Hindari Menu Buka Puasa yang Tinggi Garam dan Gula, Ini Dampaknya buat Kulit

Menu buka puasa yang tinggi gula dan garam bisa berimbas pada kesehatan kulit.

Diterbitkan 06 Maret 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menu buka puasa masyarakat Indonesia biasanya tinggi gula dan garam. Faktanya mengonsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi bisa menyebabkan kulit kehilangan hidrasi, sehingga menjadi lebih kering. 

"Mengonsumsi diet tinggi garam dan tinggi gula itu akan membuat sel tuh kehilangan air. Jadi lebih kering, skin barrier-nya juga terganggu," kata dokter Fitria Agustina, SpDVE.

"Ini sebetulnya akan memperburuk kondisi, dengan nama multi-layer hydration loss," kata dokter lulusan pendidikan spesialis dermatologi dan venereologi Universitas Indonesia itu mengutip Antara. 

Fitria menyampaikan bahwa masalah kulit seperti munculnya jerawat bisa terjadi pada pekan awal puasa, ketika tubuh masih beradaptasi dengan perubahan pola makan dan minum, yang berdampak pada hidrasi.

Ketika tubuh tidak mendapatkan cukup cairan, ia mengatakan, kondisi lapisan pelindung kulit bisa terganggu. "Keluhan jerawat sering banget pada fase puasa itu di minggu pertama atau bahkan mungkin pertengahan minggu kedua karena hidrasi yang kurang," kata Fitria. 

"Hidrasi yang kurang itu akan berpengaruh terkait dengan skin barrier-nya, kulitnya jadinya akan lebih kering," katanya. 

Kenapa Jerawat Muncul

Gangguan pada lapisan pelindung kulit juga memengaruhi keseimbangan mikrobioma pada kulit. Kalau mikroorganisme alami pada kulit dalam keadaan tidak seimbang atau mengalami disbiosis, maka jerawat dan masalah kulit yang lain berpeluang muncul.

"Enggak cuma jerawat, bisa lain yang dasarnya inflamasi, misalnya pada dermatitis atopik yang memang flare up-nya di wajah, atau rosacea, kondisi yang menyerupai jerawat, atau kondisi psoriasis, itu bisa jadi flare-up kalau memang kita tidak menjaga hidrasi kulit kita dengan baik, karena skin barrier-nya terganggu," katanya. 

Awas Konsumsi Gorengan Berlebihan

Fitria menyampaikan bahwa mengonsumsi gorengan berlebihan dapat meningkatkan peluang munculnya jerawat.​​​​​​​ Tepung yang digunakan untuk membuat gorengan termasuk sumber karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi yang berisiko memicu lonjakan insulin.

"Karbohidrat olahan seperti tepung itu akan membuat insulin peak-nya tuh tinggi pada saat kita buka puasa, akan berpengaruh terhadap kadar IGF-1, akan berpengaruh terhadap kerja dari sebosit, kelenjar minyak, menghasilkan minyak lebih banyak," ia menjelaskan.

Selain itu, menurut dia, kandungan minyak pada gorengan bisa memengaruhi produksi hormon seperti androgen, yang memengaruhi aktivitas kelenjar minyak pada kulit.

"Androgen juga salah satu hormon yang berteman dalam mempengaruhi kerja dari sebosit atau kelenjar minyak ini," katanya.

Oleh karena itu, dia mengatakan, sebaiknya tidak mengonsumsi terlalu banyak gorengan pada saat berbuka puasa.

"Bukan enggak boleh buka puasa pakai gorengan, tapi jangan banyak-banyak, diusahakan gorengannya dikeringin dulu," katanya.

 

Perhatikan Asupan Cairan dan Nutrisi

Fitria menekankan pentingnya memperhatikan asupan cairan dan nutrisi agar kulit tetap sehat selama menunaikan ibadah puasa.

Pengaturan minum bisa dilakukan dari waktu berbuka puasa sampai sahur agar jumlah cairan yang dikonsumsi setidaknya delapan gelas sehari.

Fitria menyarankan pemilihan makanan bergizi yang tidak terlalu tinggi garam dan gula untuk berbuka puasa maupun sahur guna memenuhi kebutuhan gizi.