Gejala Kanker Usus Besar Tak Cuma BAB Berdarah, Ketahui Lainnya

Diare terus menerus hingga benjolan di area perut juga termasuk gejala kanker usus besar.

Diterbitkan 09 Maret 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bandung - Kanker usus besar merupakan salah satu penyakit mematikan tapi kurang populer dibandingkan kanker lainnya. Kanker satu ini salah satunya memiliki gejala buang air besar disertai darah seperti disampaikan dokter spesialis bedah digestif Kiki Lukman.

"Waktu buang air besar atau buang air kecil ada keluhan yang paling berbahaya tiba-tiba ada darah. Memang kebanyakan penyebabnya adalah ambeien tapi ini harus waspada, apalagi kalau usianya sudah di atas 40 tahun mungkin saja bukan ambeien," ujar Kiki dicuplik dari program Ngobrol Sehat Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung, Selasa (10/3/2026).

Kiki mengingatkan gejala lain yang harus dipantau untuk memastikan terjadinya kanker usus besar yaitu diare menerus disertai lendir dalam jangka panjang tanpa mengindikasikan kesembuhan. Gejala kanker usus besar juga nampak saat diketahui adanya benjolan di daerah perut.

Kiki menyebut penyakit ini merupakan kategori sangat serius dan harus betul-betul diperhatikan karena merujuk kepada suatu kondisi suatu penyakit yang berasal dari usus.

"Usus itu terdiri dari beberapa bagian ya, panjangnya lumayan tuh antara 4-5 meter dari mulai mulut sampai ke lubang dubur di bawah," kata Kiki.

Kiki mengatakan bagian akhir dari usus yang berujung atau bermuaranya di dubur tempat buang air besar, panjangnya kurang lebih satu setengah meter.

Artinya usus besar adalah usus yang paling bawah paling ujung, namun paling banyak yang menimbulkan penyakit terutama untuk kanker yang paling sering ditemukan adalah di usus besar.

"Jadi kanker itu tidak lain adalah satu pertumbuhannya benjolan yang dia terus membesar. Dan benjolan tersebut tidak hanya berada di tempat asalnya tetapi bisa menyebar ke tempat lain di dalam tubuh yang disebut dengan anak sebar atau metastasis," ungkap Kiki.

 

Kerja Usus Besar

Kiki menjelaskan penyakit ini merupakan salah satu yang berasal dari dinding dalam usus besar. Usus besar sendiri berfungsi menampung sisa-sisa pencernaan makanan setelah airnya diserap disimpan usus besar sebelah kiri.

Durasi penyimpanan sisa makanan yang airnya telah diserap itu bisa sampai 24 jam. Adanya interaksi cukup lama antara dinding usus besar sebelah kiri akan berpengaruh terhadap proses pembuangan.

"Tinja yang berada di usus besar bergantung pada apa yang kita makan. Jadi kalau misalkan kita banyak minum mungkin tinjanya cukup lembek dan mudah keluar. Nah, salah satu tanda bahaya juga adalah kasus bahaya besar seperti sulit membuang besar," jelas Kiki.

Jika sudah terjadi perubahan terjadi pada dinding usus besar dan menjadi tumor, selain ditemukan darah kemudian mungkin mencret yang berlangsung lama, bisa juga timbul gejala tidak bisa buang air besar sama sekali. Bahkan buang angin juga tidak bisa.

Apabila hal tersebut terjadi, Kiki mengatakan bisa merupakan masalah darurat yang harus segera ditangani dan berobat ke rumah sakit.

"Jadi intinya suatu pertumbuhan yang tidak normal dari dinding usus besar akibat pengaruh-pengaruh yang ada di dalam usus besar tersebut. Apa yang kita makan, kotoran yang disimpan mengubah perilaku dinding usus besar tubuh menjadi benjolan yang terus membesar dan tidak berhenti akhirnya menyebar ke tempat lain," jelas Kiki.

Akibatnya nanti akan fatal, karena bisa menimbulkan masalah keselamatan kehidupan seseorang yang berpeluang meninggal dunia.

 

Faktor Penyebab Kanker Usus Besar

Kiki mengungkapkan sebagian besar sumber penyakit itu ada di usus atau dari makanan. Salah satu contohnya penyakit jantung yang sebenarnya sumbernya dari pola makan hasil pencernaan usus penyakit.

"Penyebabnya itu banyak tapi intinya adalah sebagai interaksi selain genetik. Kemudian bertemu dengan faktor-faktor yang pertama adalah pola makan, pada umumnya ditemukan banyak makan makanan yang mengandung tanda petik zat yang bisa menyebabkan tumbuhnya kanker atau tumor seperti pengawet kemudian merokok," sebut Kiki.

Kiki menuturkan merokok juga berpengaruh juga ke usus ditambah kandungan makanan kurang mengandung serat yang sebetulnya bukan makanan tersebut.

Hal itu langsung menyebabkan relatif kurang bisa dicerna dan kurang serat. Nantinya akan menimbulkan sisa kotoran tinja yang keras dan padat.

"Sehingga lama ada di usus dan di dalamnya bercampur dengan berbagai zat-zat yang tadi yang saya bilang itu, ada zat warna makanan, zat pengawet, ada mungkin ya tadi rokok ikut termasuk, alkohol, terlalu banyak lemak dan daging, kurangnya serat menyebabkan tinja atau kotoran itu lama tinggal di dalam usus," ujar Kiki.

Sementara dinding usus itu sendiri merupakan sel hidup itu berinteraksi kuat terpengaruh oleh zat-zat yang bisa mengubah perilaku dari sel-selnya.

Namun Kiki menegaskan faktor pemicunya tidak hanya makanan saja. Faktor lainnya adalah aktivitas yang dijalani oleh seseorang.

"Kalau kita kurang bergerak apalagi banyak makan dan gemuk. Kegemukan juga jadi faktor risiko. Lebih banyak bekerja duduk lama, kurang gerak, banyak tidur, itu juga lebih beresiko untuk mendapatkan penyakit ini," tukas Kiki.