Bayi Gumoh Berlebih Tak Selalu Tanda GERD

Bayi gumoh atau regurgitasi berlebihan bukan berarti ia mengalami GERD.

Diterbitkan 07 Februari 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis anak konsultan gastrohepatologi, Profesor Badriul Hegar mengatakan bayi gumoh atau regurgitasi berlebihan, bayi rewel, atau tangisan berkepanjangan tidak selalu menandakan GERD. Badriul mengatakan kondisi tersebut juga dapat ditemukan pada bayi sehat.

Secara medis, kata Badriul, regurgitasi merupakan kondisi fisiologis yang umum terjadi pada bayi, terutama pada enam bulan pertama kehidupan. Oleh karena itu, evaluasi medis yang tepat diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi lain, seperti alergi protein susu sapi, sebelum menetapkan diagnosis GERD.

Penatalaksanaan awal regurgitasi dan GER (Gastroesophageal Reflux) pada bayi umumnya bersifat non-farmakologis, meliputi edukasi orangtua, melanjutkan ASI, menghindari overfeeding (memberi makan berlebih), dan pengaturan posisi bayi.

“Pemberian obat bukan merupakan terapi lini pertama dan hanya dipertimbangkan pada kasus GERD yang terkonfirmasi,” kata pakar bidang gastroenterologi dan hepatologi anak di RS Premier Bintaro saat temu media beberapa waktu lalu. 

GERD Bisa Terjadi pada Bayi tapi Jarang

Bayi memang bisa mengalami GERD tapi kasusnya jarang dengan prevalensi sekitar 3–8 persen. GERD terjadi ketika isi lambung naik ke kerongkongan secara terlalu sering atau terlalu lama, sehingga dapat menyebabkan peradangan esofagus (esofagitis) dan komplikasi lain seperti gangguan makan, gagal tumbuh, anemia, regurgitasi disertai darah, hingga gangguan kualitas hidup anak.

"GERD perlu dicurigai bila terdapat tanda bahaya atau alarm sign, seperti gagal tumbuh, bercak darah pada regurgitasi, nyeri hebat, atau gangguan neurologis. Tanpa tanda alarm, pemeriksaan lanjutan biasanya tidak diperlukan,” kata Badriul.