Anak dari Orangtua NPD Rentan Trauma, Ini 8 Cara untuk Pulih dan Bangkit

Dibesarkan oleh orangtua NPD bisa meninggalkan luka emosional mendalam. Pelajari 8 cara untuk sembuh, menetapkan batasan, dan hidup lebih sehat secara mental.

Diterbitkan 23 Oktober 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik dapat memengaruhi hubungan penting dalam kehidupan penderitanya, termasuk cara mereka mengasuh anak.

NPD membuat seseorang memiliki empati yang rendah dan cenderung menampilkan perilaku berlebihan atau mewah. Mereka juga sering membutuhkan validasi besar dari orang lain, sehingga terkadang kurang memperhatikan kebutuhan anak-anaknya, seperti dilansir Psych Central pada Rabu, 22 Oktober 2025.

NPD merupakan gangguan mental yang hanya bisa didiagnosis oleh profesional dengan kriteria tertentu. Meski demikian, orangtua yang tidak memiliki riwayat NPD pun bisa menunjukkan sifat-sifat narsistik yang dapat memengaruhi hubungan dalam keluarga dan berdampak pada kesehatan mental anak.

Bagi seseorang yang tumbuh dengan pola asuh narsistik, penting untuk mengetahui cara menghadapi sikap tersebut. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

Metode yang Tepat Hadapi Orangtua Narsistik

1. Belajar Memaafkan

Sebuah studi pada tahun 2023 menemukan bahwa sikap memaafkan memiliki benefit yaitu:

  • Mengurangi amarah
  • Menurunkan tingkat kecemasan
  • Meredakan depresi
  • Memotivasi seseorang untuk melanjutkan hidup
  • Meredakan stres

Jika seseorang sulit untuk memaafkan, stres yang didasari oleh perasaan negatif seperti amarah pada akhirnya akan memperburuk kesehatan fisik. Mulai dari kualitas tidur yang buruk, hingga bercabang menjadi penyakit kronis seperti serangan jantung dan hipertensi.

Memaafkan tidak selalu tentang memaklumi perilaku yang salah. Seseorang bisa memaafkan orangtua mereka dengan tetap memahami bahwa pola asuh yang diterapkannya itu salah.

2. Memutus Siklus Buruk

Anak yang tumbuh dengan pola asuh narsistik cenderung menjadi bagian dari warisan trauma antargenerasi. Dengan demikian, sikap narsistik atau bahkan gangguan NPD pada orangtua juga kemungkinan adalah hasil dari pola asuh narsistik oleh generasi sebelumnya.

Studi menemukan fakta bahwa gejala NPD dapat dipengaruhi oleh pengabaian di masa kecil atau bahkan jenis-jenis pelecehan, seperti:

  • Kekerasan verbal
  • Kekerasan fisik
  • Pelecehan seksual
  • Pelecehan emosional

Disfungsi rumah tangga juga menjadi faktor lain adanya sikap narsistik pada orangtua. Mempelajari dan memutus siklus ini merupakan bagian dari proses penyembuhan.

3. Memproses Kesedihan

Rasa sedih merupakan respons alami ketika seseorang kehilangan sesuatu, termasuk kehilangan masa kecilnya. Pola asuh orangtua narsistik membuat seorang anak seringkali merasa tidak diakui dan mengganggu proses pertumbuhannya.

Hilangnya masa kecil dapat ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:

  • Pola asuh yang kurang kasih sayang
  • Tidak mengalami masa kecil sebebas teman-teman sebaya
  • Merasa tidak aman karena lingkungan yang tidak stabil
  • Kurangnya harga diri ketika tumbuh dewasa
  • Tidak dapat mengembangkan identitas diri sendiri

Memahami dan belajar memproses kesedihan akan membantu seseorang melanjutkan hidup dan sembuh dari gangguan mental.

4. Mempelajari Narsisme

Mempelajari ciri-ciri narsisme dapat membantu seseorang mengidentifikasi perilaku buruk seperti tindakan manipulatif atau kekerasan emosional.

Ketika mengalami pola asuh narsistik, seorang anak seringkali menyalahkan diri sendiri ketika orangtua mereka tidak bahagia.

Dengan mempelajari ciri narsisme, anak akan memahami kondisi tersebut dan terlatih untuk menghadapi situasi narsistik.

 

5. Menetapkan Batasan

Untuk melindungi diri dari tindakan narsisme, seseorang perlu menetapkan batasan. Dengan ini, seorang anak mampu mengurangi pengaruh orangtua terhadap cara anak menilai diri sendiri.

Menetapkan batasan artinya melihat perilaku orangtua yang manipulatif sebagai gejala narsisme, bukan cerminan diri sendiri. Selain itu, menetapkan batasan juga dapat dilakukan dengan berani mengatakan tidak dan menyatakan pendapat diri sendiri.

Batasan-batasan ini lebih mudah untuk dilakukan pada saat dewasa, terutama ketika tidak lagi tinggal bersama orangtua.

6. Mementingkan Diri Sendiri

Penting bagi anak untuk memilih cara hidupnya sendiri. Beberapa anak yang tumbuh dengan pola asuh narsistik cenderung melakukan hal untuk menyenangkan ego orangtua. Untuk itu, seseorang perlu berlatih memilih sesuatu dengan memikirkan dampaknya untuk diri sendiri.

Mengubah jalan hidup dengan memilih sesuatu sesuai tujuan pribadi merupakan cara untuk membangun identitas diri. Hal ini juga membantu anak terhindar dari dampak buruk sikap manipulatif orangtua.

7. Memiliki Hubungan yang Lebih Sehat

Anak yang tumbuh dari orangtua narsistik cenderung sulit memiliki hubungan yang sehat. Mempelajari ciri narsisme dapat membantu seseorang lebih yakin dan percaya diri dalam mengidentifikasi interaksi manusia.

Dengan ini, anak tidak hanya mampu membangun hubungan yang sehat, tetapi juga mampu memutus siklus buruk ini.

8. Mencari Bantuan Profesional

  • Bantuan profesional tentu dapat membantu seseorang mengatasi masalah pada pola hubungan narsistik. Masalah-masalah tersebut meliputi:
  • Identifikasi perilaku narsistik pada orang lain
  • Pola pikir yang berubah
  • Batasan yang sering dilanggar oleh orangtua narsistik
  • Hubungan yang kurang sehat