Sukses

Deodoran Hanya 20 Persen Atasi Bau Badan

Banyak yang percaya menggunakan deodoran dengan kandungan antiperspiran mampu membunuh bakteri penyebab bau keringat. Namun, menurut U S Food and Drug Administration (FDA) deodoran hanya mengurangi bakteri sebesar 20 persen dan antiperspiran tidak benar-benar menghentingkan keringat berlebih pada keringat.
 
Dikutip Huffingtonpost, Rabu (16/10/2013), tampaknya tubuh terus beradaptasi dengan antiperspirant untuk mengurangi keringat. Saat tubuh sudah berhasil beradaptasi maka kelenjar keringat pun mampu mengatasi keringat yang berlebih. Menurut para ahli bukan bahan yang ada pada deodoran yang mengurangi keringat namun karena tubuh yang beradaptasi.
 
Pengguna deodoran sebaiknya mengganti merek deodorannya setiap enam bulan sekali. "Ini ide yang baik untuk mengganti merek deodoran Anda setiap enam bulan untuk mencegah resistensi," kata Asisten Profesor Dermatologi di University of Southern California, dr. Han Lee.
 
Beberapa merek deodoran mencantumkan untuk pria dan wanita namun hal ini ternyata menurut para ahli hanya strategi pemasaran, tidak berpengaruh pada penggunanya. Setiap deodoran memiliki bahan aktif yang sama baik untuk pria dan wanita, hanya kemasan dan aroma yang berbeda. Hal tersebut menurut laporan Discovery Health, selain itu diketahui juga deodoran hanya mampu mengatasi 10 persen keringat berlebih.

Dilihat dari segi kesehatan zat yang terkandung pada deodoran memiliki dampak yang mengkhawatirkan bila digunakan pada anak-anak. Peneliti Kanker Senior di Universitas Reading, Philippa Darbre, mengatakan bahwa penggunaan produk ini pada anak-anak praremaja dan remaja harus diperhatikan karena memprihatinkan dampaknya.

Aluminium dan zirkonium pada deodoran dapat mengganggu hormon  dan paparannya mempengaruhi perkembangan anak sehingga merusak kesehatan dengan cara yang belum diketahui. Menurutnya tidak semua orang membutuhkan deodoran untuk mengatasi keringat berlebih. (Mia/Mel)