Penyakit Moyamoya: Kelainan Genetik yang Bikin Pembuluh Darah Mengecil, Bisa Berujung Stroke

Nama penyakit moyamoya asing di telinga masyarakat awam. Namun, dalam setahun terakhir RS PON Jakarta sudah merawat 70 orang yang rata-rata usia muda. Penyakit apa ini sebenarnya?

Diperbarui 24 Mei 2025, 19:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Dokter spesialis bedah saraf Muhammad Kusdiansyah mengungkapkan bahwa ada kondisi penyakit bernama moyamoya. Nama penyakit gangguan pembuluh darah otak ini asing di telinga awam tapi kasusnya bisa terjadi pada siapa saja.

"Penyakit moyamoya adalah kelainan genetik. Bisa terjadi pada siapa saja, tapi faktor risikonya tidak diketahui," kata Kusdiansyah di RS PON Jakarta pada Sabtu, 24 Mei 2025.

Kusdiansyah mengungkapkan bahwa pasien moyamoya mengalami pengecilan pembuluh darah otak. Kondisi tersebut menyebabkan penderitanya berisiko mengalami stroke, bisa karena penyumbatan (stroke iskemik) maupun pendarahan (stroke hemoragik).

"Bisa terjadi stroke-- stroke penyumbatan, karena penyempitan maka alirannya bisa tersumbat," papar Kusdiansyah.

Bisa juga mengalami stroke pendarahan atau stroke hemoragik. Bagaimana bisa?

Ketika seseorang mengalami pengecilan pembuluh darah membuat otak melakukan 'kompensasi' dengan membentuk pembuluh darah kecil-kecil yang disebut moya. Padahal pembuluh darah dibentuk sejak lama bahkan awal kehamilan. Ketika pembentukan pembuluh darah terjadi amat cepat maka rentan rusak.

"Masalahnya pembuluh darah ini dibentuk dalam bentuk singkat. Pembuluh darah itu kan dibentuk dari lama ya (dari janin) nah ini dibentuk dalam waktu cepat. Artinya konstruksi enggak bagus, bisa pecah pembuluh darah moyamoya, terjadi pendarahan," tutur Kusdiansyah menjelaskan seperti mengutip Liputan6 TV.

Dalam pemeriksaan radiologi, pembuluh darah moyamoya hasilnya memperlihatkan seperti kumpulan asap. Dalam bahasa Jepang moyamoya berarti kepulan asap.

"Terlihat kayak menggerombol, karena pembuluh darah banyak tapi rapuh," kata Direktur Direktur Utama RS PON dr Adin Nulkhasanah Sp,S, MARS di kesempatan yang sama.

 

RS PON Sudah Tangai 70 Pasien dengan Riwayat Moyamoya

Kasus penyakit moya-moya termasuk langka. Dalam setahun rumah sakit yang berada di bawah Kementerian Kesehatan RI sudah menangani sekitar 70 kasus.

"(Rata-rata) Usia muda ya, dan paling kecil berusia 3 tahun," tutur Adin usai peluncuran Pusat Moyamoya dan Penyakit Serebravaskuler Kompleks di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON) Jakarta.

Bila nanti terdeteksi kasus moyamoya makin banyak dan RS PON kewalahan menangani, maka bisa dibentuk center-center di rumah sakit lain. Tapi terlebih dahulu RS PON akan membantu memberikan pelatihan kepada dokter di center tersebut.

 

 

Jalani Hidup Sehat dan Masih Muda Kena Stroke, Bisa Jadi Penyakit Moyamoya

Stroke biasanya terjadi pada usia di atas 50-60 tahun walau kini terjadi peningkatan kasus di umur 40. Faktor utama stroke adalah pola hidup tidak sehat seperti merokok dan banyak duduk, hipertensi, kolesterol, dan diabetes tidak terkontrol.

Namun, bila usia masih muda tapi tiba-tiba terserang stroke padahal menjalankan gaya hidup sehat --seperti olahraga, tidak punya diabetes dan hipertensi mengalami stroke, rutin kontrol kesehatan dengan medical check up-- bisa jadi penyakit moyamoya.

Untuk mengetahui penyebab pastinya, Adin, mengatakan orang tersebut perlu menjalani pemeriksaan otak untuk mengetahui kondisi pembuluh darah di otak.

"Checkup enggak hanya medical check up biasa tapi juga brain check up seperti dengan MRI atau CT angio sehingga melihat pembuluh darah di otak," kata Adin.