Berbakti Kepada Orang Tua Dikenal dengan Istilah Birrul Walidain, Ketahui Hukum dan Pahalanya

Dalam ajaran agama Islam, berbakti kepada orang tua dikenal dengan istilah birrul walidain, yang mana itu hukumnya wajib.

Diperbarui 12 Juni 2025, 14:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Setiap muslimin baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan untuk berbakti kepada orang tua. Dalam ajaran agama Islam, berbakti kepada orang tua dikenal dengan istilah birrul walidain. Birrul walidain hukumnya fardhu ain, yang artinya hal itu wajib dilakukan oleh setiap muslim, sebagaimana Allah SWT berfirman,

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. (QS. Al-Isra ayat 23)

Berbakti kepada orang tua dikenal dengan istilah birrul walidain. Tak hanya sekedar diperintahkan, ada pahala besar menanti bagi orang yang berbakti kepada kedua orang tua yang wajib dipahami.

Kewajiban untuk berbakti kepada orang tua tidak hanya terbatas kepada orang tua muslim saja. Jadi, meskipun orang tua kita merupakan seorang non-muslim, kita juga wajib berperilaku baik terhadapnya. Sebab, berbakti kepada orang tua adalah salah satu bentuk bakti kita kepada Allah SWT.

Untuk lebih memahami alasan mengapa kita wajib berbakti kepada orang tua, berikut penjelasan selengkapnya seperti yang telah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (12/6/2025).

Dalil Hukum Birrul Walidain

Dalam ajaran agama Islam, berbakti kepada orang tua dikenal dengan istilah birrul walidain. Adapun hukum birrul walidain adalah fardhu ain, yang artinya setiap muslim wajib berbakti kepada orang tua.

Terlepas dari segala jasa-jasa orang tua yang telah memberikan kasih sayang dan segala kebutuhan sehingga kita bisa tumbuh dewasa, alasan utama mengapa kita harus berbakti kepada orang tua adalah karena hal itu adalah perintah Allah SWT.

Bahkan dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa kewajiban untuk berbakti kepada orang tua tidak terbatas pada orang tua muslim saja. Kepada orang tua yang tidak beragama Islam pun, kita juga wajib berperilaku baik kepadanya.

 

Menurut jurnal “Pemahaman Konsep Al‑Qur’an tentang Birrul Walidain” (UIN Walisongo, 2023), birrul walidain merupakan bentuk syukur kepada Allah atas karunia kelahiran, pemeliharaan, dan didikan orang tua. Ia menegaskan ketundukan perilaku—seperti bicara lemah lembut, hormat secara lahir dan batin—harus dilakukan sepanjang hayat.

Semantic Scholar (2023) mendefinisikan birrul walidain sebagai tindakan kasih sayang, perhatian, dan kelembutan terhadap orang tua. Ini merangkum makna etimologis walidain (ayah dan ibu), menegaskan sifat wajibnya sebagai amar makruf dan pemenuhan hak keluarga

Dikisahkan putri Abu Bakar RA, Asmaa memiliki seorang ibu non-muslim yang tinggal di Makkah, sedangkan Asmaa telah bermigrasi dengan ayahnya dan seluruh umat Islam ke Madinah. Setelah perjanjian Hudaibiyah, mereka bisa saling mengunjungi. Ibunya datang ke Madinah untuk mengunjungi Asmaa. Dia menginginkan beberapa hadiah dan sumbangan dari anaknya.

Asmaa lantas bertanya kepada Rasulullah terkait permintaan ibunya karena ia tahu ibunya sangat membenci Islam. Nabi SAW kemudian bersabda. "Ya, lakukan tindakan kebaikan padanya," (Al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

Dalam ajaran agama Islam, berbakti kepada orang tua dikenal dengan istilah birrul walidain, dan itu hukumnya wajib, tanpa membedakan apakah orang kita seorang muslim atau tidak. Meski demikian, dalam berbakti kepada orang tua harus berdasarkan ketentuan-ketentuan yang diajarkan dalam Islam.

Ketentuan Berbakti kepada Orang Tua

Dalam ajaran agama Islam, berbakti kepada orang tua hukumnya wajib. Artinya sebagai muslim kita wajib berbakti kepada orang tua dengan berperilaku baik terhadapnya. Berbakti kepada orang tua dikenal dengan istilah birrul walidain.

