Liputan6.com, Jakarta - Jamu perlu diperkenalkan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat urban. Salah satu cara yang diusung PT Acaraki Nusantara Persada yakni lewat kafe modern dengan konsep masa kini untuk mendekatkan jamu dengan masyarakat termasuk generasi muda.
“Acaraki hadir untuk memperluas cara masyarakat mengenal dan menikmati jamu,” kata founder dan Director PT Acaraki Nusantara Persada, Jony Yuwono saat peresmian Cafe Jamu Indonesia di PIK 2 pada Rabu, 4 Februari 2026.
Cafe Jamu Acaraki ini merupakan cabang ke-6 yang dimiliki Acaraki setelah cabang di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Kota Tua, Grand Indonesia, AEON Mall Tanjung Barat, dan Acaraki Landmark di wilayah Jakarta.
Advertisement
Di kafe tersebut, pengungung bisa merasakan Jamu Experience Cafe. Di sini pengunjung diajak memahami filosofi jamu, tentang jampi (doa), oesodo (kesehatan), dan pengetahuan lintas generasi.
Jony mengatakan konsep yang dibawakan dikemas dengan selera masa kini. Namun, ia menekankan hal tersebut bukan untuk menggantikan tradisi tapi mendekatkan masyarakat muda.
Dalam peresmian Cafe Jamu Indonesia hadir Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar. Ia mengapresiasi langkah Acaraki yang mengembangkan jamu secara bertanggung jawab dan patuh terhadap ketentuan.
“Hari ini, kita tidak sekadar meresmikan sebuah kafe. Kita sedang menyaksikan salah satu tonggak penting transformasi budaya dan kesehatan bangsa. Kehadiran Acaraki di PIK 2 adalah manifestasi nyata bahwa jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dunia, yang diakui UNESCO, telah berhasil keluar dari stigma "kuno" menjadi "keren” dan relevan bagi generasi masa kini,” ucap Taruna Ikrar mengawali sambutannya.
Taruna menekankan, inovasi berbasis bahan alam hanya akan bermakna jika tetap mengedepankan keamanan dan mutu.
Kepala BPOM: Jamu Harus Diwariskan dengan Cara Relevan dengan Zaman
Sependapat dengan Jony, Taruna pun mengatakan jamu Indonesia tidak boleh tergerus zaman. Ia mencontohkan kebiasaan minum jamu jahe setiap pagi. Menurutnya tradisi baik itu tidak boleh hilang.
"Harus diwariskan, dengan bahasa dan pendekatan yang relevan dengan zaman,” kata Taruna.
Advertisement
Indonesia Punya 30 Ribu Tanaman Herbal
Saat ini, Indonesia memiliki kekayaan 30 ribu spesies tanaman herbal. Menurut Taruna ini bisa menjadi modal alam yang sangat besar untuk masuk ke pasar global. Namun, peluang itu hanya bisa diwujudkan jika dikembangkan dengan pendekatan ilmiah dan kepatuhan regulatori.
Maka dari itu, Taruna mendorong penguatan pengawasan obat tradisional agar jamu Indonesia siap go international. Standar global, kata Taruna, bukan untuk mengekang tapi untuk memastikan jamu Indonesia diterima dunia tanpa kehilangan identitas.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3274899/original/039892600_1603349292-Acaraki.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1541481/original/029951000_1489915850-2022-World-Cup-006.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8584006/original/084196900_1782546499-AP26178201151443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8583299/original/047451600_1782545178-AP26178061252747.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8526854/original/004442800_1782457565-Hong_Myung-bo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8384804/original/025311600_1782263854-kroasia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8581680/original/086573300_1782542126-AP26178050808259.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8293308/original/041888100_1782155517-AP26173640031261.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322380/original/064889600_1782191323-063_2282870058.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578725/original/075292300_1782537284-063_2283517529.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513111/original/058658300_1782436597-063_2283345627.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5234184/original/087376700_1748337352-13891a88-af14-46fe-9133-64b60982b12a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259168/original/031539500_1781489464-WhatsApp_Image_2026-06-14_at_18.20.41.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5054682/original/077394700_1734418042-400.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5214050/original/035537300_1746710170-fe0e2972-05e3-4639-9e7a-5aa3593a8548.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3086046/original/023298900_1585211521-20200326-Rempah-Rempah-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4692993/original/056392200_1703063298-Jamu_warisan_budaya_oleh_UNESCO-IMAM_9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564778/original/088090500_1777000144-20260423_110044.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5559010/original/008841600_1776502452-perbedaan_temulawak_dan_kunyit.jpg)