Sukses

Antibodi Tubuh Tinggi Bukan Berarti Aman dari COVID-19

Liputan6.com, Jakarta Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia dokter spesialis penyakit dalam konsultan, Iris Rengganis, mengatakan antibodi masyarakat yang tinggi belum tentu aman dari COVID-19. Hal ini lantaran virus SARS-CoV-2 bermutasi.

“Walaupun antibodinya sudah tinggi, sudah meningkat, kita tetap bisa tertular dan menularkan. Jangan  pikir tidak bisa tertular, tetap bisa tertular karena sudah terjadi mutasi virus,” kata Iris dalam diskusi daring bersama BNPB.

Mutasi yang terjadi pada virus merupakan upaya agar virus tersebut tetap hidup. "Jangan harap virus setop bermutasi, karena sifat virus RNA maka akan bermutasi terus sepanjang hidupnya," katanya.

Meski begitu, antibodi yang didapatkan dari vaksinasi COVID-19 tetap penting. Vaksinasi COVID-19 membantu meringankan gejala bila terpapar COVID-19. Harapannya, saat seseorang terkena Corona, gejala ringan dan tidak menimbulkan kematian.

"Vaksin itu tidak seratus persen (melindungi) apalagi ditambah mutasi. Jadi, artinya tetap ada kemungkinan tertular. tapi vaksin melindungi kita maka gejalanya akan ringan," kata Iris.

Maka dari itu selain dengan vaksinasi, penerapan protokol kesehatan seperti penggunaan masker yang tepat harus dilakukan agar tidak tertular COVID-19.

"Balik lagi, protokol kesehatan, jangan longgar. Jadi vaksinasi, plus masker," kata Iris.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Pembentukan Antibodi Ditentukan Sistem Imun Tubuh

Usai seseorang mendapatkan vaksin booster COVID-19 maka antibodi tubuh terhadap virus SARS-CoV-2 meningkat. Namun, seberapa tinggi antibodi yang terbentuk hal itu juga tergantung pada beberapa faktor lain salah satunya adalah sistem imun tubuh seseorang.

"Sistem imun seseriang turut menentukan. Jadi, walaupun sudah vaksin bisa saja antibodi rendah kerena sistem imun kurang baik," jelas Iris.

Selain itu, faktor lingkungan turut juga memengaruhi dalam pembentukan antibodi. Bila di lingkungan tersebut banyak yang melanggar protokol kesehatan, ya maka penularan masih bisa terjadi.

3 dari 3 halaman

Hasil Serosurvei Terbaru Kemenkes dan FKM UI

Kemenkes dan Tim Pandemi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI kembali mengumumkan hasil survei serologi antibodi penduduk Indonesia terhadap virus SARS-CoV-2. Hasilnya, kadar antibodi penduduk Indonesia meningkat dari yang sebelumnya 444 unit per mililiter menjadi 2.097 unit per mililiter.

"Ini adalah survei serologi yang ketiga kali yang besar, yang pertama di Desember 2021 itu bersifat nasional kemudian Maret 2022 khusus untuk Jawa-Bali karena daerah mudik, kemudian Juli 2022 kembali untuk seluruh Indonesia," kata salah satu peneliti dari FKM UI, Iwan Ariawan.

Survei serologi ketiga ini mengunjungi kembali sampel dari survei serologi sebelumnya pada 2021. Dari 20.501 sampel atau responden, sebanyak 84,5% berhasil dikunjungi. Pemilihan responden yang sama ini untuk menunjukkan peningkatan jumlah dan kadar antibodi pada orang yang sama.

Survei serologi ketiga ini dilakukan di 100 kabupaten/kota terpilih yang tersebar di 34 provinsi. Metode survei menggunakan kuesioner, pengambilan darah, kemudian pemeriksaan ada tidaknya antibodi SARS-CoV-2 dan kadarnya. Pemeriksaan dilakukan di BKPK dan jejaring laboratoriumnya.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS