Studi Ungkap Obat Gejala Menopause Ini Berpotensi Turunkan Risiko Kanker Payudara

Penelitian terhadap obat ini membuka harapan baru bagi jutaan perempuan pascamenopause yang menghadapi risiko kanker payudara, sekaligus ingin mengurangi ketidaknyamanan akibat menopause.

Diterbitkan 16 Juni 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah temuan mengejutkan datang dari penelitian terbaru yang dilakukan Universitas Northwestern, Illinois, Amerika Serikat. Obat yang selama ini digunakan untuk mengatasi gejala menopause, seperti hot flashes, ternyata memiliki potensi ganda: membantu mencegah kanker payudara.

Penelitian ini membuka harapan baru bagi jutaan perempuan pascamenopause yang menghadapi risiko kanker payudara, sekaligus ingin mengurangi ketidaknyamanan akibat menopause.

Obat yang dimaksud adalah Duavee, kombinasi dari estrogen terkonjugasi dan bazedoxifene (CE/BZA). Duavee sebelumnya telah disetujui oleh FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan AS) untuk mengobati hot flashes dan mencegah pengeroposan tulang pada wanita pascamenopause.

Namun, studi fase 2 yang dilakukan terhadap 141 wanita pascamenopause dengan karsinoma duktal in situ (DCIS) — atau kanker payudara stadium 0 — menunjukkan bahwa Duavee dapat “secara signifikan mengurangi pertumbuhan sel-sel di jaringan payudara,” menurut Dr. Swati Kulkarni, peneliti utama sekaligus profesor bedah payudara di Fakultas Kedokteran Feinberg Universitas Northwestern.

“CE/BZA memperlambat pertumbuhan (proliferasi) sel-sel di saluran susu DCIS yang mengekspresikan reseptor estrogen secara signifikan lebih banyak daripada plasebo,” kata Kulkarni kepada Fox News Digital.

Mengurangi Hot Flashes Tanpa Menurunkan Kualitas Hidup

Dalam penelitian tersebut, para peserta dibagi menjadi dua kelompok: satu menerima Duavee, dan satu lagi mendapatkan plasebo selama satu bulan sebelum menjalani operasi payudara. Hasilnya tidak hanya menunjukkan pengurangan pertumbuhan sel, tetapi juga perbaikan gejala menopause.

“Pasien yang mengonsumsi CE/BZA melaporkan lebih sedikit hot flashes selama penelitian. Hal ini diharapkan, karena obat tersebut memang telah disetujui FDA untuk mengobati hot flashes,” jelas Kulkarni.

Yang menarik, kualitas hidup antara kelompok Duavee dan plasebo tidak menunjukkan perbedaan signifikan, yang mengindikasikan bahwa penggunaan obat ini tidak membebani pasien secara keseluruhan.

 

Pilihan Baru Bagi Perempuan Berisiko Tinggi Kanker Payudara

Kulkarni menekankan bahwa hasil penelitian ini sangat relevan terutama bagi perempuan dengan risiko tinggi terkena kanker payudara, seperti mereka yang memiliki lesi payudara berisiko tinggi dan mengalami gejala menopause.

“Wanita-wanita ini biasanya disarankan untuk tidak menjalani terapi hormon standar, sehingga mereka hanya memiliki sedikit pilihan pengobatan menopause,” ungkapnya.

Duavee berpotensi mengisi celah kebutuhan ini: meringankan gejala menopause tanpa meningkatkan risiko kanker, dan bahkan mungkin membantu menurunkannya.

“Yang paling menggembirakan bagi saya adalah bahwa obat yang dirancang untuk membantu wanita merasa lebih baik selama menopause juga dapat mengurangi risiko kanker payudara invasif,” ujarnya.

Meskipun demikian, Kulkarni menekankan bahwa CE/BZA bukan untuk pengobatan DCIS atau kanker payudara invasif, melainkan sebagai potensi pencegahan bagi mereka yang mengalami gejala menopause dan memiliki kekhawatiran akan risiko kanker.

 

Masih Diperlukan Penelitian Lanjutan

Meski hasil penelitian ini menjanjikan, para ahli menegaskan bahwa temuan ini masih dalam tahap awal dan belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.

“Temuan kami menunjukkan bahwa CE/BZA dapat mencegah kanker payudara, tetapi diperlukan penelitian yang lebih besar dengan tindak lanjut selama beberapa tahun sebelum kita dapat mengetahui hal ini dengan pasti,” kata Kulkarni.

Senada dengan itu, Dr. Sheheryar Kabraji, Kepala Kedokteran Payudara di Roswell Park Comprehensive Cancer Center, menyatakan bahwa studi ini masih terlalu dini untuk disimpulkan sebagai bukti kuat.

“Penelitian ini tidak secara langsung menunjukkan bahwa pengobatan CE/BZA mengurangi risiko kekambuhan DCIS atau perkembangan kanker invasif,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penelitian ini hanya mengamati pengurangan satu jenis protein, yang tidak selalu mencerminkan penurunan risiko jangka panjang.

Meski begitu, Kabraji mengakui bahwa CE/BZA memiliki keunggulan karena tidak menyebabkan penurunan kualitas hidup dan bahkan memberikan perbaikan gejala vasomotor seperti hot flashes. Jika kelak terbukti efektif sebagai pencegah kanker, CE/BZA bisa menjadi alternatif dengan efek samping lebih ringan dibandingkan terapi pencegahan kanker payudara yang ada saat ini.