Gaza Diguyur Hujan Deras, Risiko Penyakit Menular Mengintai

Hujan deras di pagi kemarin menyapu debu reruntuhan gedung di Gaza. Anak-anak sempat bermain di bawah air yang turun dari langit tapi ada kekhawatiran lain muncul bila hujan kembali turun.

Diterbitkan 15 November 2023, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Setelah musim gugur yang hangat dan kering, pada Selasa pagi (14 November 2023) hujan mengguyur Gaza, Palestina.

Hujan deras di pagi kemarin menyapu debu reruntuhan gedung akibat serangan Israel yang terjadi lebih dari enam pekan.

"Hujan ini menghilangkan asap di udara dan langit menjadi indah, ini adalah hari yang baru," tulis dokter bedah Palestina - Inggris, Ghassan Abu Sitta diunggah di X.

Hujan itu juga jadi hiburan bagi anak-anak di Gaza. Beberapa anak terlihat bermain di bawah hujan atau sekadar menengadahkan tangan menikmati tetesan air yang jatuh dari langit.

"Awalnya, anak-anak saya menikmati hujan. Putri saya keluar untuk mencuci rambutnya," kata seorang warga Saleh al-Omran.

Namun, kegembiraan tersebut tak lama. Makin lama, hujan deras yang turun membuat dingin begitu terasa sampai menusuk.

"Sementara kami tidak punya cara untuk menghangatkan rumah. Cuacanya semakin dingin," kata Saleh mengutip The Guardian, Rabu (15/11/2023).

Kekhawatiran Muncul Setelah Hujan Datang

Hujan deras di Gaza kini membawa kekhawatiran dan tantangan baru bagi ribuan warga Palestina yang kehilangan rumah akibat serangan Israel.

Hujan yang mengguyur tenda-tenda pengungsian meningkatkan risiko terjadinya permasalah pada sistem pembuangan.

Padahal sebelum hujan turun, sudah ada gangguan pemompaan limbah dan kekurangan air yang menyebabkan peningkatan penyakit yang ditularkan lewat air, infeksi bakteri dan diare pada bayi.

"Kami sangat prihatin. Kita sudah mengalami wabah penyakit diare. Kami telah mencatat lebih dari 30.000 kasus, padahal biasanya kami memperkirakan 2.000 kasus dalam periode yang sama,” kata Margaret Harris, juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dari Jenewa. 

"Dan, hujan hanya akan menambah penderitaan,” kata Margaret lagi. 

 Hal yang sama juga diungkapkan The Norwegian Refugee Council. Awal musim hujan bisa menandai “minggu tersulit di Gaza” sejak konflik dimulai, kata mereka.

Tenda-Tenda Roboh Kena Hujan

Pengungsi yang berada di halaman rumah sakit di Deir al-Balah berjuang menghadapi hujan yang turun di Gaza kemarin. Mereka harus membentangkan terpal plastik di atas tenda agar air tidak masuk ke dalam.

Saat melakukan pemasangan terpal plastik, kaki mau tak mau masuk ke kubangan lumpur yang tercipta akibat derasnya hujan. 

Tak cuma itu, beberapa tenda juga roboh akibat hujan.

“Semua tenda roboh karena hujan,” kata Iqbal Abu Saud, yang meninggalkan Kota Gaza bersama 30 kerabatnya.

“Berapa hari kita harus menghadapi ini?”

Pengungsi Berdoa agar Tak Turun Hujan

Pengungsi Gaza lainnya, Karim Mreish, tak ingin hujan terus menerus datang. Saat kemarin hujan turun, Karim mengatakan orang-orang di tempat penampungan berdoa agar hujan berhenti.

“Anak-anak, perempuan, dan orang tua berdoa kepada Tuhan agar hujan tidak turun,” katanya.

“Jika hal ini terjadi maka akan sangat sulit dan kata-kata tidak akan dapat menggambarkan penderitaan kami.”

Diprediksi Badai Bakal Terjadi di Gaza Pekan Depan

Badai diperkirakan akan lebih banyak terjadi pada minggu depan di Gaza.

Lalu, terjadi penurunan suhu hingga 17 derajat Celsius yang merupakan pertanda mulainya musim dingin.