Liputan6.com, Jakarta - Hambatan besar dalam pencegahan demam berdarah dengue datang dari kelompok usia produktif dan lansia, yang menyumbang sekitar 76 persen kasus dengue di Indonesia. Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, Dr. Sukamto, menekankan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat terhadap virus ini.
"Salah satu hambatan pencegahan adalah orang dewasa yang kurang memahami bahaya virus dengue," katanya dalam media briefing bertajuk ‘Musim Hujan, Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa’ di Jakarta Pusat pada Rabu, 4 Februari 2026.
Hambatan utama lainnya adalah rendahnya kesadaran orang dewasa akan pentingnya vaksin mandiri. Banyak yang menganggap vaksinasi hanya diperlukan oleh bayi dan balita, sehingga jarang menjadwalkan kunjungan kesehatan rutin. Padahal, risiko demam berdarah dengue meningkat drastis pada orang dewasa dengan kondisi komorbid.
Advertisement
Data menunjukkan penderita penyakit ginjal berisiko parah hingga 7 kali lipat, sementara pengidap asma atau penyakit paru berisiko hingga 12 kali lipat jika terinfeksi dengue.
Kurangnya pemahaman tentang keamanan dan efektivitas vaksin juga menjadi kendala signifikan. Banyak orang tidak menyadari bahwa penyakit seperti dengue dapat dicegah melalui vaksinasi yang aman dan terbukti efektif.
Sukamto mengimbau tenaga medis agar lebih proaktif. "Mohon peran kawan-kawan itu bisa menyampaikan berulang-ulang saat membahas penyakit ini, dan tolong kaitkan juga dengan pencegahannya," katanya.
Selain edukasi, akses penyediaan vaksin di sektor publik maupun swasta perlu diperkuat agar program pencegahan berkelanjutan. Vaksinasi bukan hanya melindungi kesehatan individu, tapi juga menjaga produktivitas nasional, mengingat banyak orang harus izin kerja akibat rawat inap.
Sukamto menekankan pentingnya tindakan preventif. "Pertimbangkan untuk melakukan vaksinasi guna mengurangi risiko ekonomi dan kehilangan orang-orang terkasih," ujarnya.
6 Strategi Nasional Penanggulangan Dengue
Kementerian Kesehatan menerapkan enam strategi utama untuk menangani demam berdarah dengue, antara lain:
- Penguatan manajemen vektor.
- Peningkatan akses dan mutu tatalaksana dengue.
- Deteksi dini kasus dengue.
- Keterlibatan masyarakat dalam langkah preventif.
- Penguatan komitmen dan program kemitraan.
- Inovasi teknologi pengendalian nyamuk, seperti metode Wolbachia, bakteri yang dimasukkan ke nyamuk Aedes aegypti untuk melumpuhkan virus dengue.
"Strategi nasional ini diharapkan menjadi langkah efektif untuk mencegah dampak negatif dari gigitan nyamuk aedes," pungkas Sukamto.
Demam Berdarah Dengue Lebih Berbahaya bagi Penderita Komorbid
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493327/original/088756600_1770202513-WhatsApp_Image_2026-02-04_at_17.30.32.jpeg)
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia yang dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia. Risiko menjadi lebih fatal jika infeksi ini menyerang individu dengan kondisi medis tertentu atau komorbid, yaitu orang yang menderita dua penyakit atau lebih sekaligus.
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, dr. Sukamto Koesnoe, menekankan, penyakit penyerta dapat memperburuk sistem kekebalan tubuh saat melawan virus dengue.
"Pasien dengan riwayat penyakit seperti ginjal, obesitas, dan hipertensi lebih rentan terhadap dampak negatif dari infeksi virus dengue,” ujar dr. Sukamto dalam media briefing bertajuk 'Musim Hujan, Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa' di Jakarta Pusat pada Rabu, 4 Februari 2026.
Apa Saja Komplikasi pada Pasien DBD?
Kondisi metabolik seperti obesitas dan diabetes melitus merupakan dua faktor penyerta yang paling sering ditemui pada pasien dewasa. Obesitas meningkatkan risiko keparahan DBD hingga 1,5–2 kali lipat, sedangkan diabetes melitus bisa meningkatkan risiko hingga 3–5 kali lipat.
"Penderita diabetes menghadapi tantangan lebih besar karena fluktuasi kadar gula darah dapat mempersulit manajemen cairan, yang menjadi kunci utama pengobatan DBD," katanya.
Kelompok dengan lebih dari satu penyakit penyerta memiliki profil risiko mirip dengan pasien yang mengalami gejala berat saat pandemi COVID-19 lalu. Selain masalah metabolik, gangguan pada organ vital seperti ginjal dan paru-paru memberikan dampak lebih ekstrem.
Penyakit ginjal kronis dapat meningkatkan risiko kondisi parah hingga 7 kali lipat, sedangkan pengidap asma atau penyakit paru kronis memiliki risiko 2–12 kali lipat lebih tinggi dibanding pasien tanpa komorbid.
Tekanan darah tinggi atau hipertensi juga tak boleh diremehkan karena mampu memperparah risiko hingga 3 kali lipat. Tingginya angka risiko ini menunjukkan bahwa DBD bukan sekadar demam biasa bagi mereka yang memiliki riwayat medis kronis.
