Liputan6.com, Jakarta Petugas Bea Cukai India berhasil menggagalkan upaya penyelundupan satwa liar eksotis di Bandara Internasional Chhatrapati Shivaji Maharaj (CSMIA) Mumbai. Insiden ini terjadi pada Minggu, 29 Juni 2025, ketika seorang penumpang kedapatan membawa 16 ekor ular hidup dalam bagasinya. Penangkapan ini mengungkap modus operandi penyelundupan satwa langka melalui jalur udara yang semakin marak.
Penumpang yang diidentifikasi sebagai Goodman Linford Leo, 34 tahun, warga Tamil Nadu, tiba di Mumbai pada Jumat malam, 27 Juni 2025, dari Bangkok, Thailand. Ular-ular tersebut ditemukan tersembunyi dalam kantong-kantong kapas di dalam koper yang dibawanya. Kasus ini menyoroti maraknya perdagangan ilegal hewan eksotis yang menjadi perhatian serius otoritas India. Berikut ulasannya.
Penyitaan Satwa Ilegal yang Ketiga di Juni 2025
"Petugas bea cukai… menggagalkan upaya penyeludupan satwa liar lainnya, 16 ular hidup… disita dari seorang penumpang yang kembali dari Thailand," kata seorang petugas bea cukai di bandara Mumbai seperti dikutip dari AFP, Senin (30/6/2025).
Beberapa ular hidup yang ditemukan merupakan jenis reptil yang biasa diperjualbelikan dalam perdagangan hewan peliharaan. Sebagian besar tidak berbisa atau memiliki bisa yang terlalu lemah untuk membahayakan manusia. Otoritas bea cukai kemudian membagikan foto-foto penemuan tersebut di media sosial. Di antaranya terdapat ular garter, ular king California belang pantai, ular tikus bertanduk (rhino rat snake), dan boa pasir asal Kenya.
Petugas bea cukai di Bandara Mumbai umumnya lebih sering menangani penyelundupan emas, uang tunai, atau ganja. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, kasus penyelundupan satwa liar terus meningkat secara perlahan.
Pada awal Juni, petugas menggagalkan upaya penyelundupan puluhan ular viper berbisa oleh seorang penumpang yang juga datang dari Thailand. Hanya beberapa hari kemudian, petugas kembali menemukan seorang penumpang lain membawa 100 hewan eksotis, termasuk kadal, burung sunbird, dan possum pemanjat pohon.
Sebelumnya, pada bulan Februari, petugas bea cukai juga berhasil menghentikan penyelundup yang membawa lima ekor Siamang gibbon — sejenis kera kecil yang berasal dari hutan-hutan di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Satwa tersebut diklasifikasikan sebagai spesies terancam punah oleh IUCN dan, menurut petugas, telah disembunyikan dengan cara cerdik di dalam peti plastik yang diletakkan dalam koper troli.
Sementara itu, pada November, otoritas bandara juga menemukan seorang penumpang yang mencoba menyelundupkan 12 kura-kura hidup dalam kondisi merayap di dalam bagasinya.
Advertisement
Maraknya Perdagangan Satwa Liar Melalui Jalur Udara
Organisasi pemantau perdagangan satwa liar TRAFFIC, yang berfokus pada pemberantasan penyelundupan hewan dan tumbuhan liar, memperingatkan adanya tren yang “sangat mengkhawatirkan” dalam peredaran ilegal satwa, yang didorong oleh meningkatnya permintaan pasar hewan peliharaan eksotis.
Menurut data TRAFFIC, lebih dari 7.000 hewan, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, telah disita sepanjang rute udara Thailand–India selama tiga setengah tahun terakhir.
Dalam analisisnya, TRAFFIC menyebutkan bahwa meskipun sebagian besar satwa berasal dari Thailand, lebih dari 80% penangkapan terjadi di India. Artinya, India menjadi titik utama tujuan sekaligus tempat penyitaan terbanyak dalam rantai penyelundupan ini. Hal ini menyoroti peran India sebagai titik transit atau tujuan utama dalam jaringan perdagangan satwa liar ilegal. Upaya kolaboratif antara negara-negara sangat dibutuhkan untuk mengatasi ancaman serius terhadap keanekaragaman hayati ini.
"Frekuensi temuan hampir setiap minggu serta beragam jenis satwa yang menuju India sangat memprihatinkan," ujar Kanitha Krishnasamy, Direktur Regional TRAFFIC Asia Tenggara. Ia menambahkan bahwa banyak dari hewan yang disita ditemukan masih hidup, yang menunjukkan bahwa tingginya minat terhadap hewan peliharaan eksotis menjadi pendorong utama perdagangan ilegal ini.
Pertanyaan Umum Seputar Topik
1. Mengapa hewan eksotis sering diselundupkan?
Karena tingginya permintaan pasar untuk hewan peliharaan yang unik dan langka mendorong perdagangan ilegal. Banyak orang tertarik memiliki hewan eksotis meski perdagangannya melanggar hukum.
2. Apa saja hewan yang sering diselundupkan melalui rute Thailand–India?
Jenis yang umum meliputi ular, kura-kura, kadal, burung eksotis, dan mamalia kecil seperti possum atau siamang. Sebagian besar berasal dari Asia Tenggara.
3. Mengapa India menjadi tujuan utama penyelundupan?
India mencatat lebih dari 80% penyitaan satwa liar di sepanjang rute tersebut. Ini menunjukkan bahwa negara tersebut menjadi pasar besar sekaligus jalur transit bagi hewan ilegal.
4. Apa risiko dari perdagangan hewan eksotis ini?
Selain mengancam kelestarian spesies, penyelundupan satwa juga bisa menyebarkan penyakit zoonosis dan merusak keseimbangan ekosistem lokal.
5. Siapa yang memantau dan melawan perdagangan ilegal ini?
Organisasi seperti TRAFFIC dan lembaga bea cukai negara-negara terkait bertugas memantau dan menindak perdagangan satwa liar. Mereka juga melakukan edukasi dan kerja sama internasional.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264115/original/018567300_1782092996-Tugas__39_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258254/original/075445200_1781330306-Tugas__34_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263843/original/065734300_1782021578-Tugas__38_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5370367/original/028709700_1759546468-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-10-04T093301.745.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3030294/original/015512500_1769082557-beautiful-cloudy-summer-dawn-rimini-italy_652240-308.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5292155/original/052387300_1753245892-Screenshot_2025-07-23_114340.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1860538/original/012031000_1557478700-IMG_20190307_174224_257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264299/original/095323600_1782105973-AP26172695358194.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257116/original/079220400_1781213800-000_B6TP7D2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264149/original/054877000_1782096496-063_2282689905-Timnas_Mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264181/original/054321300_1782097612-063_2282690679.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264068/original/012778200_1782078495-000_B7TT4GU.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264045/original/061909400_1782061462-063_2282633998.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264088/original/090012000_1782087024-000_B7TY6Z7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264089/original/060388300_1782087027-000_B7TZ2WM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264097/original/098152700_1782090739-AP26172582885325.jpg)