Patriarki Adalah Sistem Sosial yang Didominasi Laki-laki, Ini Asal Usulnya

Patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama.

Diperbarui 05 Juni 2025, 13:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. Pemahaman tentang patriarki penting untuk menciptakan kesetaraan gender dan keadilan sosial.

Setiap orang, terutama pembuat kebijakan, aktivis gender, dan masyarakat umum perlu memahami konsep ini untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara.

Sistem patriarki telah mengakar kuat dalam budaya Indonesia selama berabad-abad. Fenomena ini mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari struktur keluarga hingga kebijakan publik. Patriarki adalah salah satu faktor utama yang berkontribusi pada ketidaksetaraan gender yang masih terjadi di Indonesia saat ini.

Memahami patriarki adalah langkah penting untuk mengidentifikasi dan mengatasi ketidakadilan gender. Dengan mengenali akar penyebab dan manifestasi patriarki, kita dapat mengembangkan strategi yang efektif untuk mempromosikan kesetaraan dan memberdayakan perempuan di semua sektor masyarakat.

Patriarki bukanlah konsep yang statis, melainkan terus berevolusi seiring waktu dan perubahan sosial. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya, Kamis (5/6/2025).

Patriarki Adalah Budaya Apa?

Patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam berbagai aspek kehidupan. Melansir dari buku "Pengantar Gender dan Feminisme" oleh Alfian Rokhmansyah, dalam masyarakat patriarki, laki-laki dianggap memiliki kekuatan lebih dibandingkan perempuan. Di semua lini kehidupan, masyarakat memandang perempuan sebagai sosok yang lemah dan tidak berdaya.

Pada jurnal yang dilulis oleh A Sultana, patriarki secara harfiah dimaknai sebagai “rule of the father” dan pada mulanya digunakan sebagai sebutan untuk keluarga yang segala peraturannya ditentukan dan didominasi oleh laki-laki. Dalam makna kontemporer dalam jurnal "Menyoroti Budaya Patriarki di Indonesia" karya A.I Sakina, patriarki kini dapat diartikan sebagai dominasi laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan yang kemudian menempatkan perempuan dalam posisi subordinat atau lebih rendah.

Di Indonesia, budaya patriarki telah mengakar kuat selama berabad-abad dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Sistem ini tercermin dalam struktur keluarga tradisional, di mana ayah atau laki-laki dianggap sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan utama. Bahkan, patriarki di Indonesia sudah menjelma sebagai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Menurut studi Wayan dan Nyoman dalam jurnal "Women and Cultural Patriarchy in Politics," keberlanjutan tradisi budaya lokal atau adat yang mengandung nilai-nilai dominasi laki-laki turut menjadi faktor mengapa patriarki sulit dihapuskan dari masyarakat.

Patriarki juga mempengaruhi pembagian peran gender dalam masyarakat, dengan perempuan sering dibatasi pada peran domestik dan pengasuhan anak.

Meskipun Indonesia telah mengalami modernisasi dan kemajuan dalam hal kesetaraan gender, pengaruh patriarki masih terasa dalam berbagai aspek. Misalnya, dalam dunia kerja, perempuan masih menghadapi diskriminasi dan kesenjangan upah. Dalam politik, representasi perempuan di posisi kepemimpinan dan pengambilan keputusan masih relatif rendah dibandingkan laki-laki.

Patriarki di Indonesia juga tercermin dalam beberapa praktik budaya dan interpretasi agama yang cenderung membatasi peran dan hak perempuan. Misalnya, beberapa interpretasi hukum adat dan agama masih memposisikan perempuan sebagai subordinat laki-laki dalam hal warisan, perkawinan, dan perceraian. Patriarki dan stigma yang menyertainya juga menjadi penyebab berbagai ketimpangan gender seperti kekerasan terhadap perempuan dan rendahnya partisipasi perempuan di sektor formal (himiespa.feb.ugm.ac.id).

Namun, penting untuk dicatat bahwa kesadaran akan kesetaraan gender di Indonesia terus meningkat. Gerakan feminis dan aktivis hak-hak perempuan telah bekerja keras untuk menantang norma-norma patriarki dan memperjuangkan hak-hak perempuan.

Beberapa kemajuan telah dicapai, seperti pengesahan undang-undang tentang kekerasan dalam rumah tangga dan peningkatan partisipasi perempuan dalam pendidikan tinggi.

 

Asal Usul Patriarki: Menelusuri Akar Dominasi Laki-Laki

Patriarki merupakan sebuah sistem sosial yang sudah sangat melekat dalam struktur masyarakat sejak zaman dahulu kala. Menurut Bahlieda dalam jurnal "Chapter 1: THE LEGACY OF PATRIARCHY", patriarki berawal dari sejarah panjang yang berkaitan dengan kontrol, kekuatan, dan kekuasaan yang pada akhirnya seringkali berujung pada kekerasan. Sejarah ini menunjukkan bahwa dominasi laki-laki bukan sekadar sebuah kebetulan, melainkan hasil dari proses panjang yang melibatkan unsur kekerasan dan penaklukan.

Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Christ pada jurnal "A New Definition of Patriarchy: Control of Women’s Sexuality, Private Property, and War", yang menyatakan bahwa budaya dominasi laki-laki berakar dari konteks peperangan di masa lalu. Pada masa tersebut, kekerasan dianggap sebagai sesuatu yang sah bahkan suci, diperkuat dengan simbol-simbol religius yang menghormati laki-laki sebagai pahlawan perang. Sementara itu, perempuan ditempatkan dalam peran domestik dan diminta untuk tetap tinggal di rumah, jauh dari arena kekuasaan dan pertarungan.

