World Cancer Day 2026: Biaya Kanker Tembus Rp10 Triliun, JKN Jadi Penopang Utama Pasien

World Cancer Day 2026 menegaskan peran JKN dalam menanggung biaya kanker yang tembus Rp10 triliun demi pasien.

Diterbitkan 05 Februari 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dalam momentum World Cancer Day 2026, perhatian terhadap upaya pencegahan, deteksi dini, hingga pengobatan kanker kembali menjadi sorotan. Kanker masih termasuk penyakit katastropik dengan biaya pengobatan yang tinggi. Oleh sebab itu, kehadiran Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dinilai menjadi bentuk perlindungan nyata bagi masyarakat.

Melalui Program JKN, BPJS Kesehatan memastikan peserta yang terdiagnosis kanker tetap dapat mengakses pelayanan kesehatan secara menyeluruh. Layanan tersebut mencakup pemeriksaan awal, tindakan pengobatan, hingga terapi lanjutan seperti kemoterapi, radioterapi, operasi, serta layanan penunjang lainnya sesuai indikasi medis.

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, mengatakan, komitmen dalam menjamin pengobatan kanker merupakan bagian dari tanggung jawab negara untuk melindungi masyarakat, khususnya dari penyakit yang membutuhkan biaya besar dan terapi jangka panjang.

"Program JKN hadir untuk memastikan peserta tetap mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang komprehensif, termasuk pengobatan kanker yang membutuhkan proses terapi berkelanjutan. Melalui prinsip gotong royong, masyarakat dapat memperoleh perlindungan kesehatan tanpa harus terbebani biaya pengobatan yang sangat besar," ujar Rizzky dalam keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Rabu, 4 Februari 2026.

Sepanjang tahun 2025, pembiayaan pelayanan penyakit kanker dalam Program JKN tercatat mencapai lebih dari Rp10,3 triliun dengan jumlah kasus melebihi 7,1 juta kasus. Data tersebut menunjukkan kanker masih menjadi salah satu penyakit dengan beban pembiayaan tertinggi dalam sistem jaminan kesehatan nasional.

Rizzky, menambahkan, Program JKN tidak hanya berfokus pada pengobatan, tapi juga mendorong upaya promotif dan preventif. Salah satunya melalui layanan skrining riwayat kesehatan yang dapat diakses peserta secara berkala. Deteksi dini dinilai sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan dan menekan risiko komplikasi.

"Semakin cepat kanker terdeteksi, maka peluang keberhasilan pengobatan akan semakin besar. Kami mengimbau masyarakat memanfaatkan layanan skrining kesehatan secara rutin dan segera memeriksakan diri jika merasakan gejala yang mencurigakan," tambahnya.

Dia juga mengingatkan pentingnya memastikan status kepesertaan JKN tetap aktif agar masyarakat dapat memperoleh perlindungan kesehatan secara optimal ketika membutuhkan layanan medis.

 

Kasus Kanker di Indonesia

Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan Medis dan Keperawatan Rumah Sakit Universitas Airlangga, Pradana Zaky Romadhon, menilai peningkatan tren kasus kanker di Indonesia turut dipengaruhi oleh kemajuan pelayanan kedokteran dan kemampuan diagnosis yang semakin baik.

Namun, kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dini masih perlu terus ditingkatkan. "Masih banyak pasien yang menunda pemeriksaan dan baru datang saat kanker sudah memasuki stadium lanjut. Padahal, deteksi dini sangat menentukan peluang kesembuhan," kata Zaky.

Dia, menambahkan, untuk mencapai hasil pengobatan yang optimal, pasien perlu mengikuti alur pengobatan secara teratur, mulai dari penegakan diagnosis oleh dokter ahli hingga terapi lanjutan.

Dengan adanya penjaminan dari Program JKN, pasien tidak perlu khawatir soal biaya karena seluruh tindakan pengobatan dijamin sesuai ketentuan dan indikasi medis.

"Dengan dukungan JKN, pasien bisa menjalani diagnosis dan terapi kanker dari awal hingga perawatan lanjutan tanpa terkendala biaya," ujarnya.

Dalam rangka World Cancer Day 2026, Zaky juga menekankan pentingnya deteksi dini dan penerapan pola hidup sehat. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin beraktivitas fisik, serta menjaga kebugaran tubuh dinilai dapat membantu menurunkan risiko kanker dan mencegah penyakit berkembang ke stadium lanjut.