Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang masih beranggapan sakit gigi hanyalah masalah kecil yang bisa diatasi dengan obat pereda nyeri. Padahal, sakit gigi yang dibiarkan tanpa penanganan medis dapat menimbulkan risiko serius.Â
Menurut Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, sakit gigi bukan penyebab langsung kematian, ada kasusnya meskipun jarang.
Bagaimana juga komplikasi yang disebabkan oleh sakit gigi tetap berbahaya. "Kalau langsung menyebabkan kematian enggak ya, jarang sekali sebenarnya kasus-kasus gigi ataupun kelainan ataupun permasalahan pada mulut yang kemudian menyebabkan kematian," kata Nadia dalam media briefing menyambut Hari Kesehatan Gigi Nasional pada Kamis, 11 September 2025.
Advertisement
Pernyataan Nadia tersebut menegaskan bahwa bahaya sakit gigi bukan hanya pada rasa sakitnya, tapi pada potensi penyebaran infeksi. Sakit gigi disebut menjadi gerbang masuknya kuman-kuman ke dalam tubuh.Â
"Kita bisa lihat ya, di bawah gigi itu banyak sekali pembuluh darah. Kalau ada gigi kita berlubang ataupun kemudian ada infeksi itu kan banyak yang mengandung bakteri, virus yang kemudian dengan mudah dia akan masuk ke dalam pembuluh darah," kata Nadia
Infeksi di mulut tersebut kemudian bisa menyebar ke organ vital tubuh melalui peredaran darah. Hal ini berarti, walaupun tidak langsung mematikan, sakit gigi bisa membuka jalan bagi penyakit berat.Â
Â
Infeksi Bisa Menyebar ke Jantung
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5346316/original/054104600_1757583080-Screenshot__1538_.jpg)
Lebih lanjut, Nadia menekankan bahwa kondisi gigi tidak bisa dipandang sebelah mata karena memiliki keterkaitan dengan kesehatan organ lainnya.
Aliran darah yang berputar ke seluruh tubuh, bisa membawa bakteri atau virus ke organ-organ dalam tubuh, seperti bisa menginfeksi jantung.Â
"Jadi, banyak sekali infeksi jantung itu disebabkan karena awalnya adalah infeksi pada mulut ataupun gigi yang menyebabkan bakteri tersebut sampai," kata Nadia.Â
Nadia mencontohkan pada kasus penyakit jantung bawaan. Nadia menyebut bahwa anak yang baru lahir tidak mungkin terpapar bakteri atau virus. Kondisi infeksi gigi pada ibu hamil dapat memberikan potensi penyakit jantung bawaan pada anak.Â
"Nah, mungkin pada saat ibunya mengandung atau kehamilannya ini gigi ibunya mungkin ada yang infeksi, ini yang bisa menyebabkan potensi tersebut, jadi itu menyebabkan kematian secara langsung tidak, tapi kemudian bisa menimbulkan penyakit-penyakit lainnya," ujar Nadia.
Advertisement
Mengapa Banyak Orang Masih Abai?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5346317/original/086058700_1757583080-Screenshot__1532_.jpg)
Walaupun risiko sakit gigi berbahaya, masih banyak masyarakat yang mengabaikan perawatan. Nadia mengungkapkan alasan mengapa hal ini sering terjadi karena masyarakat masih memegang prinsip 'kalau tidak sakit, tidak berobat'.
"Kenapa masyarakat kita tidak langsung mendapatkan pengobatan, karena tadi kalau sakit gigi kan biasanya saat dia infeksi itu atau meradang itu sakitnya yang baru terasa. Nah, tapi kalau proses meradangnya sudah selesai biasanya juga ditambah dengan minum-minuman anti nyeri dan sebagainya itu sudah tidak merasa sakit lagi,"Â katanya.
Kebiasaan menunda pengobatan inilah yang memperparah kondisi gigi. Nadia menyebut bahwa kepedulian masyarakat terhadap permasalahan gigi masih rendah. Banyak orang baru mendatangi puskesmas atau dokter gigi ketika gigi sudah tidak bisa diselamatkan.Â
Akhirnya, pencabutan menjadi satu-satunya pilihan. Padahal, menurut Nadia jika masalah gigi ditangani lebih awal akan mengurangi beban finansial, dibandingkan dengan penaganan yang terlambat.
"Kalau kita lihat ini datanya, masalah gigi dan mulut yang mencari pengobatan di 2023 hanya 11,2 persen, walaupun kalau kita lihat permasalahan gigi dan mulut itu tidak berkurang," kata Nadia.Â
Â
Kumur Garam hingga Bawang Putih, Benarkah Efektif?
Selain menunda berobat ke dokter gigi, sebagian masyarakat memilih mengandalkan pengobatan tradisional ketika sakit gigi menyerang. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum PB PDGI, Usman Sumantri, di kesempatan yang sama.
"Di masyarakat kita masih ada yang menggunakan berbagai macam tradisional medicine ya, tentunya ada yang menggunakan air garam, ada juga yang menggunyah bunga cangkeh, ada juga yang menggunakan bawang putih," kata Usman.
Cara-cara ini sudah turun-temurun digunakan, meski tidak sepenuhnya efektif. Tetapi, cara tersebut masih bisa mengurangi rasa sakit. Sifat antiseptik pada garam bisa membantu mengurangi perkembangan bakteri.Â
"Karies gigi yang berperan terbesar itu kan bakteri streptococcus. Streptococcus itu yang mutans, itu bsa dkurangi dengan kebiasaan-kebiasaan ini," kata Usman.
Selain itu, Nadia juga menyebut garam bisa menghilangkan rasa sakit karena garam mengandung larutan NaCL yang sifatnya seperti antiseptik.
"Tapi itu bukan antiseptik yang betul-betul untuk pengobatan, tapi itu hanya sebenarnya mungkin seperti kumur-kumur ya, tapi kemudian memang tidak betul-betul menyembuhkan penyaki," ujar Nadia.
Dengan kata lain, penggunaan garam atau bawang putih hanya memberikan rasa lega sementara, bukan solusi permanen. Infeksi gigi tetap harus ditangani dengan perawatan medis.Â
Pencegahan penyakit gigi bisa dilakukan dengan menyikat gigi secara benar, mengurangi konsumsi gula, serta pemeriksaan rutin menjadi langkah terbaik menjaga kesehatan gigi.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627383/original/048072800_1782622786-153948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782357/original/057831900_1782883984-Cek_fakta-_disabilitas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5161190/original/005209800_1741846272-1741840491128_penyebab-sakit-gigi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261515/original/075937400_1781733992-IMG-20260618-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4937793/original/094395600_1725589798-AP24249749330750.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264054/original/059677500_1782070488-Spain_s_Mikel_Oyarzabal_celebrates_with_teammate_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389971/original/012637700_1782270142-AP26174800285397.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556659/original/033473100_1776274063-000_A6D679V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782365/original/061503000_1782884376-AP26181805083891.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782203/original/029416800_1782879842-mex4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782208/original/070447800_1782879843-mex9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776307/original/030285700_1782873381-AP26182087478676.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524757/original/078321100_1782454482-AP26176835585287.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7828131/original/034861000_1780647873-WhatsApp_Image_2026-06-05_at_3.20.47_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5066439/original/090805600_1735221576-Screenshot_2024-12-26_205230.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5545256/original/060387500_1775149092-Dokter_gigi_dari_Happy_Dental_Clinic__drg._Janet_Jessica.jpeg)