Peneliti BRIN Kaji Potensi Senyawa Kulit Manggis untuk Terapi Kanker Payudara

Senyawa dari kulit manggis memiliki potensi menjadi obat terapi kanker payudara menurut peneliti BRIN.

Diterbitkan 26 Januari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri (PRTRRB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Isti Daruwati, mengembangkan senyawa turunan alfa mangostin. Yakni senyawa yang berasal dari kulit buah manggis, yang disebut dengan AMB10, untuk terapi kanker payudara.

Isti menjelaskan, riset ini dikembangkan bersama Universitas Perjuangan Tasikmalaya dan Departemen Analisis Farmasi dan Kimia Medisinal, Fakultas Farmasi - Universitas Padjadjaran.

“Sekitar 75 persen penderita kanker payudara memiliki jenis kanker yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh hormon estrogen. Pada kanker jenis ini, sel kanker memiliki reseptor estrogen (ER+) yang merupakan tempat hormon estrogen menempel dan merangsang pertumbuhan sel kanker,” kata Isti di BRIN Kawasan Sains dan Teknologi Samaun Samadikun, Bandung, Kamis (15/1/2026), seperti dilansir laman BRIN.

Oleh karena itu, lanjutnya, dibutuhkan terapi seperti tamoksifen yang termasuk golongan selective estrogen receptor modulators (SERMs), yang dapat menghalangi estrogen menempel pada reseptor di jaringan payudara, sehingga pertumbuhan sel kanker dapat ditekan dan diperlambat.

Ia melihat adanya kemiripan struktur kimia antara AMB10 dan tamoksifen melalui pengujian secara in silico dan in vitro. Berdasarkan hasil pengujian tersebut, AMB10 telah disintesis di Universitas Perjuangan Tasikmalaya dan dipilih untuk diteliti lebih lanjut sebagai kandidat radiofarmaka baru untuk teranostik kanker payudara.

“Senyawa yang merupakan turunan alfa-mangostin ini diberi label radioaktif menggunakan iodin-131 (I-131) yang diperoleh dari Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy, kemudian diiodinasi melalui oksidasi kloramin-T, sehingga menghasilkan kemurnian radiokimia yang tinggi,” jelas Isti.

 

Potensi Jadi Senyawa yang Mampu Deteksi sekaligus Obati Kanker Payudara

Ketika diuji di laboratorium pada sel kanker payudara, senyawa ini banyak masuk dan terakumulasi di sel kanker payudara yang memiliki reseptor estrogen positif.

“Setelah melalui berbagai pengujian dan karakterisasi sifat fisikokimia serta studi komputasi, hasilnya menunjukkan bahwa senyawa tersebut cenderung mengenali dan berikatan secara khusus dengan sel kanker yang memiliki reseptor estrogen.”

“Kami melihat bahwa AMB10 memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai radiofarmaka teranostik, yaitu senyawa yang dapat digunakan sekaligus untuk mendeteksi dan mengobati kanker payudara yang bergantung pada reseptor estrogen (ERα-positif),” terang Isti.

Ia berharap riset yang didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia ini dapat berkontribusi dalam pengobatan kanker payudara di Indonesia.

“Melalui riset ini, kami, tim periset, berharap agar senyawa alami berbasis alfa mangostin ini dapat dikembangkan menjadi obat radioaktif untuk terapi kanker payudara,” harapnya.

Kanker dengan Jumlah Kasus Terbanyak di Indonesia

Berdasarkan data The Global Cancer Observatory (GCO), pada 2022 kanker payudara menempati urutan pertama sebagai kanker dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia, yakni 66.271 kasus, serta menjadi penyumbang kematian ketiga akibat kanker.

Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kanker payudara adalah kondisi di mana sel-sel ganas berkembang di dalam jaringan payudara. Biasanya, kanker ini dimulai di saluran susu atau lobulus (kelenjar penghasil air susu).

Sel-sel ganas dapat membentuk tumor yang bisa teraba pada pemeriksaan fisik atau terdeteksi melalui pemeriksaan mamografi. Kanker payudara lebih umum terjadi pada wanita, tetapi juga dapat terjadi pada pria dalam jumlah yang sangat sedikit.

 

Faktor Risiko Kanker Payudara

Penyebab pasti kanker payudara belum diketahui dengan pasti. Namun, ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena penyakit ini, antara lain:

  • Usia: Risiko kanker payudara meningkat seiring bertambahnya usia.
  • Riwayat Keluarga: Memiliki anggota keluarga dekat yang telah atau sedang mengidap kanker payudara dapat meningkatkan risiko.
  • Mutasi Genetik: Mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2 dapat meningkatkan risiko kanker payudara.
  • Riwayat Pribadi: Jika seseorang telah memiliki kanker payudara pada satu payudara, risiko untuk mengembangkan kanker pada payudara lainnya juga meningkat.
  • Faktor Hormonal: Faktor-faktor seperti menstruasi yang dimulai pada usia yang lebih muda, menopause yang terlambat, atau penggunaan terapi hormon pengganti setelah menopause dapat memengaruhi risiko kanker payudara.

Kanker payudara dapat ditandai dengan beberapa gejala, seperti:

  • Benjolan atau perubahan bentuk pada payudara
  • Pembengkakan pada ketiak
  • Perubahan pada kulit payudara, seperti kemerahan atau pengerutan
  • Perubahan pada puting susu, seperti retraksi atau keluarnya cairan
  • Nyeri atau ketidaknyamanan pada payudara.

Kanker ini dapat ditangani dengan beberapa cara, seperti:

  • Bedah: Prosedur pembedahan dapat meliputi pengangkatan tumor (lumpektomi atau mastektomi) dan pengangkatan kelenjar getah bening yang terkena.
  • Radioterapi: Penggunaan sinar radiasi untuk membunuh sel-sel kanker yang mungkin tersisa setelah operasi.
  • Kemoterapi: Penggunaan obat-obatan kanker untuk membunuh sel-sel kanker di seluruh tubuh.
  • Terapi Hormon: Pemberian obat hormonal untuk memblokir pengaruh hormon yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker.

Sementara, cara mencegahnya yakni:

  • Pemeriksaan Rutin dan Deteksi Dini: Melakukan pemeriksaan payudara sendiri, pemeriksaan medis rutin, serta mamografi berkala dapat membantu dalam deteksi dini kanker payudara.
  • Gaya Hidup Sehat: Mengadopsi pola makan sehat, menjaga berat badan yang sehat, berolahraga secara teratur, dan menghindari kebiasaan merokok serta konsumsi alkohol berlebihan dapat membantu mengurangi risiko kanker payudara.