Emboli Paru Bisa Mematikan Seketika, Berawal dari Bekuan Darah

Emboli paru terjadi akibat bekuan darah dan bisa berujung kematian seketika jika tidak terdeteksi sejak awal.

Diterbitkan 02 Februari 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Emboli paru atau deep vein thrombosis (DVT) merupakan kondisi terbentuknya bekuan darah di dalam pembuluh vena dalam yang kerap berkembang tanpa disadari. Pada fase awal, kondisi ini sering tidak menimbulkan gejala khas, sehingga diagnosis kerap tertunda hingga muncul komplikasi serius.

Di banyak rumah sakit dan fasilitas kesehatan, kasus DVT baru terdeteksi setelah pasien mengalami sesak napas atau emboli paru yang mengancam jiwa. Kurangnya pemahaman mengenai tanda-tanda awal DVT turut berkontribusi terhadap tingginya angka komplikasi di berbagai kelompok usia.

"Emboli paru merupakan komplikasi yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian secara tiba-tiba sehingga sering disebut silent killer," ujar Prof. Dr. dr. Usi Sukorini, MKes., Sp.PK., Subsp. H.K. (K), Subsp. B.D.K.T. (K), dalam pidato pengukuhan guru besar bidang Ilmu Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium pada Selasa, 27 Januari 2026, di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Usi menyoroti tantangan besar dalam penanganan penyakit trombotik atau bekuan darah yang kerap terlambat terdeteksi. Masalah ini berdampak luas, baik secara klinis, sosial, maupun terhadap sistem kesehatan nasional. Menurutnya, angka kejadian DVT di Indonesia diperkirakan masih sangat tinggi, meski data komprehensif masih terbatas.

Fenomena tersebut mencerminkan adanya kesenjangan informasi antara praktik klinis dan tingkat kesadaran masyarakat terkait penyakit trombotik.

Usi, menjelaskan, masih banyak pasien maupun tenaga kesehatan yang belum sepenuhnya menyadari pentingnya pengenalan dini faktor risiko dan tanda awal DVT.

Terlebih, kondisi ini kerap muncul pada pasien dengan riwayat imobilisasi, pascaoperasi, atau gangguan pembekuan darah. "Sebagian besar kasus DVT di Indonesia ditemukan secara kebetulan atau baru terdiagnosis setelah muncul komplikasi berupa emboli paru," ujar Usi.

Faktor Risiko Emboli Paru

Lebih lanjut, Usi menjelaskan bahwa faktor risiko DVT bersifat multifaktorial dan dapat dipengaruhi oleh faktor genetik maupun lingkungan.

Pasien yang menjalani perawatan intensif di rumah sakit atau mengalami keterbatasan aktivitas dalam jangka panjang memiliki risiko lebih tinggi mengalami DVT.

Dia, menegaskan, mengingat kompleksitas faktor risiko tersebut, pendekatan klinis yang komprehensif sangat dibutuhkan untuk mengenali dan mencegah kejadian DVT sejak dini.

"Venous thromboembolism merupakan penyakit yang sebagian besar dapat dicegah apabila faktor risikonya dikenali sejak awal," tegasnya.

Dampak Emboli Paru

Menurut Usi, dampak DVT bahkan mampu melampaui batasan klinis pasien dan menyentuh aspek sosial ekonomi yang lebih luas.

Pasien yang mengalami DVT dan komplikasinya kerap menghadapi beban biaya perawatan jangka panjang serta keterbatasan aktivitas yang menurunkan kualitas hidup. Hal ini tentunya turut mempengaruhi produktivitas keluarga dan komunitas pasien.

Kurangnya pendidikan masyarakat mengenai penyakit ini turut memperkuat tantangan dalam upaya pencegahan efektif.

“Dampak yang ditimbulkan oleh DVT sangat besar, tidak hanya dari sisi medis, bahkan ekonomi, psikologis, dan juga sosial,” ungkap Usi.

Kesadaran Publik soal Emboli Paru Masih Rendah

Usi menyayangkan, kesadaran publik terhadap DVT masih relatif rendah dibandingkan penyakit kardiovaskular lain, seperti serangan jantung atau stroke.

Banyak individu yang menganggap remeh gejala awal dan enggan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan lebih awal. Padahal pengenalan dini terhadap tanda-tanda DVT dapat menurunkan risiko komplikasi fatal secara signifikan. Edukasi publik dan kolaborasi lintas sektor kesehatan menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan.

“Banyak pasien tidak mengenali gejala awal DVT seperti bengkak atau nyeri pada tungkai, sehingga diagnosis sering datang terlalu lambat,” katanya.

Pidato pengukuhan yang disampaikan oleh Usi memberikan gambaran bahwa DVT merupakan tantangan kesehatan yang mendesak di Indonesia, tetapi pencegahan dini dan pemeriksaan laboratorium yang tepat dapat mengubah arah perjalanan penyakit ini. Peran tenaga kesehatan, akademisi, dan pemangku kepentingan sangat penting dalam meningkatkan kesadaran dan deteksi dini.

 “Kondisi yang berdampak luas ini sebenarnya dapat dicegah dan ditangani secara efektif apabila dilakukan deteksi dini dan strategi pencegahan yang tepat,” tutupnya.