Anak yang Tumbuh Tanpa Peran Ayah Rentan Alami Krisis Moral dan Iman

Fatherless adalah luka serius bagi keluarga, gereja Katolik ingatkan pentingnya kehadiran ayah.

Diterbitkan 11 Oktober 2025, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Larantuka, Romo Bernardus Belawa Wara, mengatakan ahwa fenomena fatherless (ketiadaan figur ayah) adalah luka serius bagi keluarga. 

Fatherless atau ketidakhadiran ayah adalah luka serius bagi keluarga. Anak yang tumbuh tanpa bimbingan ayah rentan kehilangan arah, jatuh dalam kecemasan, depresi, bahkan krisis moral dan iman,” katanya dalam Bimbingan Teknis Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) Berbasis Agama Katolik, Selasa (30/9/2025), di Aula Eltari Kupang, NTT.

Pria yang akrab disapa Romo Ben mengingatkan bahwa menjadi ayah adalah panggilan seumur hidup. 

“Menjadi ayah bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati, doa, teladan, dan kasih. Anak membutuhkan ayah yang bukan hanya pencari nafkah, melainkan pemimpin rohani di rumah,” katanya.

Ia juga menekankan relevansi peran ayah di era digital dan Society 5.0. Di mana ayah dituntut hadir juga dalam dunia anak-anaknya, baik nyata maupun digital. 

"Hadirlah, fokuslah, dan bersukacitalah dalam kebersamaan dengan anak-anakmu,” imbaunya dalam ajang yang digelar Direktorat Bina Ketahanan Remaja, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN berkolaborasi dengan Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI.

Kegiatan bimtek ini diikuti 250 penyuluh dan tokoh agama Katolik dengan tujuan memperkuat pemahaman akan pentingnya peran ayah dalam keluarga Katolik. Turut hadir Kepala Perwakilan BKKBN NTT, Dr. Faizal Fahmi, M. Kes. 

Kegiatan dibuka dengan sambutan oleh Plt. Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTT, H. Ishak Sulaiman, S.Ag. Ia menegaskan bahwa kehadiran ayah adalah kunci keseimbangan keluarga, teladan kasih Allah, sekaligus panggilan iman yang nyata bagi Gereja Katolik.

 

Keluarga sebagai Ecclesia Domestica

Sementara itu, Direktur Urusan Agama Katolik Ditjen Bimas Katolik, Kemenag RI, Dr. Salman Habeahan, S.Ag, MM, menyampaikan pengantar kegiatan yang menekankan relevansi GATI dengan ajaran gereja dan mendorong tokoh agama untuk menjadi agen perubahan keluarga. 

"GATI sejalan dengan ajaran gereja yang menempatkan keluarga sebagai 'ecclesia domestica' atau gereja kecil di tengah masyarakat," katanya.

Dalam sesi materi, Direktur Bina Ketahanan Remaja Kemendukbangga/BKKBN, diwakili Cikik Sikmiyati, memaparkan konsep dan implementasi GATI. 

Ia menyoroti fenomena fatherless di Indonesia, di mana 20,9 persen anak tumbuh tanpa kehadiran ayah (UNICEF, 2021), dan dampaknya terhadap kesehatan mental, prestasi akademik, serta risiko perilaku remaja.

"Data menunjukkan 1 dari 5 anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah. Ini bukan hanya angka, tetapi wajah nyata anak-anak yang kehilangan bimbingan dan kasih dari figur ayah," ujar Cikik.

 

Hadapi Tantangan Zaman dengan Iman

Cikik menegaskan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan adalah kebutuhan, bukan pilihan.

Anak-anak yang mendapat dukungan ayah tumbuh lebih percaya diri, mandiri, dan berdaya saing.

GATI, sambungnya, hadir untuk mengajak para ayah terlibat aktif dalam setiap aspek kehidupan anak, mulai dari bermain, belajar, hingga doa bersama. 

"Kita percaya, ayah yang terlibat akan melahirkan generasi hebat, generasi yang siap menghadapi tantangan zaman dengan iman, karakter, dan daya juang yang kuat,” jelasnya.

Di akhir sesi diskusi, moderator memfasilitasi penyusunan rekomendasi dan komitmen bersama antara tokoh agama, penyuluh agama Katolik, Kanwil Kemenag NTT, dan Kemendukbangga/BKKBN. Komitmen ini menegaskan dukungan penuh untuk menyampaikan pesan GATI dalam berbagai kegiatan penyuluhan, liturgi, maupun pelayanan pastoral. 

Melalui Bimtek ini tokoh agama dan penyuluh Katolik diharapkan lebih memahami pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan berbasis iman Katolik. Menjadi agen perubahan dengan menyampaikan pesan GATI secara konsisten dalam pelayanan serta mendorong lahirnya keluarga Katolik yang tangguh, penuh kasih, dan berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.