Minuman Manis Kian Digemari, Waspada Asupan Gula Harian Bisa Berlebih

Minuman manis atau tinggi gula seperti kopi susu mudah ditemukan di banyak tempat. Hal ini rentan meningkatkan asupan gula harian yang bisa berujung diabetes.

Diterbitkan 25 Maret 2026, 17:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tren konsumsi minuman manis di Indonesia terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari minuman kemasan hingga minuman kekinian seperti teh manis, boba, dan kopi susu dijual di banyak tempat. 

Indonesia pernah tercatat sebagai salah satu negara dengan konsumsi minuman berpemanis tertinggi di kawasan Asia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan rata-rata gula yang dikonsumsi dari minuman berpemanis saja dapat mencapai sekitar 50 persen dari batas harian yang dianjurkan.

“Bayangkan, 50 persen itu hanya dari minuman saja. Belum dari makanan atau produk olahan lainnya yang juga mengandung gula tambahan,” kata dosen Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr Zuraidah Nasution.

Kondisi ini, sebut dia, diperparah dengan mudahnya akses terhadap minuman manis, mulai dari minuman kemasan hingga minuman siap saji seperti teh manis, boba, atau kopi kekinian yang sering kali tidak mencantumkan informasi kandungan gula secara jelas. Padahal konsumsi gula berlebihan bisa memicu obesitas dan diabetes.

Lebih lanjut, Zuraidah mengatakan bahwa dalam satu hari ada batasan gula hari yakni 10 persen dari kebutuhan energi harian. Jika rata-rata kebutuhan energi 2.000 kilokalori, maka sekitar 50 gram gula.

"Ini setara empat sendok makan,” ujar Zuraidah dalam IPB Podcast di kanal YouTube IPB TV.

Batasi Gula Sejak Anak

Zuraidah mengungkapkan bahwa kebiasaan mengonsumsi minuman manis sering kali terbentuk sejak usia anak. Lalu, kebiasaan itu dapat terbawa hingga dewasa. Maka dari itu, peran orangtua sangat penting dalam membentuk pola konsumsi yang lebih sehat.

Ia menyarankan orangtua untuk tidak terbiasa menyimpan minuman berpemanis di rumah serta mengajak anak membaca label informasi nilai gizi pada kemasan.

“Secara sederhana, kita bisa mengurangi kemungkinan anak menjadi ketergantungan pada minuman berpemanis. Misalnya dengan tidak menyetok minuman manis di rumah atau mengajak anak memilih minuman dengan kandungan gula yang lebih rendah,” jelasnya.

 

Bijak Konsumsi Gula

Meski demikian, Zuraidah menekankan bukan berarti menghindari minuman manis. Terpenting bisa mengonsumsi gula secara bijak.

“Bukan berarti tidak boleh sama sekali, tetapi kita yang mengatur. Batasi jumlahnya, perhatikan total gula yang dikonsumsi dalam sehari, dan imbangi dengan pola hidup sehat seperti konsumsi sayur dan buah, aktivitas fisik, serta istirahat yang cukup,” tuturnya.