Menurut penelitian yang terbit dalam jurnal Birr al-wālidayn: Studi Komparatif Penafsiran Surah al-Isrā’ 23-24 Perspektif Ibn Kathīr dan M. Quraish Shihab, disebutkan, para mufasir seperti Ibnu Kathir dan Quraish Shihab menekankan bahwa ketentuan birrul walidain mencakup ucapan sopan, layanan kasih, dan bentuk penghormatan penuh, selama tidak bertentangan dengan Allah. 

Meski kita diwajibkan untuk berbakti kepada orang tua, bukan berarti kita harus selalu mematuhi segala perintah orang tua. Ketaatan dan kepatuhan terhadap orang tua hanyalah salah satu bentuk bakti kita kepada orang tua.

Selain itu, ada beberapa kondisi yang harus dipenuhi sehingga membuat kita harus patuh kepada orang tua. Adapun cara untuk berbakti kepada orang tua yang masih hidup adalah sebagai berikut:

1. Mentaati Selama Tidak Mendurhakai Allah

Mentaati kedua orang tua hukumnya wajib atas setiap Muslim. Haram hukumnya mendurhakai keduanya. Tidak diperbolehkan sedikit pun mendurhakai mereka berdua kecuali apabila mereka menyuruh untuk menyekutukan Allah atau mendurhakai-Nya.

2. Berbakti dan Merendahkan Hati

Perintah berbuat baik ini lebih ditegaskan jika usia kedua orang tua semakin tua dan lanjut hingga kondisi mereka lemah dan sangat membutuhkan bantuan dan perhatian dari anaknya.

Di antara bakti terhadap kedua orang tua adalah menjauhkan ucapan dan perbuatan yang dapat menyakiti kedua orang tua, walaupun dengan isyarat atau dengan ucapan ‘ah’. Termasuk berbakti kepada keduanya adalah senantiasa membuat mereka ridha dengan melakukan apa yang mereka inginkan, selama hal itu tidak mendurhakai Allah.

Program akademik lain dari UIN Suska (tesis 2022) menggarisbawahi bentuk konkret birrul walidain: patuh, hormat, ridho, serta silaturahim, semuanya berbasis Al-Qur’an‐profil humanitarian dan akhlak keluarga

Wujud bakti kita juga bisa ditunjukkan dengan tidak mengeraskan suara melebihi suara kedua orang tua atau di hadapan mereka berdua. Tidak boleh juga berjalan di depan mereka, masuk dan keluar mendahului mereka, atau mendahului urusan mereka berdua.

3. Meminta Izin Sebelum Berjihad dan Urusan Lainnya

Izin kepada orang tua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan. Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah dan bertanya: “Ya Rasulullah, apakah aku boleh ikut berjihad?” Beliau balik bertanya: “Apakah kamu masih mempunyai kedua orang tua?” Laki-laki itu menjawab: “Masih.” Beliau bersabda: “Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya.”

Hadits lain menyebutkan: Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah dan berkata: “Aku datang membaiatmu untuk hijrah dan aku tinggalkan kedua orang tuaku menangisi (kepergianku).” Maka Nabi bersabda: “Pulanglah dan buatlah mereka tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka menangis.”

4. Memberikan Harta Kepada Orang Tua Menurut Jumlah yang Mereka Inginkan

Rasulullah pernah bersabda kepada seorang laki-laki, ketika ia berkata: “Ayahku ingin mengambil hartaku.” Nabi bersabda: “Kamu dan hartamu milik ayahmu.” Oleh sebab itu, hendaknya seseorang jangan bersikap bakhil (kikir) terhadap orang yang menyebabkan keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil dan lemah, serta telah berbuat baik kepadanya.

5. Tidak Mencela Orang Tua atau Tidak Menyebabkan Mereka Dicela Orang Lain

Mencela orang tua dan menyebabkan mereka dicela orang lain termasuk salah satu dosa besar. Rasulullah bersabda: “Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela orang tuanya.” Para Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apa ada orang yang mencela orang tuanya?” Beliau menjawab: “Ada. Ia mencela ayah orang lain kemudian orang itu membalas mencela orang tuanya. Ia mencela ibu orang lain lalu orang itu membalas mencela ibunya.”

6. Mendahulukan Ibu daripada Ayah

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah: “Siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Laki-laki itu bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?” Beliau kembali menjawab: “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya: “Kemudian siapa lagi? Beliau menjawab: “Ibumu.” “Lalu siapa lagi?” tanyanya. “Ayahmu.” Jawab beliau.

Maksud lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibu yaitu lebih bersikap lemah lembut, lebih berperilaku baik dan memberikan sikap yang lebih halus daripada ayah.

 

Cara Berbakti kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal

Dalam ajaran agama Islam, berbakti kepada orang tua hukumnya wajib. Berbakti kepada orang tua dikenal dengan istilah birrul walidain. Melansir dari jurnal Berbakti Kepada Orang Tua dalam Ungkapan Hadis diterbitkan UIN Sunan Gunung Djati disebutkann bahwa bakti kepada orang tua setara dengan keimanan, jihad, dan ketakwaan, bahkan tetap wajib dilakukan meskipun orang tua telah wafat.

Dilansir dari laman resmi Pesantren Al-Irsyad, menekankan pentingnya doa, derma cukur rambut qurban, dan melaksanakan sunnah mereka sebagai bentuk tanggung jawab spiritual dan emosional

 

Kewajiban kita untuk berbakti kepada orang tua bahkan tidak akan terputus meski orang tua telah meninggal. Adapun cara berbakti kepada orang tua yang telah meninggal adalah sebagai berikut:

1. Menshalati Keduanya

Maksud menshalati tidak hanya terbatas melaksanakan shalat jenazah sebelum memakamkan orang tua yang meninggal, tapi juga mendoakan keduanya. Yakni, setelah salah satu atau keduanya meninggal dunia, kita berdoa kepada Allah SAT agar orang tua kita diberikan ampunan.

Sabda Rasulullah: “Apabila manusia sudah meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan dirinya.”

Adapun bacaan doa untuk kedua orang tua yang telah meninggal adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْاَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا، خُصُوْصًا إِلَى آبَاءِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَلِأَصْحَابِ الحُقُوْقِ عَلَيْنَا

Allāhummaghfir lil muslimīna wal muslimāt, wal mukminīna wal mukmināt, al-ahyā'i minhum wal amwāt, min masyāriqil ardhi ilā maghāribihā, barrihā wa bahrihā, khushūshan ilā ābā'inā, wa ummahātinā, wa ajdādinā, wa jaddārinā, wa asātidzatinā, wa mu'allimīnā, wa li man ahsana ilainā, wa li ashhābil huquqi 'alaynā.

Artinya: "Ya Allah, ampunilah mukminin, mukminat, muslimin, muslimat, yang masih hidup, yang telah wafat, yang tersebar dari timur hingga barat, di darat dan di laut, khususnya bapak, ibu, kakek, nenek, ustadz, guru, mereka yang telah berbuat baik terhadap kami, dan mereka yang masih memiliki hak terhadap kami."

2. Mewujudkan Wasiatnya

Cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal juga bisa diwujudkan dengan mewujudkan wasiatnya. Hendaknya seseorang menunaikan wasiat orang tua dan melanjutkan secara berkesinambungan amalan-amalan kebaikan yang dahulu pernah dilakukan keduanya. Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amalan kebaikan yang dulu pernah dilakukan dilanjutkan oleh anak-anaknya.

3. Memuliakan dan Menyambung Silaturahmi Kerabat dan Teman-temannya

Memuliakan teman dan menyambung silaturahmi kerabat dan teman kedua orang tua juga termasuk berbuat baik kepada orang tua. Ini dijelaskan dalam sebuah hadis, di mana Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya bakti anak yang terbaik adalah yang menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman orang tua setelah mereka meninggal.”

 

Pahala Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Pahala berbakti kepada orang tua sangat tinggi dalam pandangan Islam. Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik menyatakan bahwa “Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezkinya, hendaknya ia berbakti kepada kedua orang tuanya” (HR Ahmad).

