Sukses

KUPI II: Bentuk Ruang bagi Perempuan dalam Gerakan Keulamaan di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) kembali digelar untuk kedua kalinya di Semarang dan Jepara, Jawa Tengah. Sebelum kongres, diadakan Konferensi Internasional KUPI II di  Kampus UIN Walisongo Semarang. Ditandai penabuhan rebana oleh wakil lima organisasi, Konferensi Internasional KUPI II resmi dibuka pada Rabu(23/11/2022).

Bertempat di Auditorium Kampus UIN Walisongo Semarang, Konferensi Internasional KUPI II dibuka oleh Wakil Presiden KH Maruf Amin secara daring. Wapres berharap dari KUPI II lahir pemikiran-pemikiran yang berperspektif perempuan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih baik.

“Saya berharap dengan KUPI ulama perempuan lebih militan dalam menangkal konten yang kontraproduktif bagi perempuan. Melalui KUPI II ulama perempuan meneguhkan perannya dalam membangun peradaban yang adil sesuai yang dicita-citakan Islam,” ujarnya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Ruang perempuan dalam gerakan keulamaan Islam

KUPI merupakan ruang untuk para perempuan bersama-sama mewujudkan cita-cita bersama tentang keadilan gender. Ketua Steering Committee KUPI II Nyai Badriyah Fayumi menegaskan bahwa KUPI adalah ruang perjumpaan untuk berbagi pengalaman dan bersama-sama merumuskan cita-cita bersama Islam di masa yang akan datang.

“Ketika berbicara tentang Islam, tidak bisa melepaskan dari kemanusiaan, bangsa dan semesta,” ujarnya.

KUPI II mempertemukan teks dan konteks dari berbagai pengalaman yang tidak kosong. Kongres ini mempertemukan produk pemikiran lingkungan perguruan tinggi yang berbasis penelitian dan pesantren yang berbasis pada kitab kuning.

Sementaran Konferensi internasional KUPI II menjadi ruang bersama untuk menyatukan komitmen dan membangun peradaban dunia yang berkeadilan. Ini sesuatu yang realistis untuk diwujudkan bersama ulama dunia, karena untuk membangun peradaban yang berkeadilan butuh kebersamaan.

“Kebersamaan ini tidak berarti selalu bersama-sama, tapi bisa bergerak dengan tujuan yang sama Sehingga kerja-kerja para ulama di akar rumput dapat menjadi sangat tinggi nilainya dalam mewujudkan tujuan bersama mewujudkan peradaban yang berkeadilan,” lanjut Nyai Badriah.

3 dari 3 halaman

Dihadiri 31 negara

Peserta KUPI II datang dari 31 negara antara lain Afghanistan, Australia, Belgia, Burundi, Mesir, Prancis, Jerman, Hong Kong, India, Irak, Jepang, Kenya, Malaysia, Belanda, Nigeria, Pakistan, Filipina, Puerto Rico, Rusia, Singapura, Slowakia, Afrika Selatan, Sri Langka, Swedia, Suriah, Thailand, Mauritania, Uganda, Inggris, dan Amerika Serikat.

Ruby Kholifah sebagai ketua panitia penyelenggara Konferensi Internasional KUPI II berharap KUPI bisa menjadi inspirasi negara-negara lain dalam menunjukkan eksistensi ulama perempuan dan perannya bagi peradaban.

"Apa yang kita miliki tidak boleh hanya dimiliki Indonesia saja. Kita ingin negara-negara yang lain juga terinspirasi dari apa yang dilakukan Indonesia meskipun konteksnya berbeda." ujar Ruby dalam konferensi pers.

Ruby percaya dengan menghargai setiap perkembangan positif yang dicapai masing-masing negara, merayakan setiap kemajuan akan menumbuhkan semangat untuk terus melanjutkan perjuangan ini.

Konferensi Internasional yang berlangsung sepanjang Rabu(23/11/2022), terdiri dari dua sidang pleno dan enam sidang paralel yang membahas berbagai isu seperti green economic/ ekonomi hijau, perlindungan bagi perempuan pembela HAM, dan praktik baik pelibatan laki-laki dalam perlindungan perempuan.

Sementara konferensi akan dilanjutkan dengan pelaksanaan kongres di Pondok Pesantren Hasyim Ashari, Bangsri, Jepara pada 24-26 November 2022 mendatang.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS