Liputan6.com, Jakarta - Broken home artinya sering dipahami sebagai kondisi keluarga tidak utuh akibat perceraian atau konflik serius, yang berdampak signifikan pada anak. Menurut studi Nabila & Zainun (2024) dalam Jurnal Kajian Sosial Keagamaan, anak dari keluarga broken home menunjukkan perubahan pada kondisi mental, emosi, dan perilaku, meskipun ada pula faktor pendukung yang membantu penyesuaian diri.
Pahami broken home artinya berasal dalam bahasa Inggris yang diterjemah ke dalam bahasa Indonesia yaitu keluarga tidak utuh. Apabila keluarga kecil tersebut memiliki anak, dampak terbesar akan dirasakan oleh sang anak.
Advertisement
Gunarsa & Singgih (2007) dalam buku Psikologi Keluarga dan Perkembangan Anak menjelaskan bahwa keluarga berperan penting sebagai “forum utama pembelajaran sosial emosional anak”. Bila fungsi ini terganggu, umpamanya akibat ketidakharmonisan atau orang tua tidak hadir, maka anak dapat mengalami gangguan psikologis bahkan prestasi belajar menurun.
Berikut Liputan6.com ulas mengenai arti broken home beserta penyebab, dampak, dan cara menghadapinya yang telah dirangkum dari berbagai sumber, Rabu (11/6/2025).
Arti Broken Home
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5148078/original/055549100_1740974370-apa-arti-broken-home.jpg)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, broken home artinya perpisahan, perpecahan, atau perihal bercerai (antara suami istri). Sedangkan menurut Merriam Webster menjelaskan arti broken home istilah yang menggambarkan perpisahan seorang ibu dan ayah dalam sebuah rumah tangga. Arti broken home yakni keluarga yang orang tuanya bercerai.
“a family in which the parents have divorced,” ditegaskan.
Broken home adalah keluarga tak utuh, umumnya digunakan oleh anak untuk menggambarkan kondisi keluarganya atau asal usul keluarganya. Sementara itu, dalam modul berjudul Broken Home and Lifestyle oleh Academia, arti broken home adalah perpisahan orang tua, ini berdampak terutama bagi anak-anak jika mereka sudah memiliki anak.
Istilah broken home sendiri sering digunakan untuk menyebut anak-anak yang orang tuanya bercerai. Padahal arti broken home tidak hanya berasal dari orang tua yang bercerai tetapi juga dari keluarga yang tidak utuh karena ayah ibunya tidak dapat berperan dan berfungsi sebagai orang tua.
Dalam buku berjudul Antara Broken Home dan Konsumerisme oleh Yuni Retnowati, menjelaskan terkait arti broken home adalah keluarga yang retak. Jadi, arti broken home adalah kondisi hilangnya perhatian keluarga atau kurangnya kasih sayang dari orang tua yang disebabkan oleh beberapa hal, bisa karena perceraian, sehingga anak hanya tinggal bersama satu orang tua kandung.
Advertisement
Penyebab Broken Home
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3253693/original/072959700_1601451426-divorce.jpeg)
Penelitian dari Metta: Jurnal Penerbit Jayapangus (2022) mengidentifikasi penyebab klasik seperti perceraian, perselingkuhan, masalah ekonomi, hingga kekerasan verbal dalam rumah tangga. Selain itu, Sudarsono (2012) dalam buku Struktur dan Fungsi Keluarga menambahkan faktor orang tua yang sering tidak hadir, baik fisik maupun emosional, sebagai penyebab keluarga menjadi tidak berfungsi.
Ada beberapa penyebab terjadinya broken home adalah sebagai berikut ini:
- Perceraian
- Perselingkuhan
- Ketidakdewasaan orang tua, sehingga meninggalkan anaknya.
- Tidak adanya tanggung jawab dalam diri orang tua
- Faktor ekonomi
- Jauh dari Tuhan
- Kehilangan kasih sayang dalam keluarga
- Kurangnya pengetahuan dan edukasi dalam hubungan rumah tangga
- Pasangan suami-istri tiga kali pindah rumah akibat konflik terus-menerus
- Orang tua bekerja merantau dan jarang pulang, sehingga anak merasa ditinggalkan
- Perceraian karena perselingkuhan dengan anak sebagai saksi konflik verbal.
Dampak dari Broken Home pada Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4022074/original/038609000_1652443635-keren-fedida-YtvItJoIREk-unsplash__1_.jpg)
Apabila suami istri tersebut memiliki anak, dengan kondisi broken home akan berdampak negatif bagi sang anak.
Menurut Willis (2015) yang dikutip dalam riset ResearchGate (2022), anak broken home sering mengalami gejolak emosional seperti marah, cemas, serta kesulitan menjalin hubungan sosial. Studi Journal of General Education Science (Lesmana dkk., 2024) menyebut dampak pada perilaku menyimpang akibat gangguan fungsi keluarga.
Berikut ini terdapat beberapa dampak dari broken home pada anak adalah:
a. Gangguan kesehatan mental atau kondisi emosional
Dampak broken home bagi anak yang pertama adalah berkaitan dengan kondisi emosional mereka. Kondisi emosional anak bisa saja terganggu. Menurut penelitian World Psychiatry menyebutkan jika perpisahan orangtua bisa berdampak pada kondisi kesehatan mental anak. Artinya karena kondisi keluarga yang broken home bisa saja memicu rasa cemas, stres, bahkan depresi pada anak.
Dampak emosional ini akan terasa lebih besar jika anak masih berada pada umur sangat muda. Sedangkan pada anak yang terbilang sudah masuk usia dewasa mungkin saja memiliki dampak emosional lebih kecil dibandingkan pada anak-anak di usia remaja.
b. Menurunnya prestasi akademik
Dampak broken home bagi anak selanjutnya adalah menurunnya prestasi akademik seorang anak. Di mana pendidikan mereka bisa saja terganggu. Anak menjadi tidak konsentrasi lagi dalam belajar sehingga berpengaruh pada pendidikannya. Beberapa dampak yang mungkin terjadi berkaitan dengan pendidikan mereka misalnya saja munculnya rasa malas dalam belajar, membuat masalah di sekolah, ataupun membolos sekolah. Namun dampak menurunnya prestasi akademik anak karena kondisi keluarga broken home bisa saja dipicu oleh hal lain tak hanya perpisahan orangtua.
c. Memicu rasa cemas dan gelisah
Ada juga dampak broken home yang bisa memicu rasa cemas dan gelisah seorang anak. Rasa cemas yang terjadi bukan hanya cemas biasanya melainkan sudah masuk pada tahap berlebihan. Sehingga membuat mereka merasakan trauma karena perpisahan orangtuanya. Misalnya saja cemas dalam menjalin hubungan dengan seseorang. Selain itu dampaknya juga bisa menyebabkan anak merasa tidak percaya diri. Akibatnya hal ini berdampak pada hubungan sosial dengan orang lain bahkan lingkungan sekitar.
d. Jadi pemberontak atau pemarah
Dampak broken home selanjutnya adalah seorang anak bisa saja menjadi pemberontak dan pemarah. Sebab kondisi keluarga yang broken home mungkin saja menimbulkan masalah di lingkungan sosial mereka. Misalnya saja terjadi pembulian yang membuat anak menjadi lebih pemarah bahkan memicu tindakan agresif. Akibatnya bisa berdampak pada hubungan sosial dengan teman seumuran atau bahkan marah dan benci pada orang tuanya.
e. Sering menyendiri
Dampak broken home selanjutnya bisa membuat anak cenderung lebih sering menyendiri. Pasalnya anak bisa saja menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Perasaan cemas, gelisah, ataupun ketakutan dengan penilaian dan anggapan orang lain tentang perpisahan orangtuanya bisa menjadi penyebabnya. Sehingga membuat anak lebih sering menyendiri.
