Sukses

Bakal Susul Nakes, Wartawan dan Lansia Masuk Prioritas Vaksinasi Booster Kedua

Liputan6.com, Jakarta Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia Mohammad Syahril menyampaikan, wartawan dan lansia masuk prioritas kelompok yang mendapatkan vaksin booster kedua atau dosis 4.

Pergiliran ini setelah tenaga kesehatan (nakes) yang saat ini sedang vaksinasi booster kedua.

Kemenkes mulai memberikan vaksinasi booster kedua kepada sumber daya manusia (SDM) kesehatan yang berjumlah 1,9 juta orang. Upaya ini sudah dilakukan sejak Jumat, 29 Juli 2022. Pemberian booster kedua nakes mempertimbangkan semakin banyaknya jumlah nakes yang terinfeksi COVID-19.

"Booster kedua atau dosis keempat nakes akan diikuti (kelompok) risiko tinggi lain termasuk wartawan ini kan risiko tinggi. Jadi, akan mendapatkan kesempatan berikutnya (booster kedua) termasuk lansia juga," terang Syahril usai acara peluncuran 'YouTube Health' di Kantor Google Indonesia, Pacific Century Place, SCBD, Jakarta Selatan pada Rabu, 10 Agustus 2022.

Walau begitu, Syahril belum menyebut secara pasti, kapan pergiliran waktu pemberian booster kedua bagi wartawan dan lansia. Sebab, Pemerintah fokus mengejar capaian vaksinasi booster pertama atau dosis 3 yang belum mencapai target.

"Prioritas kita booster pertama atau dosis 3 untuk seluruh masyarakat. Capaian kita kan (booster pertama) baru 28 persen (kelompok masyarakat umum dan rentan) per 10 Agustus ini kan ya. Target kita itu 50 persen," imbuhnya.

Berdasarkan data Vaksinasi COVID-19 Kemenkes per 10 Agustus 2022 pukul 18.00 WIB, cakupan vaksinasi dosis 3 nasional di angka 48,21 persen. Secara rinci, cakupan vaksinasi dosis 3 masyarakat rentan dan umum 28,47 persen.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Target 50 Persen Vaksinasi Booster

Sebelumnya, Mohammad Syahril mengatakan, cakupan 50 persen vaksinasi booster atau dosis 3 sebagaimana dari target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Upaya ini demi perlindungan terhadap masyarakat.

"Kita menyadari penuh bahwasanya vaksinasi ini adalah bagian dari kebutuhan kita agar terhindar dari beratnya sakit COVID-19 maupun juga melindungi masyarakat secara keseluruhan," terangnya melalui Siaran Radio Kementerian Kesehatan, Antisipasi Puncak Kasus COVID-19: Segera Lengkapi Diri dengan Vaksinasi Booster dan Tetap Jaga Protokol Kesehatan, ditulis Kamis (14/7/2022).

"Untuk mencapai target 50 persen yang distandarkan WHO, ini perlu percepatan ya. Jadi, kita tidak lagi perlu berdebat tentang pentingnya vaksin, tapi ayo sama-sama untuk menyelamatkan bangsa ini dengan vaksinasi."

Percepatan vaksinasi booster, salah satunya diupayakan dengan menjadikan vaksin booster sebagai syarat perjalanan dan beraktivitas di fasilitas publik. Terlebih, dalam pertemuan berskala besar yang mengundang lebih dari 1.000 orang.

"Kita melakukan percepatan untuk meningkatkan booster. Kita membuat satu persyaratan (booster) untuk perjalanan, kemudian persyaratan dalam pertemuan-pertemuan yang berskala besar," lanjut Syahril.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Belum Ada Kebijakan Booster Kedua Masyarakat Umum

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI Maxi Rein Rondonuwu turut menekankan, Pemerintah masih berfokus mengejar cakupan vaksinasi booster pertama atau dosis 3 bagi masyarakat rentan dan umum.

"Belum ada kebijakan (vaksinasi booster kedua), kita selesaikan dulu booster pertama. Itu masih rendah, masih (di bawah) 30 persen. Itu dulu diselesaikan," tegas Maxi di sela-sela acara Visioning The Digital Health Transformation in Indonesia with Smile Application di Gedung Kemenkes RI Jakarta, ditulis Rabu (10/8/2022).

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito juga mengatakan, pelaksanaan vaksinasi booster di Indonesia memprioritaskan kelompok rentan, seperti nakes, lansia, dan orang yang memiliki komorbid atau penyakit bawaan. Bagi kelompok masyarakat umum lain diharapkan menunggu informasi lanjutan dari Kemenkes.

"Sebelumnya saya perlu jelaskan, vaksinasi dosis booster atau dosis penguat setelah dosis 1 dan 2, pada prinsipnya pemberian booster kedua akan dberikan prioritas terlebih dahulu yakni, nakes, lansia dan penderita komorbid," terang Wiku di Media Center COVID-19, Graha BNPB, Jakarta, ditulis Selasa (9/8/2022).

"Mohon menunggu informasi selanjutnya dari Kemenkes terkait waktu pergiliran pemberian vaksin booster kedua ini untuk masyarakat umum."

4 dari 4 halaman

Tak Perlu Pilih-pilih Vaksin Booster

Menyoal booster, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Reisa Broto Asmoro mengatakan, masyarakat tak perlu memilih merek vaksin COVID-19. Sebab, pengaturan booster disesuaikan dengan ketersediaan vaksin yang ada di sentra vaksinasi setempat.

"Yang pertama itu tidak perlu memilih merek (vaksin booster) ya dan ini semuanya juga disesuaikan dengan ketersediaan (vaksin) yang ada di daerah. Nanti ketersediaan pun disesuaikan dengan apa yang sudah kita penuhi dalam vaksinasi lengkap, kan ada mix and match," ujarnya melalui Siaran Radio Kementerian Kesehatan, Antisipasi Puncak Kasus COVID-19: Segera Lengkapi Diri dengan Vaksinasi Booster dan Tetap Jaga Protokol Kesehatan, ditulis Kamis (14/7/2022).

"Misalnya, vaksin lengkapnya (dosis) pertama dan kedua pakainya Sinovac. Ya nanti (boosternya) akan disesuaikan (dengan vaksin) yang tersedia di daerah itu apa. Apakah nanti menggunakan Pfizer, AstraZeneca, Moderna atau merek lainnya."

Yang perlu diperhatikan masyarakat adalah bila sudah 6 bulan sejak menerima vaksinasi dosis kedua dapat segera mendatangi sentra vaksinasi untuk menerima vaksin booster. Masyarakat juga bisa mendatangi fasilitas kesehatan terdekat untuk dibooster.

"Nah, jadi enggak perlu mikirin mereknya (vaksin booster) ya. Yang penting datang aja buat dibooster ya disuntik. Biarkan tenaga kesehatannya nanti yang berpikir untuk menentukan vaksin apa yang nanti bisa disesuaikan boosternya," imbuh Reisa.

"Kalau sudah lewat dalam waktu 6 bulan nanti akan disesuaikan dengan (vaksin) yang tersedia juga. Konsultasi aja langsung ke sentra-sentra vaksinasi dan fasilitas kesehatan terdekat."

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS