Angka Anemia Masih Tinggi pada Anak Indonesia, Deteksi Dini Lewat Kalkulator Zat Besi

Survei Kesehatan Indonesia 2024 mencatat, sebanyak 23,8% anak di bawah usia lima tahun mengalami anemia yang kebanyakan karena defisiensi zat besi.

Diperbarui 01 September 2025, 20:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan serius yang dihadapi anak-anak Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia 2024 mencatat, sebanyak 23,8% anak di bawah usia lima tahun mengalami anemia, mayoritas karena kekurangan zat besi.

Tak berhenti di situ, angka stunting juga masih cukup tinggi yakni 19,8%, jauh dari target pemerintah yang ingin menurunkannya di bawah 14%.

Dua masalah besar ini erat kaitannya dengan nutrisi. Sayangnya, banyak yang tidak terdeteksi sejak awal. Padahal, menurut Dr. Ray Wagiu Basrowi, Medical & Scientific Affairs Director Nutricia Sarihusada, pencegahan jauh lebih penting dibandingkan menunggu anak masuk dalam suatu kondisi masalah kesehatan.

“Pencegahan adalah investasi penting karena mampu menyelamatkan banyak orang sekaligus menekan biaya kesehatan. Intervensi preventif efektif jika biayanya terjangkau, mencegah perawatan lanjutan yang mahal, dan menjangkau populasi dalam skala besar sehingga dampaknya signifikan,” ujarnya dalam forum Healthcare Innovation Leaders Asia 2025 di Jakarta, 27–28 Agustus lalu.

Salah satu upaya preventif yang dikenalkan Nutricia Sarihusada adalah inovasi Kalkulator Zat Besi. Lewat tujuh pertanyaan sederhana, orangtua bisa mengetahui apakah anak mereka berisiko kekurangan zat besi. Cara ini non-invasif, mudah diakses, dan bisa membantu deteksi dini anemia sebelum terlambat.

“Deteksi dini menjadi kunci pencegahan masalah kesehatan pada anak. Dengan inovasi seperti Iron Calculator, risiko kesehatan anak bisa dikenali lebih cepat sehingga intervensi tepat dapat dilakukan,” tambah Ray.

Skrining Dini Turunkan Biaya Perawatan Jangka Panjang

Hasil riset dari Departemen Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia juga memperkuat hal ini. Skrining dini dan intervensi nutrisi terbukti mampu menurunkan risiko kesehatan anak sekaligus menekan biaya perawatan jangka panjang.

Pencegahan anemia kata Ray, misalnya, bisa dilakukan dengan suplementasi zat besi, vitamin C, dan fortifikasi makanan. Sementara pencegahan stunting perlu dimulai sejak masa kehamilan dengan pemenuhan nutrisi ibu, pemberian ASI eksklusif, dan asupan protein hewani saat anak sudah berusia lebih dari 6 bulan.

Masalah kesehatan yang lain pada anak seperti risiko kelahiran prematur  bisa dicegah dengan menjalani pola makan sehat, suplementasi zat besi dan asam folat berperan penting. Begitu pula dengan alergi protein susu sapi yang bisa diantisipasi lewat identifikasi alergen dan alternatif nutrisi yang aman.

.

Tindakan Preventif Berbasis Data

Upaya ini sejalan dengan strategi Kementerian Kesehatan yang menekankan pentingnya pendekatan preventif berbasis data. Melalui platform DREAMS, Kemenkes menghadirkan data kesehatan terintegrasi yang dapat menjadi acuan daerah dalam menentukan langkah prioritas.

Dengan pemanfaatan teknologi dan data, transformasi kesehatan diharapkan lebih terarah, efektif, dan berdampak nyata pada peningkatan kualitas hidup anak Indonesia.