[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: 5 Hal tentang Masih Banyak Warga yang Berobat ke Luar Negeri

Viral di X ada rumah sakit di Malaysia yang memiliki ruangan khusus bagi pasien Indonesia. Berikut lima hal yang perlu jadi sorotan tentang warga Indonesia berobat ke luar negeri.

Diterbitkan 02 Januari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Viral di media sosial X (dulu disebut Twitter) unggahan foto yang menunjukkan salah satu rumah sakit swasta di Malaysia memiliki ruangan khusus bagi pasien Indonesia. Unggahan tersebut memicu perhatian publik dan kembali menyoroti fenomena banyak warga Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri, termasuk ke Malaysia.

Hal ini sudah berulang kali diangkat dan sudah berulang kali juga disebutkan akan ditanggulangi. Namun nampaknya informasi serupa terus berulang.

Terkait masih banyaknya masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri, setidaknya ada lima hal yang dapat dilakukan.

Pertama, melakukan analisa ilmiah mendalam tentang alasan sejumlah masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri. Hanya dengan pendekatan dengan kaidah ilmiah yang baik dan benar maka dapat diketahui berbagai penyebab yang ada, jadi perlu analisa evidence-based.

Bila sudah berbasis bukti maka akan lebih jelas masalahnya dan berbagai kemungkinan jalan keluarnya. Jadi, akar masalah tidak hanya berdasar persepsi tetapi berbasis ilmiah.

Kedua, secara umum dan berkala maka tentu mutu pelayanan rumah sakit Indonesia harus terus dijaga dan ditingkatkan. Sekarang sudah ada mekanisme akreditasi nasional dan beberapa bahkan sudah internasional. Bila sudah mencapai derajat akreditasi tertentu dan kemudian pelayanan masih dianggap belum baik maka perlu dicek apakah proses jaga mutu berkelanjutan yang belum jalan atau sistem akreditasi yang belum menjamin mutu pelayanan.

 

Harmonisasi Penentu Kebijakan Publik dan Pelaksana Pelayanan Kesehatan

Ketiga, menjaga keharmonisan antara penentu kebijakan publik dengan pelaksana pelayanan kesehatan di lapangan.  saling menyalahkan satu dengan lainnya maka tentu menimbulkan atmosfer yang tidak baik.

Di negara seperti Malaysia misalnya, rasanya tidak pernah terdengar ada saling menyalahkan antara penentu kebijakan publik dan petugas kesehatan di lapangan.

Keempat, selain aspek pelayanan kesehatan secara langsung oleh dokter dan petugas kesehatan dengan pasiennya, maka berbagai aspek terkait lainnya di dalam rumah sakit juga harus dibenahi. Sudah beberapa kali keluar berita tentang alasan harga obat di Indonesia lebih mahal dari banyak negara lain tapi sampai sekarang tidak juga ada kebijakan yang membuat harga obat kita lebih murah, belum lagi tentang pajak alat kesehatan dll.

Kelima, selain di dalam RS maka tentu juga perlu ada "pemasaran" dalam bentuk lain untuk orang luar negeri berobat ke Indonesia. Mulai dari bagaimana kemudahan di bandara, bagaimana transportasi, mungkin kemudahan imigrasi bila diperlukan, dan juga menjelaskan di luar negeri tentang pelayanan kesehatan apa saja yang ada di dalam negeri beserta semua informasinya. Poin kelima ini tentu bukan tanggung jawab aparat kesehatan, perlu kerja sama lintas sektor.

 

** Penulis Direktur Pascasarjana Universitas YARSI