Tanpa Formalin atau Bahan Kimia Lain, Teknologi Ini Bikin Ikan Nggak Cepat Busuk

Plasma dingin adalah teknologi non-thermal yang muncul untuk peningkatan keamanan pada pangan.

Diterbitkan 05 Juli 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gunung Kidul Para peneliti mengembangkan cara untuk memperpanjang umur simpan ikan agar tak cepat busuk. Cara ini disebut cold plasma atau plasma dingin, diteliti oleh tim periset Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRTPP BRIN).

Selama tiga tahun terakhir, tim ini telah mengembangkan berbagai inovasi untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir, khususnya nelayan dan pelaku usaha perikanan di Gunungkidul, Yogyakarta. Dan plasma dingin adalah salah satu riset unggulan tahun.

Periset dari PRTPP BRIN, Ahmat Fauzi, menjelaskan bahwa teknologi plasma dingin memungkinkan pengolahan ikan secara higienis dan aman tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya.

“Teknologi ini tidak menggunakan formalin, prosesnya cepat, dan tidak merusak kandungan gizi ikan. Sangat cocok diterapkan untuk pengemasan fillet, ikan kering, bahkan produk beku seperti bakso ikan,” kata Fauzi mengutip laman BRIN, Jumat (4/7/2025).

Plasma dingin adalah teknologi non-thermal yang muncul untuk peningkatan keamanan pada pangan, seperti mengutip artikel ilmiah berjudul Potensial Teknologi Plasma Dingin Dalam Industri Makanan.  

Plasma dingin dihasilkan ketika sumber energi listrik diterapkan ke gas menghasilkan beberapa spesies reaktif seperti foton ultraviolet, partikel bermuatan, spesies nitrogen, oksigen, dan hidrogen reaktif untuk menonaktifkan mikroba pencemar pada daging, unggas, buah-buahan, dan sayuran.

“Aplikasi utama cold plasma pada industri pangan yaitu sebagai dekontaminasi pangan dan peningkatan mutu terhadap ketahanan pangan. Plasma dingin telah terbukti efektif untuk inaktivasi berbagai patogen dan organisme pembusuk tanpa mempengaruhi kualitas makanan,” jelas artikel yang ditulis Jesicca Ananty Nurul Setiadi dari Universitas Negeri Semarang (UNS).

 

Bantu Nelayan Gunungkidul

Sebelumnya, Fauzi menjelaskan, Gunungkidul dikenal sebagai kabupaten dengan garis pantai terpanjang di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mencapai sekitar 70 km.

Potensi tersebut menjadikannya sebagai daerah penyumbang produksi ikan tangkap terbesar di DIY. Namun, pemanfaatan hasil perikanan tangkap di kawasan ini dinilai belum optimal. Untuk menjawab tantangan tersebut, BRIN mengembangkan teknologi ramah lingkungan guna memperpanjang umur simpan produk ikan lokal.

Fauzi menyampaikan bahwa tren produksi ikan di sepanjang pantai Gunungkidul terus meningkat. Berdasarkan data tahun 2018 hingga 2022, terjadi kenaikan produksi dari sekitar 2.924 ton menjadi 3.053 ton. Produksi garam rakyat pun mengalami pertumbuhan hingga 5.263 ton pada 2022.

Meski demikian, menurut Fauzi, peningkatan produksi tersebut belum diimbangi dengan optimalisasi pengolahan pascapanen.

“Belum banyak industri pengolahan hasil laut di sekitar pantai. Produk ikan tangkap harus dikirim ke perusahaan yang lokasinya jauh dari pelabuhan, yang berdampak pada kualitas hasil tangkapan,” ujarnya pada Selasa (1/7).

 

Tantangan Nelayan Gunungkidul

Selain persoalan jarak, Fauzi juga menyoroti keterbatasan teknologi tangkap, kondisi cuaca, serta rantai dingin dan sistem transportasi yang belum memadai.

Ia menilai, kondisi tersebut menyebabkan ikan cepat membusuk dalam perjalanan menuju tempat pengolahan akibat sistem pengemasan dan pengawetan yang masih manual.

Di sisi lain, pelaku UMKM pengolahan ikan di Gunungkidul terus menunjukkan kreativitas. Beragam produk olahan seperti abon ikan, bakso, otak-otak, kerupuk tenggiri, stik rumput laut, nugget, hingga sosis ikan telah dikembangkan. Namun, kontribusinya terhadap nilai tambah ekonomi dinilai masih rendah.

“Keterbatasan teknologi, kemasan yang kurang optimal, serta daya simpan produk yang pendek menjadi kendala utama. Apalagi jika produk tidak menggunakan bahan pengawet maka potensi kerugiannya cukup besar,” tambah Fauzi.

Dia berharap, teknologi plasma dingin dapat dimanfaatkan secara luas oleh UMKM pesisir yang selama ini telah menunjukkan inovasi dalam pengolahan produk berbasis hasil laut.

“Harapan kami, teknologi ini dapat meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir Gunungkidul,” tutupnya.