Huruf Mad Ada Tiga yaitu Alif (أ), Wawu (و), dan Ya' (ي), Pahami Hukum Bacaannya

Secara etimologi, mad memiliki arti 'panjang' yang terdiri dari tiga huruf.

Diperbarui 16 Juni 2025, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Secara etimologi, mad memiliki arti 'panjang' sebagaimana dijelaskan dalam buku Be Smart PAI karya Tuti Yustiani. Lalu, pengertian mad dalam istilah tajwid adalah melebihkan atau memanjangkan bunyi bacaan karena adanya pertemuan antara huruf hijaiyah yang memiliki harakat tertentu dengan huruf tertentu pula.

Huruf mad ada tiga. Adanya tiga huruf mad, yaitu alif (أ), wawu (و), atau ya' (ي).

Misalnya, dalam penulisan Al-Qur'an, ketika huruf-huruf mad ini bertemu dengan beberapa kombinasi huruf lain, akan terjadi perpanjangan atau penambahan suara pada bacaan, menyesuaikan aturan yang telah ditetapkan. Hal ini mempengaruhi cara pelafalan huruf dan kata-kata dalam Al-Qur'an, sehingga pembacaannya sesuai dengan norma tajwid yang ditetapkan.

Pengetahuan tentang hukum bacaan mad dan tiga huruf mad merupakan landasan bagi keselarasan dalam membaca Al-Qur'an. Memahami kaidah-kaidah ini, pembaca dapat menyesuaikan bacaannya sesuai dengan aturan tajwid yang ditetapkan, menghasilkan bacaan yang baik dan benar.

Berikut Liputan6.com ulas lebih mendalam tentang huruf mad ada tiga dan hukum bacaan mad, Senin (16/6/2025).

Huruf Mad Ada Tiga

Mad adalah salah satu hukum bacaan dalam ilmu tajwid Al-Qur'an yang mengatur cara memanjangkan suara dalam pembacaan ketika huruf mad bertemu dengan huruf lainnya. Memahami hukum bacaan ini menjadi hal yang sangat penting bagi setiap pembaca Al-Qur'an, karena memberikan panduan dalam membaca dengan benar sesuai dengan aturan tajwid.

Huruf mad ada tiga, yaitu apa saja?

Institut Agama Islam Negeri Kediri atau IAIN Kediri, menjelaskan bahwa huruf mad ada tiga yaitu alif (ا), wawu (و), dan ya' (ي‎). Huruf-huruf ini harus berbaris mati atau saktah untuk menerapkan aturan mad.

1. Alif (أ) adalah huruf vokal panjang

Saat huruf mad alif (ا) muncul di awal kata sebelum huruf berharakat fathah (ـَ), terjadi apa yang disebut dengan mad wajib muttasil. Dalam hal ini, alif harus diperpanjang selama dua waktu fathah.

2. Wawu (و) adalah huruf vokal panjang lainnya

Saat huruf mad wawu (وْ) berada setelah huruf berharakat dhammah (ـُ), hal ini menyebabkan terjadinya mad wajib muttasil, yang mengharuskan wawu tersebut diperpanjang selama dua waktu dhammah.

3. Ya' (ي) juga termasuk huruf vokal panjang yang pengaruhi bacaan

Mad wajib muttasil terjadi ketika ya' mati (يْ) bertemu dengan huruf berharakat kasrah (ـِ). Dalam hal ini, huruf mad ya' harus diperpanjang selama dua waktu kasrah.

Mad dalam ilmu tajwid adalah memanjangkan suara dengan huruf di antara huruf mad atau huruf layyin ketika bertemu dengan hamzah atau sukun, atau karena sebab tertentu. Cara membaca mad bervariasi tergantung pada huruf mad yang muncul dalam Al-Qur'an.

Dalam buku berjudul Dasar-Dasar Ilmu Tajwid oleh Marzuki dan Choirol Ummah, misalnya, huruf wawu mati (وْ) dimad jika berada setelah huruf berharakat dhammah (ُ-), huruf ya' mati (يْ) dimad jika setelah huruf berharakat kasrah (ِ-), dan huruf alif (ا) dimad jika setelah huruf berharakat fathah (ﹷ).

 

Hukum Bacaan Mad

Hukum bacaan mad dalam ilmu tajwid dibagi menjadi dua cabang utama, yakni mad thabi'i (mad asli) dan mad far'i. Berikut penjelasan lebih rinci tentang keduanya, sebagaimana dijelaskan Tuti Yustiani:

Mad Thabi'i atau Mad Asli

Mad thabi'i adalah mad yang terjadi secara alami atau asli. Ini berarti mad ini muncul ketika bacaan huruf hijaiyah yang berharakat fathah bertemu dengan huruf alif mati (ا), bacaan berharakat kasrah bertemu dengan huruf ya mati ( يْ ), dan bacaan berharakat dammah bertemu dengan huruf wau mati ( وْ ).

Contohnya, ketika membaca kata "قَـالَ" lalu alif mati berada setelah berharakat fathah, ini adalah contoh mad thabi'i.

Mad Far’i

Mad far'i, dalam arti harfiah, berarti "cabang." Jenis mad far'i memiliki berbagai hukum bacaan yang berbeda, yakni:

  1. Mad ‘Iwad: Terjadi ketika huruf hijaiyah dengan harakat tanwin fathatain bertemu dengan huruf alif (ا) atau ya (ﻱ). Jika dibaca waqaf, bacaannya panjang sekitar dua harakat.
  2. Mad Badal: Terjadi ketika hamzah mati diganti dengan huruf mad, dan bacaannya panjang sekitar dua harakat.
  3. Mad Layyin: Muncul ketika huruf hijaiyah dengan harakat fathah bertemu dengan huruf ya mati ( يْ ) atau wau mati ( وْ ), dan jika dibaca waqaf, bacaannya panjang, sekitar empat harakat.
  4. Mad Silah Qasirah: Terjadi jika ada huruf ha besar (ھ) di akhir kata, bacaannya panjang sekitar dua harakat.
  5. Mad Silah Tawilah: Muncul ketika huruf ha (ھ) berada di akhir kata dan bertemu dengan huruf alif pada kata berikutnya. Bacaannya panjang, sekitar empat harakat.
  6. Mad Lazim Mukhaffaf Kilmi: Terjadi ketika mad badal diikuti oleh huruf mati, dan bacaannya panjang sekitar enam harakat.
  7. Mad Wajib Muttasil: Terjadi ketika mad thabi'i bertemu dengan hamzah dalam satu kata. Bacaannya menjadi panjang, biasanya lima hingga enam harakat.
  8. Mad Jaiz Munfasil: Mad thabi'i bertemu dengan hamzah pada kata berikutnya. Bacaannya panjang, sekitar lima harakat.
  9. Mad ‘Arid Lissukun: Mad thabi'i bertemu dengan huruf hijaiyah hidup yang dibaca mati atau terjadi waqaf (berhenti). Bacaannya menjadi panjang, biasanya lima hingga enam harakat.
  10. Mad Tamkin: Terjadi ketika dua huruf ya' bertemu, di mana huruf ya' pertama memiliki harakat tasydid dan kasrah, sementara huruf ya' kedua berharakat sukun. Bacaannya panjang, sekitar dua harakat.
  11. Mad Farqu: Terjadi ketika dua hamzah bertemu, yaitu hamzah istifham (untuk bertanya) dan hamzah washal pada alif lam ma'rifah (ال), dan bacaannya menjadi panjang, hingga mencapai enam harakat.
  12. Mad Lazim Mutsaqal Kilmi: Terjadi ketika mad thabi'i bertemu dengan huruf hijaiyah yang bertasydid, dan bacaannya panjang sekitar enam harakat.
  13. Mad Lazim Mukhaffaf Harfi: Berlaku pada huruf-huruf mad pada awal surat, dengan lima huruf berlaku (ر, ھ, ط, ﻱ, ح).
  14. Mad Lazim Musaqal Harfi: Muncul pada permulaan surat dengan huruf yang dibaca sesuai dengan nama hurufnya, dan delapan huruf berlaku (م , ك, ل, س, ع, ص, ق, ن) dengan bacaan panjang sekitar enam harakat.

 

 

 

FAQ tentang Bacaan Mad dalam Ilmu Tajwid

1. Apa itu bacaan mad dalam ilmu tajwid?

Secara bahasa, mad berarti memanjangkan atau menambah. Menurut istilah dalam ilmu tajwid, mad adalah bacaan panjang pada huruf hijaiyah dalam Al-Qur’an yang terjadi karena bertemu dengan salah satu dari tiga huruf mad, yaitu alif mati (ا) setelah fathah (ـَـ), ya’ sukun (يْ) setelah kasrah (ـِـ), dan wawu sukun (وْ) setelah dhammah (ـُـ).

2. Apa saja jenis-jenis bacaan mad dalam ilmu tajwid?

Bacaan mad terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu:

  • Mad Thabi’i (mad asli): Bacaan mad dasar yang dibaca dua harakat, tanpa ada tambahan sebab.
  • Mad Far’i (mad cabang): Bacaan mad yang terjadi karena sebab tambahan, seperti bertemunya mad dengan hamzah atau tasydid. Mad far’i memiliki 14 jenis, antara lain Mad Wajib Muttashil, Mad Jaiz Munfashil, Mad Lazim, Mad Layyin, Mad ‘Aridh Lissukun, dan lainnya.

3. Kapan bacaan mad thabi’i terjadi dan bagaimana cara membacanya?

Mad thabi’i terjadi jika:

  • Huruf alif mati (ا) berada setelah fathah (contoh: بَا)
  • Huruf ya’ sukun (يْ) setelah kasrah (contoh: فِيْ)
  • Huruf wawu sukun (وْ) setelah dhammah (contoh: رُوْ)

Cara membacanya adalah dipanjangkan dua harakat (dua ketukan tempo). Contoh dalam Al-Qur’an:

فِيْ صُدُوْرِ (QS An-Nas: 5)

اَعُوْذُ (QS An-Nas: 1)

4. Apa perbedaan antara Mad Wajib Muttashil dan Mad Jaiz Munfasil?

  • Mad Wajib Muttashil terjadi jika mad thabi’i bertemu dengan hamzah dalam satu kata. Dibaca lima harakat. Contoh: سَوَاۤءٌ (QS Al-Baqarah: 6)
  • Mad Jaiz Munfasil terjadi jika mad thabi’i bertemu hamzah dalam kata berbeda (terpisah). Dibaca lima harakat juga. Contoh: اَلَآ اِنَّهُمْ (QS Al-Baqarah: 12)

5. Apa itu Mad ‘Aridh Lissukun dan kapan diterapkan?

Mad ‘Aridh Lissukun terjadi ketika bacaan berhenti (waqaf) pada akhir kata yang sebelumnya terdapat huruf mad atau mad layyin. Karena berhenti, maka huruf terakhir menjadi sukun. Cara membacanya bisa dua, empat, atau enam harakat, dengan enam harakat lebih utama. Contoh: بِاَصْحٰبِ الْفِيْلِ (QS Al-Fiil: 1), ketika diwaqafkan di kata الْفِيْلِ.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6