Kenali Gejala Penyakit Autoimun Sejak Dini, Sering Merasa Jompo Padahal Masih Muda

Gejala penyakit autoimun sering dianggap sepele. Padahal lelah, nyeri, dan brain fog bisa jadi tanda awal yang perlu diwaspadai.

Diterbitkan 07 April 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penyakit autoimun kini bukan lagi masalah kesehatan yang jarang terjadi. Peneliti sekaligus dokter komunitas dan nutrisionis, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, kasusnya meningkat signifikan, bahkan banyak ditemukan pada usia muda.

Kondisi ini sering kali tidak disadari karena gejalanya tampak 'biasa', seperti mudah lelah atau nyeri sendi, sehingga kerap diabaikan. Padahal, kata Ray, mengenali gejala penyakit autoimun sejak dini sangat penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius.

Menurut pendiri dan Ketua Health Collaborative Centre (HCC) tersebut, tren global menunjukkan peningkatan yang cukup mengkhawatirkan.

"Data menunjukkan prevalensi penyakit autoimun meningkat hingga 12,5% per tahun, dan insidens kasus baru bahkan bisa naik sekitar 19% setiap tahunnya. Saat ini, sekitar 1 dari 10 orang di dunia hidup dengan kondisi autoimun," ujar Ray dikutip Health Liputan6.com dari unggahan di akun Instagram @hcc.indonesia pada Selasa, 7 April 2026.

Kondisi ini tidak lagi bisa dianggap sebagai penyakit langka. Bahkan, Ray mengatakan bahwa autoimun kini disebut sebagai 'epidemi diam-diam' karena jumlah penderitanya terus meningkat tanpa disadari banyak orang.

Gejala Autoimun Sering Dianggap Sepele

Salah satu tantangan terbesar dalam mendeteksi penyakit autoimun adalah gejalanya yang tidak spesifik. Banyak orang merasa hanya mengalami kelelahan biasa akibat aktivitas harian, padahal bisa menjadi sinyal awal gangguan pada sistem imun.

Beberapa gejala penyakit autoimun yang perlu diwaspadai antara lain:

  • mudah lelah berkepanjangan
  • nyeri sendi atau otot
  • brain fog atau sulit konsentrasi
  • kondisi tubuh yang mudah drop

"Gejala-gejala ini sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi early warning system dari tubuh bahwa ada gangguan pada sistem imun," kata Ray.

Dia, menambahkan, kondisi autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuan untuk membedakan antara 'musuh' dan jaringan tubuh sendiri. Akibatnya, tubuh justru menyerang dirinya sendiri.

Usia Muda Kini Lebih Rentan

Lalu, mengapa penyakit autoimun semakin banyak ditemukan pada usia muda? Ray menjelaskan bahwa faktor genetik bukan satu-satunya penyebab. Gaya hidup modern dan lingkungan justru memainkan peran besar dalam memicu kondisi ini.

"Stres kronis, pola makan yang didominasi makanan ultra processed, kurang tidur, serta paparan polusi dan bahan kimia dapat memicu inflamasi dan respons imun yang tidak normal," katanya.

Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat sistem imun bekerja tidak optimal dan lebih rentan mengalami kesalahan 'serangan'.

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Health Collaborative Center (HCC) (@hcc.indonesia)

Pentingnya Gaya Hidup Sehat Cegah Autoimun

Meskipun terdengar mengkhawatirkan, penyakit autoimun sebenarnya bisa dicegah dengan perubahan gaya hidup yang konsisten. Menjaga keseimbangan tubuh menjadi kunci utama agar sistem imun tetap bekerja dengan baik.

Ray menekankan pentingnya menjaga kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

"Kalau kita masih sehat hari ini, itu artinya tubuh kita masih bertahan. Tapi perlu diingat, penyakit tidak datang tiba-tiba. Ia dibangun perlahan dari kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari," katanya.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

  • menjaga kualitas tidur
  • mengatur pola makan bergizi seimbang
  • mengelola stres dengan baik
  • menjaga ritme hidup yang teratur

Dengan mengenali gejala penyakit autoimun sejak dini dan mulai menerapkan gaya hidup sehat, risiko kondisi ini bisa ditekan. Jangan abaikan sinyal kecil dari tubuh, karena bisa jadi itu adalah cara tubuh memberi peringatan sebelum terlambat.