Seiring berjalannya waktu, patriarki tidak hanya berhenti sebagai sebuah kebiasaan atau tradisi, melainkan berkembang menjadi sebuah sistem dan ideologi yang mengakar kuat dalam masyarakat. Dominasi laki-laki kini bukan lagi dilihat sebagai fenomena sementara, tetapi dianggap sebagai sebuah normalitas yang melekat, di mana laki-laki dianggap secara alamiah memiliki kedudukan lebih tinggi daripada perempuan. Sistem patriarki ini juga membawa konsekuensi serius berupa penindasan terhadap perempuan .

Menurut Johnson pada "The Gender Knot: Unraveling Our Patriarchal Legacy", patriarki sebagai sistem sosial mencakup serangkaian ide-ide kultural yang mengatur identitas gender, siapa perempuan dan siapa laki-laki, serta peran dan tanggung jawab yang seharusnya mereka emban. Lebih dari itu, patriarki juga menimbulkan distribusi sumber daya dan penghargaan yang tidak merata antara laki-laki dan perempuan, yang menjadi dasar terjadinya penindasan terhadap perempuan. Ketidaksetaraan ini bukan hanya terjadi di ranah domestik, melainkan juga merambah ke aspek kehidupan yang lebih luas seperti hukum, politik, dan ekonomi.

Dengan demikian, patriarki bukanlah sekadar sebuah kebudayaan lama yang bersifat statis, melainkan sebuah sistem yang terus berkembang dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat secara menyeluruh, menegaskan dominasi laki-laki dan subordinasi perempuan secara sistematis.

Contoh Budaya Patriarki

  1. Kepala keluarga selalu laki-laki
  2. Perempuan diharapkan mengambil nama suami setelah menikah
  3. Warisan yang lebih besar untuk anak laki-laki
  4. Stereotip bahwa laki-laki lebih rasional dan perempuan lebih emosional
  5. Ekspektasi bahwa perempuan harus mengurus rumah tangga
  6. Pembatasan akses pendidikan bagi perempuan
  7. Posisi kepemimpinan yang didominasi laki-laki
  8. Upah yang lebih rendah untuk pekerja perempuan
  9. Objectifikasi tubuh perempuan dalam media
  10. Pembatasan kebebasan berpakaian bagi perempuan
  11. Praktik poligami yang hanya memperbolehkan laki-laki beristri lebih dari satu
  12. Mitos bahwa perempuan tidak cocok untuk pekerjaan teknis atau sains
  13. Pengambilan keputusan keluarga yang didominasi suami
  14. Anak laki-laki lebih diharapkan daripada anak perempuan
  15. Perempuan diharapkan untuk selalu tampil cantik dan menarik
  16. Pembatasan mobilitas perempuan di malam hari
  17. Perempuan dianggap tidak pantas menjadi pemimpin agama
  18. Laki-laki dianggap lebih layak menjadi pemimpin politik
  19. Stereotip bahwa perempuan adalah penggoda dan sumber fitnah
  20. Perempuan diharapkan untuk mengalah dan mengutamakan keluarga daripada karier
  21. Mitos bahwa perempuan tidak bisa menyetir dengan baik
  22. Laki-laki dianggap lebih pantas menjadi tentara atau polisi
  23. Perempuan dianggap tidak pantas tinggal sendiri
  24. Ekspektasi bahwa perempuan harus menikah dan punya anak
  25. Mitos bahwa perempuan tidak bisa menjadi atlet hebat
  26. Perempuan diharapkan untuk selalu lemah lembut dan mengalah
  27. Laki-laki dianggap lebih pantas menjadi eksekutif perusahaan
  28. Perempuan dianggap tidak pantas merokok atau minum alkohol
  29. Mitos bahwa perempuan tidak bisa menjadi pemimpin yang tegas
  30. Perempuan diharapkan untuk mengorbankan karier demi keluarga

Cara Bertahan di Tengah Patriarki

Berikut beberapa cara untuk bertahan dan melawan patriarki:

1. Pendidikan dan Kesadaran Kritis

Meningkatkan pemahaman tentang konsep gender, kesetaraan, dan hak asasi manusia. Pendidikan membantu individu mengenali dan menantang asumsi-asumsi patriarki yang selama ini dianggap normal.

2. Pemberdayaan Ekonomi

Mendorong kemandirian ekonomi perempuan melalui pendidikan, pelatihan keterampilan, dan akses ke pekerjaan yang layak. Kemandirian ekonomi dapat mengurangi ketergantungan perempuan pada laki-laki.

3. Partisipasi Politik

Meningkatkan keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan politik di semua tingkatan. Representasi yang lebih besar dapat membantu menghasilkan kebijakan yang lebih sensitif gender.

4. Membangun Jaringan dan Solidaritas

Bergabung dengan organisasi atau kelompok yang memperjuangkan kesetaraan gender. Solidaritas dapat memberikan dukungan emosional dan praktis dalam menghadapi tantangan patriarki.

5. Menantang Stereotip Gender

Secara aktif menantang dan menolak stereotip gender yang membatasi potensi individu. Ini bisa dimulai dari lingkungan terdekat seperti keluarga dan tempat kerja.

Patriarki adalah sistem sosial yang telah lama mengakar, namun bukan berarti tidak bisa diubah. Adanya pemahaman yang tepat dan upaya kolektif, siapa saja dapat menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara bagi semua gender.

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6