Cerai Nggak Selalu Buruk buat Perempuan, Ini Kata Psikolog

Perceraian seringkali dipandang buruk hingga memicu stigma pada perempuan. Padahal, menurut psikolog, perceraian justru cara yang sehat demi membangun rasa bahagia.

Diterbitkan 09 Januari 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Belakangan ini kasus perceraian melanda rumah tangga artis, bahkan nama besar. Jika dilihat dari kacamata sosial, perceraian seringkali menimbulkan stigma pada pihak perempuan.

Tak sedikit yang beranggapan bahwa cerai merupakan pilihan yang buruk. Nyatanya, cerai terkadang menjadi cara yang sehat bagi perempuan untuk menyelamatkan dirinya.

Menurut Psychologist, Lecturer, dan Counselor Tika Bisono, dampak negatif dari perceraian justru tidak terlalu tinggi bagi perempuan di usia matang. Baik dari segi ketergantungan ekonomi maupun psikologis.

Ketergantungan psikologis melibatkan kemandirian seorang perempuan. Tika mengatakan bahwa perempuan yang sudah terbiasa mandiri tidak menganggap perceraian sebagai suatu masalah besar. Bahkan, di beberapa kasus perceraian pihak perempuan akan merasa bersyukur.

“Tapi kalau dia tidak mandiri, nah ini yang bisa menyiksa juga. Kayak mengalami kesepian secara psikologis, rasa sendiri, bukan kesepian saja, tapi merasa sebatang kara, yang akhirnya seolah-olah hidupnya itu tidak ada gunanya. Nah ini yang kemudian bisa membuat kualitas hidupnya jadi tambah buruk,” jelasnya melalui sambungan telepon bersama Tim Health Liputan6.com pada Kamis, 8 Januari 2026.

Lebih lanjut, Tika juga menjelaskan, stigma negatif yang kerap menyelimuti perempuan dalam kasus perceraian adalah karena pemahaman masyarakat tentang kebahagiaan hakiki. Masih banyak orang yang menganggap bahwa kebahagiaan hakiki diperoleh dari rumah tangga yang utuh.

Semakin matang usia seseorang, katanya, semakin sadar pula mereka bahwa kepura-puraan tidak mampu membangun rasa bahagia. Oleh karena itu, perceraian seringkali terjadi pada kisaran usia 30 sampai 40 tahun.

“Jadi, mereka udah nggak lagi pegang (perasaan) sayang kan. Udah nggak lagi, udah nggak gitu,” imbuhnya.

 

Ikhlas Jadi Kunci Perceraian yang Sehat

Sakit hati merupakan hal sudah pasti terjadi ketika orang bercerai, terutama jika pemicunya adalah kehadiran orang ketiga. Tika mengungkapkan bahwa ikhlas adalah kunci agar cerai tidak menimbulkan dampak negatif.

Meski sulit, perilaku ikhlas harus diterapkan seorang perempuan ketika bercerai. Hal ini dilakukan demi mencegah rasa dendam yang menjadi penyebab masalah kesehatan, baik secara mental maupun fisik.

Menurutnya, amarah dan dendam sangat tidak menguntungkan bagi seseorang, terutama jika usianya sudah tidak lagi muda. Hal ini karena pada usia dewasa harusnya seseorang sudah mulai menyimpan energinya.

Selain berdampak buruk pada fisik, dendam kesumat juga dapat menimbulkan gangguan mental seperti bipolar, kesepian, emotional disorder, bahkan oversensitive, dapat muncul akibat perceraian yang tidak didasari penerimaan. Oleh karena itu, peran profesional sangat penting dalam menumbuhkan sikap ikhlas agar seseorang terhindar dari gangguan tersebut.

“Misalnya oversensitive, dia sangat sensitif. Jadi masalah yang kecil aja bisa buat dia marahnya tinggi misalnya gitu. Itu sebenarnya penyebabnya gara-gara, ya tadi itu perceraian yang tidak smooth gitu ya. Dia sebenarnya nggak bisa terima itu, tapi masih dia paksa-paksa, pasti bisa, masih bisa,” kata Tika.

 

Olah Kognitif Merupakan Opsi Melatih Ikhlas

Tika mengungkapkan bahwa peran psikolog penting untuk mengolah kognitif seseorang. Dalam konteks perceraian, umumnya psikolog membantu mengarahkan pikiran seseorang ke arah yang lebih positif dan rasional.

Meski kenyataannya memang buruk, seseorang tetap harus menerima penyebab dari perceraian yang dihadapi.

“Jadi olah kognitif itu supaya logika, kemudian rasionalisasi, itu benar-benar seimbang. Jadi nggak ada masih ninggalin pemikiran yang nggak sehat itu tadi,” jelasnya.

Menurut Tika, pemikiran yang tidak sehat mampu memicu seseorang melibatkan faktor lain dari masalah yang dihadapi. Hal ini tentunya tidak akan membantu karena masalah hanya akan tertutupi oleh masalah lainnya sehingga pola pikir harus dilatih agar tidak memperburuk kondisi seseorang.