajinan tangan yang mewah.

Pada bawahannya, ada kain batik Banten (kain samping) yang serasi dengan pasangannya. Ciri khas lainnya adalah selendang yang diselempangkan di bahu, memberikan kesan santun dan elegan. 

 

2. Baju Adat Pangsi

Baju Pangsi menjadi  representasi wajah masyarakat Banten sehari-hari. Pangsi adalah identitas kaum laki-laki Banten, terutama mereka yang berkecimpung dalam dunia persilatan atau kesenian debus.

Etimologi dan Desain

Nama Pangsi merupakan singkatan dari "Pangeusi ka Sisi" atau "pangeusi numpang ka sisi". Artinya adalah sebagai penutup badan yang cara pemakaiannya dililitkan dengan menumpang (membungkus) ke sisi tubuh, seringkali dikencangkan dengan bantuan sarung.

Satu setel baju Pangsi terdiri dari atasan longgar dan celana panjang yang juga longgar, yang dikenal dengan sebutan celana komprang. Potongan longgar ini memungkinkan pemakainya bergerak bebas, sangat cocok untuk aktivitas fisik berat, bekerja di ladang, atau gerakan silat yang butuh kelincahan kaki dan tangan.

Warna dan Penggunaan

Warna kain baju Pangsi adalah hitam atau putih,simbol keseriusan atau kesucian. Dalam konteks budaya Banten yang kental dengan nuansa Jawara, Pangsi hitam sering dipadukan dengan ikat kepala (udeng/lomar) dan golok yang terselip di pinggang, menciptakan aura wibawa yang disegani.

3. Jamang Sangsang: Pakaian Adat Baduy Dalam Pria 

Masyarakat Baduy Dalam menjadi kelompok paling kuat memegang adat. Pakaian adat mereka berwarna putih polos yang belum terpengaruh budaya luar.  Jamang Sangsang diambil dari cara pemakaiannya  yang digantungkan ke badan.

Pada bawahan, pria Baduy Dalam memakai sarung berwarna hitam atau biru tua yang diikatkan pada di pinggang hingga batas lutut, dilengkapi ikat kepala berasal dari kain putih.  

4. Pakaian Adat Wanita Baduy Dalam 

Sama seperti pria Baduy Dalam, atasan wanita berupa baju kurung sederhana. Warnanya putih polos atau terkadang krem dan coklat muda alami. Sedangkan bawahannya didominasi warna hitam atau biru tua polos. Wanita Baduy Dalam tidak diizinkan mengenakan penutup kepala karena adat mereka mewajibkan rambut disanggul cepol dan terlihat. 

Selendang yang mereka gunakan biasanya polos dan difungsikan sebagai gendongan atau untuk membawa hasil kebun.

5. Baju Kampret: Pakaian Adat Pria Baduy Luar 

Pakaian adat Banten pria Baduy Luar ini identik warna hitam dan biru gelap. Baju adat Baduy Luar dikenal dengan nama Baju Kampret (baju kelelawar). Warna hitam  baju Baduy Lua sebagai penanda bahwa mereka adalah lapisan pelindung bagi Baduy Dalam, sekaligus masyarakat yang siap berinteraksi dengan dunia luar.

6. Pakaian Adat Wanita Baduy Luar

Masyarakat Baduy Luar (Panamping) masih memegang adat, namun mereka sudah sedikit lebih terbuka. Atasan wanita Baduy Luar masih berupa baju kurung sederhana, tetapi warnanya tidak terikat pada putih polos. Baju ini didominasi warna hitam, biru tua, atau motif sederhana (kotak-kotak kecil). Meskipun sederhana, baju ini bisa dijahit memakai mesin.

Bawahannya juga sama berupa sarung yang dililitkan hingga mata kaki, berwarna hitam atau biru tua. Kain yang dipakai terkadang sudah menggunakan bahan yang dibeli dari pasar luar Baduy, berbeda dengan Baduy Dalam yang harus menenun sendiri.  

Wanita Baduy Luar diperbolehkan mengenakan kerudung atau penutup kepala sederhana, terutama ketika berinteraksi dengan masyarakat luar atau saat pergi ke pasar. Kerudung ini biasanya berwarna hitam atau biru tua, berfungsi ganda sebagai karembong (selendang).

7. Pakaian Kesultanan Banten

Kerajaan Islam di Banten menorehkan sejarahnya sendiri di dunia pakaian adat Banten. Pria bangsaan biasanya mengenakan baju Sikap atau jas tutup berkerah tinggi yang terbuat dari bahan beludru atau sutra. Warnanya dominan hitam, merah marun, atau biru tua. 

Sedangkan bawahannya adalah celana panjang yang ditutup dengan kain dodot atau kain samping motif khas kesultanan. 

Kaum wanita keraton mengenakan kebaya yang lebih modern dan tertutup. Kebaya ini dipadukan dengan kain batik Banten bermotif Datulaya atau Pamaranggen.

 

 

QNA

Q: Apa nama pakaian adat Banten untuk pria sehari-hari?

A: Pakaian adat Banten untuk pria sehari-hari, terutama yang kental dengan budaya Jawara, disebut Baju Pangsi.

Q: Apa perbedaan utama pakaian Baduy Dalam dan Baduy Luar?

A: Perbedaan utama adalah warna: Baduy Dalam (pria) mengenakan baju putih polos (Jamang Sangsang), sedangkan Baduy Luar (pria) mengenakan baju hitam (Baju Kampret).

Q: Apa nama busana pengantin tradisional Banten?

A: Busana pengantin tradisional Banten disebut Pakaian Adat Panganten, yang memiliki kemiripan dengan busana Sunda.

Q: Apa makna filosofis dari warna putih pada pakaian Baduy Dalam?

A: Warna putih pada pakaian Baduy Dalam melambangkan kesucian, kemurnian, dan belum terpengaruh oleh budaya luar yang dianggap merusak.

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6