Komplikasi Membuat DBD Semakin Parah
Pasien dengan penyakit komplikasi seperti jantung kerap dibatasi asupan cairannya. Padahal, penanganan utama demam berdarah dengue adalah memastikan pasien minum cukup cairan agar darah tidak mengental dan aliran darah tetap lancar.
Kekurangan atau kelebihan cairan bisa memicu tekanan darah turun drastis atau sesak napas akut. Karena itu, pencegahan menjadi kunci, terutama bagi mereka dengan komorbid.
"Pencegahan melalui vaksinasi menjadi langkah strategis bagi kelompok dewasa untuk mengurangi risiko rawat inap dan kematian akibat dengue," pungkas Sukamto.
Advertisement
Demam Berdarah Dengue Tak Punya Obat Khusus
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493211/original/012513100_1770197442-WhatsApp_Image_2026-02-04_at_16.12.17.jpeg)
Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia. Sebagai negara tropis, Indonesia merupakan habitat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti yang menjadi vektor utama penularan virus dengue.
Ketua Koordinator Organisasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Adityo Susilo, mengatakan, hingga saat ini dunia medis belum memiliki obat khusus yang dapat membunuh virus dengue.
"Belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan demam berdarah. Penanganan DBD saat ini masih berfokus pada pencegahan, salah satunya melalui vaksinasi," ujar Adityo dalam media briefing bertajuk Musim Hujan, Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa di Jakarta Pusat pada Rabu, 4 Februari 2026.
Vaksin Dengue Jadi Lapisan Perlindungan Tambahan
Sejalan dengan itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menekankan pentingnya vaksinasi sebagai lapisan perlindungan tambahan terhadap demam berdarah dengue.
Vaksin dengue diharapkan mampu menurunkan risiko keparahan penyakit, terutama pada individu yang berisiko mengalami infeksi berulang.
Secara global, pemanfaatan vaksin dinilai sangat efektif dan bahkan diperkirakan mampu menyelamatkan satu nyawa setiap 12 detik.
"Karena kita negara tropis yang rentan dengue, maka vaksinasi dengue penting dilakukan sebagai upaya pencegahan preventif," kata Adityo.
Dia juga mengingatkan bahwa pemulihan pasca-DBD kerap membutuhkan waktu cukup panjang, meskipun pasien telah dinyatakan boleh pulang dari rumah sakit. Kondisi tersebut dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup pasien.
"Karena itu, pencegahan menjadi langkah paling penting. Vaksinasi diharapkan dapat dilakukan oleh semua kelompok usia sebagai bentuk perlindungan diri," tambahnya.
Kombinasi antara menjaga kebersihan lingkungan dan pemanfaatan vaksin dinilai sebagai strategi paling rasional dalam menghadapi penyakit yang 'medan tempurnya' berada langsung di dalam pembuluh darah manusia ini.
Pencegahan DBD dengan 3M
Selain vaksinasi, masyarakat juga diimbau untuk terus menerapkan langkah pencegahan dasar demam berdarah dengue melalui 3M. Langkah ini meliputi menguras tempat penampungan air seperti bak mandi, ember, hingga vas bunga.
Selanjutnya, menutup rapat wadah penyimpan air agar tidak menjadi tempat nyamuk bertelur, serta mendaur ulang barang bekas seperti botol plastik atau kaleng yang berpotensi menjadi sarang jentik.
"Langkah paling sederhana yang bisa dilakukan masyarakat adalah 3M, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang. Terutama saat musim hujan, jika melihat genangan air yang kotor, sebaiknya segera dibuang," pungkas Adityo.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2892802/original/045596000_1566805482-20190826-Jokowi-sebut-kaltim-jadi-ibu-kota-baru-ANGGA-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/262/original/004103300_1521089203-WhatsApp_Image_2018-03-15_at_12.45.09.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493364/original/058426300_1770206117-WhatsApp_Image_2026-02-04_at_17.56.15.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3922242/original/ACg8ocKGV_HnaYyqJHWKrB0RLbYH929ZFHOz6jzdWNt5X8hbJgJAt48%3Ds200.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257126/original/025840700_1781221894-AP26162777114808.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260379/original/084688000_1781589230-tj_verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259296/original/035877100_1781495343-_____________FIFAWorldCup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621898/original/023575700_1782614127-063_2283622576.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540345/original/069396100_1774710516-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8618866/original/035352900_1782607831-063_2283624619.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243047/original/051478600_1749093312-AP25155771563061.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3529388/original/056973400_1627972342-000_9767F7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625922/original/005183100_1782620553-063_2283651686.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4895998/original/057531400_1721381183-Screenshot_2024-07-19_162153.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5137008/original/041672900_1739896421-Anak_demam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3351273/original/030202700_1610866156-20210117-Cegah-DBD_-Perumahan-di-Tangsel-Diasapi-FANANI-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5084741/original/047275400_1736341730-20250108-Tjandra_Yoga_Aditama-ANG_12.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259699/original/014606400_1781510172-Prima_Yosephine_Dengue_Day.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5464042/original/029881500_1767677892-anak_sekolah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4804407/original/067852600_1713354243-20240417-Kenaikan_Pasien_DBD-MER_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4812313/original/097773600_1714011436-dbd.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6457833/original/035515200_1779321452-20150925144201-ini-kampung-di-bandung-yang-jadi-salah-satu-terpadat-di-dunia-008-dru.jpg)