Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Stres Pemicunya

Kenali ciri-ciri gatal yang dipicu karena stres.

Diterbitkan 23 Maret 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bandung - Rasa gatal yang tak kunjung sembuh di kulit bisa jadi karena stres. Menurut dokter spesialis dermatologi, venerologi, dan estetika, Rafdi Ahmed berdasarkan temuan di ruang praktek salah satu ciri stres menjadi pemicu gatal di kulit yakni jika sudah berobat secara medis tapi tidak mereda.

"Pasien sudah diberi anti radang yang paling kuat, setengah kuat, sedang, setengah tidak kuat sampai yang tidak kuat balik lagi itu. Tapi begitu lagi kalau kita baca di literatur atau di penelitian-penelitian, faktor yang menginduksinya adalah salah satunya stres," ujar Rafdi di acara bincang kesehatan RS Al Islam Bandung ditulis Minggu (22/3/2026).

Rafdi mengatakan atas dasar diagnosa awal yaitu stres pemicunya, maka merujuk pasien ke dokter spesialis kedokteran jiwa guna mengetahui pemicu stres yang berdampak kepada kesehatan kulit pasien.

Hasilnya ucap Rafdi, usai berkonsultasi selama satu bulan dan menjalani pengobatan akhirnya kesehatan kulit pasien kembali normal seperti sedia kala.

"Terus ketika pertama kali kontrol saya tanya gimana perasaannya hari ini? Ternyata dia, lebih banyak happiness dan positive vibes-nya. Sehingga alhamdulillah tidak kambuh," kata Rafdi.

 

Jerawat

Rafdi menjelaskan kondisi stres individu tidak hanya memicu penyakit gatal di kulit. Contohnya saat usia remaja, patut diwaspadai apabila mengalami kondisi wajah ataupun bagian tubuh yang berjerawat tapi tak kunjung sembuh usia diobati.

Rafdi mengutip sebuah penelitian medis, hal itu disebabkan setiap orang bahwa kulit dan sistem saraf pusat itu sangat memiliki keterkaitan. Keterkaitan itu dalam bahasa sederhana yaitu dengan berbagai senyawa seperti neurotransmitter dan neuropeptida.

"Senyawa-senyawa yang menginduksi atau mengeksitasi baik reseptor atau penerima zat di kulit maupun sebaliknya. Nah, hal tersebut itu dibahas dalam ilmu psiko imunologi. Kondisi psikologis yang mempengaruhi saraf dan imunologis. Di mana imunologis itu seperti kita tahu merupakan jembatan yang sangat dekat dengan antara yang sangat mendekatkan antara sistem saraf dan sistem kulit," terang Rafdi.

Rafdi mengaku menjelaskan hal itu kepada pasien soal keterkaitan kejiwaan seseorang dengan imunitas tubuh yaitu jika seseorang stres maka otak dan turunannya bernama HPA aksis hipotalamus, fitroitery, dan adrenal aksis akan mengeluarkan senyawa ataupun hormon yang mana senyawa itu yang akan memicu terjadinya peradangan di kulit.

Beberapa penyakit kulit itu semisal eksim banyak dipicu oleh gatal yakni neurodermatitis atau dermatitis numularis yang dipicu dari stres.

"Dari stres terus atau dermatitis atopik itu juga bisa dermatitis seboroik. Terus ada juga yang penyakit seperti pemfigus itu juga dapat dipicu oleh stres," ungkap Rafdi.

 

Ciri Gatal Akibat Stres

Rafdi menyebut untuk mengetahui secara umum bahwa gangguan kesehatan kulit berupa gatal akibat stres, biasanya mengarah ke neurodermatitis. Neurodermatitis adalah peradangan pada kulit yang ditandai dengan bercak merah menimbul kadang disertai kulitnya seperti akar kayu atau tekstur kulit pohon kayu.

Biasanya kondisi tersebut terletak di sekitar tengkuk kepala, punggung tangan, punggung kaki atau di area yang mudah terjangkau atau tergaruk.

"Nah, biasanya dia itu lebih banyak gatal jika sedang diam atau sedang tidak mengerjakan sesuatu tetapi banyak pikiran. Tapi itu ciri khasnya seperti itu. biasanya semakin digaruk akan semakin enak, akan semakin banyak, dan akan semakin tebal," sebut Rafdi.

Pada kondisi awal ditegaskan Rafdi, hanya berupa bercak merah. Saat bercak merah terus timbul semakin digaruk, semakin menebal dan akan terlihat menyerupai relief motif kayu.

Kondisi tersebut terjadi pada gangguan kulit penyakit eksim atau penyakit dermatitis seperti dermatitis atopik. Untuk dermatitis atopik, Rafdi menerangkan seseorang memiliki kecenderungan memiliki penyakit yang seperti asma, rinitis atau kerap bersin di pagi hari atau terkena dingin dan eksim itu sendiri.

"Pada usia dewasa itu akan terjadi di lipat siku dan lipat lutut. Awalnya hanya bercak merah saja sama. Semakin sering digaruk dia semakin tebal dan kadang ada yang menyerupai kulit kayu walaupun tidak tebal gitu," ungkap Rafdi.

Agar menghindari pasien terus menggaruk lokasi penyakit kulit tersebut sehingga bisa lebih parah, pemberian obat anti gatal dilakukan guna meringankan rasa ingin menggaruk kulit.

Sayangnya, Rafdi mengatakan kondisi gangguan kesehatan kulit akibat stres ini kerap kali tidak diketahui oleh pasien yang mengalaminya.

"Jadi kadang-kadang saya suka tanya tuh, bapak atau Ibu sedang banyak pikiran gitu kan seperti itu. Nah, nanti misalnya jawabannya enggak, terkadang pasien itu mengira bahwa yang namanya banyak pikiran atau sedang stres itu adalah masalah yang besar gitu. Tapi di lapangan itu seringkali yang kita tidak sadari adalah bahwa stresor itu malah justru hal-hal yang kecil," terang Rafdi.

 

Pemicu Terjadinya Stres

Rafdi menjelaskan dalam teori psikologi atau psikiatri, setiap acara, pengalaman, atau stimulus lingkungan yang menyebabkan pemicu stres (stresor) itu adalah suatu ketidaksesuaian antara apa yang diinginkan dengan kenyataan.

Sehingga jika terjadi sesuatu hal yang hingga menjadi seseorang terus memikirkannya, dapat menjadi stressor yang berdampak timbulnya gangguan kesehatan dalam tubuh.

"Rata-rata nih orang yang datang ke klinik dengan diagnosis-diagnosis dermatologi terutama yang berhubungan dengan stres, itu biasanya kalau yang laki-laki itu yang saya lihat dari financial power gitu isu-isunya dari situ stresornya kalau yang psikologis. Tapi kalau yang perempuan dari perasaan, keluarga banyaknya seperti itu," terang Rafdi.

Rafdi mengingatkan bahwa yang namanya stresor itu tidak hanya peristiwa besar yang mengubah hidup (psychological stressor) atau penyebab stres yang berasal dari psikologis. Namun dapat berupa fisik dan sosial, juga termasuk di dalam kategori stresor yang menyebabkannya