Pernyataan ini diperkuat dalam laman resmi DPP Pendidikan Agama Islam UII yang menjelaskan bahwa bakti kepada orang tua bukan hanya menambah panjang umur, tetapi juga membuka keberkahan dalam hidup dan menjadi jalan menuju surga.

Sebagaimana dijelaskan "Pintu surga paling tengah diperuntukkan bagi orang yang berbakti dan merawat kedua orang tuanya."

Penelitian ilmiah juga menegaskan keistimewaan ini. Sebuah tesis dari UIN Suska Riau menyebutkan bahwa birrul walidain merupakan sebab utama datangnya ketenangan batin, keberkahan rumah tangga, serta rahmat dari Allah SWT (Wirdad, 2023).

Penulis menambahkan bahwa anak-anak yang menjaga hubungan emosional dan tanggung jawab terhadap orang tuanya akan lebih cenderung mendapatkan keistimewaan dunia akhirat. Ini bukan hanya perkara ibadah, tetapi juga menjadi jembatan sosial dan spiritual dalam membentuk karakter umat.

Ahli tafsir seperti al-Munawwir dan Al-Hafizh Zakiyyuddin pun menegaskan pentingnya birrul walidain. Mereka menyebut bahwa berbakti kepada orang tua adalah bentuk nyata dari syukur atas nikmat kelahiran dan pengasuhan, serta menjadi penyebab dihapuskannya dosa-dosa besar (Humanisa, 2023).

Dalam artikelnya, disebutkan: “Berbakti kepada kedua orang tua adalah amalan paling utama mendatangkan pahala besar dari Allah SWT.” (Al‑Manar, UIN Khas, 2023) 

Penjelasan Ridho Allah Tergantung Ridho Orang Tua

Hadis terkenal yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar menyatakan: “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” Hadis ini disahihkan oleh Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim.

Ini mempertegas bahwa hubungan spiritual antara anak dan Allah bergantung pada bagaimana ia memperlakukan kedua orang tuanya. Situs resmi Yayasan Assunnah (2021) menguraikan bahwa seseorang yang memperoleh ridha orang tuanya akan mendapatkan jalan barakah dari Allah SWT secara langsung.

Dalam penjelasan tafsir modern dari Kitabul Jaami’ (bagian dari kitab Bulugul Maram) disebutkan bahwa orang tua adalah "pintu surga", dan kehilangan kesempatan untuk merawat serta menyenangkan hati mereka adalah kehilangan besar dalam kehidupan keimanan seseorang.

Secara simbolik, Allah menempatkan keridhaan-Nya dalam apresiasi orang tua, dan hal ini adalah bentuk penghormatan ilahi terhadap pengasuhan dan pengorbanan mereka.

Pertanyaan Umum Seputar seputar Birrul Walidain (Berbakti Kepada Orang Tua)

1. Apa itu birrul walidain?

Birrul walidain adalah istilah dalam Islam yang berarti berbuat baik, menghormati, dan memenuhi hak kedua orang tua dengan penuh kasih dan kesungguhan, baik saat mereka masih hidup maupun sudah wafat.

2. Apakah birrul walidain hanya berlaku selama orang tua masih hidup?

Tidak. Kewajiban berbakti tetap berlaku meskipun orang tua telah meninggal, seperti dengan mendoakan, melunasi utangnya, menjaga hubungan baik dengan kerabat mereka, dan melanjutkan amal jariyah atas nama mereka.

3. Apa konsekuensi jika durhaka kepada orang tua?

Durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa murka Allah datang bersama murka orang tua. Artinya, Allah tidak akan meridhoi seorang anak yang durhaka.

4. Bagaimana cara berbakti kepada orang tua dalam kehidupan sehari-hari?

Dengan berbicara sopan, membantu kebutuhan mereka, mendengarkan nasihat, memberi nafkah jika mampu, serta memperlakukan mereka dengan hormat dan penuh cinta setiap saat.

5. Apakah ada keutamaan duniawi bagi anak yang berbakti kepada orang tuanya?

Ada. Di antaranya adalah diperpanjang umurnya, dilapangkan rezekinya, hidupnya diberkahi, serta mendapatkan doa dan ridha dari kedua orang tua yang mustajab di sisi Allah.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6