Banyak Pasangan Muda Punya Anak Cuma 1, Ini Kata Kemendukbangga

Faktor ekonomi yang jadi salah satu alasan di balik banyak pasangan memilih punya anak cuma satu di masa kini seperti disampaikan Kemendukbangga/BKKBN

Diterbitkan 28 Juli 2025, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Semarang Ria (36) dan sang suami sudah mantap untuk tidak menambah anak. Pasangan asal Bogor, Jawa Barat yang menikah pada 2015 ini merasa mantap untuk memiliki anak satu saja yang kini sudah berusia 6 tahun.

“Ada banyak pertimbangan ya. Mulai dari uang sekolah yang makin mahal, sulit bagi waktu antara anak dengan bekerja dan mengasuh anak apalagi kami berdua bekerja. Jadi, ya kami mau mengoptimalkan buat anak kami satu-satunya saja,” tutur Ria beberapa waktu lalu.

Keputusan Ria dan suami, juga banyak dilakukan pasangan muda saat ini.

Merujuk data Siperindo Online yang diakses Senin, 28 Juli 2025, angka fertilitas total di Kota Bogor adalah 1,89. Fertilitas total atau total fertility rate (TFR) adalah angka yang menunjukkan rata-rata jumlah anak yang akan dilahirkan oleh seorang perempuan selama masa reproduksinya.

TFR di bawah 2 juga terjadi di Kabupaten Bogor tepatnya di angka 1,92. Begitu pula dengan angka fertilitas total di wilayah sekitar seperti Depok dan Bekasi yang berada di bawah 2.

Terkait makin banyak pasangan yang cuma ingin anak satu Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/BKKBN Bonivasius Prasetya Ichtiarto mengatakan hal itu memang sesuai data di Indonesia maupun di luar negeri yang dirilis United Nations Population Fund (UNFPA).

 “Betul, betul, itu sudah terbukti di data kita, kemudian terbukti dari UNFPA juga,” kata Boni menjawab pertanyaan Health Liputan6.com.

Boni mengungkapkan pada pasangan yang kini memiliki anak satu ada juga yang sebenarnya ingin punya anak 2 atau 3. Namun, realita yang ada seperti biaya sekolah yang mahal, kebutuhan pengasuh dan aspek lain membuat pasangan muda memilih cukup satu saja.

“Jadi ini kenapa? Pertama karena alasan ekonomi,” tutur Boni.

 

Perlu Sokongan Kepastian Ekonomi

Guna menjaga stabilitas TFR di angka 2,11 Boni mengungkapkan perlu dilakukan upaya yang mendukung agar perekonomian para ayah dan ibu itu menjadi baik.

Supportnya dalam bentuk apa? Pekerjaan yang tidak lagi informal tapi formal, skema penggajian diatur. Jadi, mengarahnya kepada kepastian ekonomi,” kata Boni usai acara orientasi program kependudukan, pembangunan keluarga dan keluarga berencana bagi jurnalis di UPT Balai Diklat Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah pada Sabtu, 26 Juli 2025.

Boni juga mengatakan perlu ada dukungan tentang biaya sekolah yang terjangkau hingga akses kesehatan seperti BPJS Kesehatan yang memadai.  

Tak ketinggalan dukungan agar anak bisa dititipkan saat ibu dan ayah bekerja itu juga membuat orangtua tidak cemas saat bekerja. Upaya yang telah dilakukan Kemendukbangga/BKKBN dengan menghadirkan Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya). Ini adalah program yang bertujuan untuk memberikan layanan pengasuhan anak usia dini yang berkualitas, terutama bagi orangtua yang bekerja.

“Itu salah satu contoh untuk mendukung pemerintah kita,” kata Boni.

 

 

Angka Fertilitas Total Bisa Turun

Bila tidak ada upaya menjaga, memang bisa angka fertilitas total sebuah negara bisa turun.

“Kalau enggak, ya memang akan turun terus karena tekanan ekonomi tadi,” kata Boni.

Saat ini secara nasional angka fertilitas total Indonesia di angka 2,11. Ini artinya sekitar dua anak yang dilahirkan perempuan selama masa reproduksi. Angka 2,11 ini menurut Boni merupakan angka ideal untuk sebuah negara.

Apa yang Terjadi Bila TFR Indonesia Terus Turun?

Boni mengungkapkan bila angka TFR terus turun maka bisa melihat seperti kasus yang terjadi di Jepang yakni terjadi depopulasi atau penurunan jumlah penduduk secara signifikan di suatu wilayah.

“Lebih banyak yang di atas ya (lansia) tapi yang di bawah (usia anak dan produktif) semakin sedikit. Akhirnya menjadi populasi piramida terbalik,” tuturnya.

Bila itu terjadi, maka beban ekonomi suatu negara akan berat karena yang bekerja lebih sedikit. Maka akan cari orang dari luar sehingga bakal ada tenaga asing masuk yang rentan meningkatkan angka kriminalitas.

“Maka dari itu, kita harus mencoba menjaga (agar angka TFR di 2,1),” tutup Boni.