Lebih lanjut, penelitian oleh Cherlin et al. (1991) yang dipublikasikan ijhssi.org melaporkan gangguan mood seperti depresi, kecenderungan berbohong, serta permasalahan konsentrasi dan impulsivitas pada anak setelah perceraian. Bahkan melansir dari NIH (PMC; 2019), perceraian orang tua berkorelasi kuat dengan prestasi akademik rendah, perilaku bermasalah, dan gangguan kesehatan mental sepanjang masa kanak hingga remaja.
Advertisement
Cara Menghadapi Situasi Broken Home
Menghadapi situasi broken home artinya bukanlah hal mudah, baik bagi anak maupun orang tua. Ketika struktur keluarga tidak lagi utuh karena perceraian, konflik berkepanjangan, atau ketidakhadiran salah satu pihak, anak sering kali menjadi pihak paling terdampak secara emosional dan psikologis.
Di tengah ketidakpastian, penting untuk mengetahui cara-cara yang dapat membantu menjaga kestabilan mental dan membangun kembali rasa aman dalam keluarga.
Menurut Gunarsa & Singgih (2007) dalam buku Psikologi Keluarga dan Perkembangan Anak, ketidakharmonisan keluarga dapat menghambat perkembangan sosial-emosional anak yang seharusnya terbentuk dalam suasana penuh kasih.
Sementara itu, jurnal Metta: Jurnal Penerbit Jayapangus (2022) menyoroti pentingnya peran adaptasi keluarga dalam mengatasi dampak broken home, termasuk melalui komunikasi sehat, dukungan emosional, dan kegiatan positif yang membangun ikatan antaranggota keluarga. Pemahaman terhadap strategi penanganan ini menjadi kunci untuk mencegah dampak negatif berkepanjangan.
- Terima kenyataan secara perlahan - Belajar menerima bahwa keluarga telah berubah adalah langkah awal untuk melangkah ke depan dengan lebih sehat secara emosional.
- Jangan menyalahkan diri sendiri - Anak atau anggota keluarga lainnya perlu diyakinkan bahwa mereka bukan penyebab situasi tersebut.
- Bicara dengan orang yang dipercaya - Cerita ke sahabat, guru BK, atau konselor bisa membantu melepaskan tekanan batin.
- Fokus pada hal yang bisa dikendalikan - Alihkan perhatian dari masalah rumah ke aktivitas yang membangun diri, seperti belajar, berkarya, atau olahraga.
- Jaga rutinitas sehari-hari - Menjaga pola tidur, makan, dan aktivitas tetap teratur bisa menciptakan rasa stabil di tengah ketidakpastian.
- Libatkan diri dalam kegiatan positif - Bergabung dengan komunitas, ekstrakurikuler, atau kegiatan sosial bisa membantu menemukan makna dan peran baru.
- Kenali dan kelola emosi - Sadari perasaan seperti marah, sedih, atau kecewa, lalu belajar mengekspresikannya secara sehat, misalnya lewat jurnal atau seni.
- Cari dukungan profesional jika perlu - Psikolog atau konselor bisa memberikan perspektif objektif dan strategi menghadapi trauma broken home.
- Hindari pelarian negative - Jangan menenggelamkan diri dalam rokok, alkohol, pergaulan bebas, atau tindakan agresif sebagai bentuk pelarian.
- Bangun kembali komunikasi yang sehat - Usahakan tetap berkomunikasi dengan orang tua meski tinggal terpisah, selama situasinya memungkinkan.
- Berikan ruang untuk memaafkan - Belajar memaafkan orang tua dapat mengurangi beban emosional yang tertinggal dari konflik.
- Ciptakan zona aman di rumah atau sekolah - Temukan atau ciptakan lingkungan yang memberi rasa nyaman dan dukungan, seperti ruang belajar atau waktu tenang di kamar.
- Kembangkan kemandirian - Ambil peran yang positif dalam keluarga, seperti membantu adik, belajar mandiri, atau mengatur jadwal sendiri.
- Pertahankan hubungan dengan saudara kandung - Saudara bisa menjadi sumber kekuatan emosional jika saling menjaga komunikasi dan empati.
- Pahami bahwa semua keluarga punya masalah - Broken home bukan akhir dari segalanya; tiap keluarga menghadapi tantangannya masing-masing.
- Teruskan pendidikan dan cita-cita - Gunakan pengalaman pahit sebagai motivasi untuk tumbuh lebih kuat dan berprestasi.
- Jaga hubungan baik dengan kedua orang tua (jika aman) - Bila tidak ada kekerasan, usahakan tetap dekat dengan keduanya untuk keseimbangan emosional.
- Batasi keterlibatan dalam konflik orang tua - Anak tidak perlu memihak; fokuslah pada masa depan dan pengembangan diri.
- Gunakan pengalaman sebagai pelajaran hidup - Broken home bisa melahirkan empati, ketangguhan, dan kedewasaan lebih dini.
- Bangun visi keluarga yang sehat ke depannya - Meski berasal dari keluarga tidak utuh, seseorang tetap bisa membentuk keluarga yang harmonis di masa depan dengan bekal pengalaman dan refleksi yang baik.
Q&A Tentang Arti Broken Home
1. Apa arti istilah broken home?
Keluarga yang tidak utuh, biasanya akibat perceraian, konflik berat, atau ketidakhadiran orang tua secara emosional atau fisik.
2. Apakah broken home hanya karena perceraian?
Tidak; bisa juga akibat kematian orang tua, merantau terlalu lama, atau konflik berkepanjangan meski tidak bercerai.
3. Siapa yang disebut ‘anak broken home’?
Anak yang tumbuh dalam keluarga tidak lengkap/fungsi keluarga terganggu, sehingga berdampak secara emosional, sosial, atau psikologis.
4. Apakah semua anak broken home mengalami gangguan psikologis?
Tidak semua, namun Nabila & Zainun (2024) menyebut banyak mengalami perubahan emosi, sosial, dan perilaku untuk sementara.
5. Bisakah anak broken home tetap sukses?
Bisa. Faktor pendukung seperti dukungan keluarga, teman, guru, dan konseling mampu membantu anak bangkit dan tumbuh positif.
6. Kapan broken home mulai berdampak negatif?
Biasanya saat konflik tinggi dan anak menyaksikan pertengkaran atau saat segera setelah perceraian; dampaknya paling kuat pada tahun pertama .
7. Apakah broken home dampaknya hanya jangka pendek?
Tidak; studi jangka panjang menunjukkan risiko gangguan mental, prestasi akademik menurun, dan masalah kesehatan bisa bertahan hingga dewasa.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8682083/original/077005500_1782732215-dedi_mulyadi_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495122/original/083308700_1770356146-Menteri_Keuangan__Menkeu__Purbaya_Yudhi_Sardewa-6_Februari_2026b.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537107/original/075541100_1774410122-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-25T095300.861.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1919772/original/078451300_1618831223-IMG-20210310-WA0034.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3157507/original/086061000_1592564332-person-in-white-long-sleeve-shirt-and-black-pants-4098230.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/2378469/original/055253400_1737413276-IMGE9883.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812256/original/019737900_1776314232-pexels-beyzaa-yurtkuran-279977530-17071110.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1860530/original/010220100_1777609466-pp.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8312896/original/014782800_1782180155-000_B7XU3U2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5381016/original/018832800_1760444417-AP25287418037906.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4728012/original/006431800_1706361596-000_34GE37C.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8666203/original/007626600_1782698654-000_B8H28ZD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8633516/original/070380800_1782633001-photo-collage.png__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8674531/original/079790200_1782716407-AP26177104053905.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259253/original/099827400_1781493084-AP26165774269127.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4864218/original/041026400_1718404435-AP24166759629724.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263966/original/082388400_1782038241-000_B7RC3ZV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5415752/original/060786800_1763419826-000_84BP8PA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525155/original/017274300_1782455154-AP26176798846634.jpg)