Bangun Tidur Langsung Scroll Medsos? Kenali Gejala Kecanduan Media Sosial

Hari Media Sosial 2025, ingat kembali kondisi kecanduan media sosial, gejala, hingga cara menanganinya!

Diperbarui 10 Juni 2025, 14:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Psikolog Atika Dian Ariana mengungkapkan kecanduan media sosial termasuk bagian dari problematic internet use atau masalah penggunaan internet.

Hal itu ditandai dengan indikator seperti durasi, intensitas, dan frekuensi penggunaan media sosial yang melebihi batas wajar.

“Penggunaan yang melebihi lima jam sehari dapat dianggap sebagai problematik. Terutama jika seseorang kehilangan kontrol dan terobsesi untuk terus mengakses platform tersebut,” kata Atika dalam keterangan resmi di laman Unair, dikutip Selasa (10/6/2025) tepat di Hari Media Sosial.

Abai terhadap aktivitas di dunia nyata tapi fokus di media sosial juga termasuk gejala kecanduan sosial. 

“Gejala lain kecanduan media sosial adalah pengabaian terhadap aktivitas di dunia nyata, di mana individu lebih memilih untuk terlibat dalam kehidupan maya daripada kehidupan nyata,” tambahnya.

Atika memaparkan kecanduan media sosial berdampak pada mental seseorang. Mulai dari anxiety atau kecemasan hingga OCD. 

“Secara mental, penggunaan media sosial berlebihan dapat menyebabkan depresi, kecemasan, dan OCD (Obsessive Compulsive Disorder) karena ada ketidakmampuan mengontrol perilaku berulang untuk mengakses medsos seterusnya,” jelas Atika.

 

 

Kecanduan Medsos Juga Berdampak pada Fisik

Selain mental, kecanduan medsos juga berdampak pada fisik. 

Faktor-faktor seperti terlalu lama terpapar layar, posisi duduk yang tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan masalah fisik seperti gangguan tidur dan kelelahan mata.

 

Bagaimana Cara Menangani Kecanduan Medsos?

Atika menekankan, kecanduan medsos dapat dibantu dengan terapi psikologis.

Terapi ini umumnya digunakan untuk mengatasi kecanduan, baik itu substance maupun non-substance, lebih berfokus pada modifikasi perilaku.

Ini melibatkan psikoedukasi dan pembentukan pola pikir yang lebih sehat. Terapi juga mencakup identifikasi alasan di balik penggunaan media sosial sebagai penanganan (coping) serta memberikan alternatif penanganan yang lebih sehat.

“Terapi psikologis yang biasanya digunakan untuk kecanduan, lebih banyak berbasis terapi perilaku. Ada beberapa modifikasi perilaku yang biasanya diberikan kepada individu yang kecanduan, termasuk diiringi dengan psikoedukasi.  Jadi kita percaya bahwa perilaku itu sebenarnya adalah produk dari pola pikir,” jelasnya. 

“Pentingnya memberikan alternatif bagi individu yang cenderung menggunakan media sosial sebagai solusi atas masalah atau stres yang mereka hadapi. Strategi coping yang terus-menerus menggunakan medsos dapat memperburuk masalah kesehatan mental mereka,” pungkasnya.