Sukses

Kesiapan Rumah Sakit Swasta Tangani Kasus Cacar Monyet

Liputan6.com, Jakarta - Belum lama ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan cacar monyet atau monkeypox sebagai darurat kesehatan dunia.

Sejauh ini, monkeypox belum ditemukan di Indonesia. Meski sebelumnya sudah ada kasus supek, tapi seluruhnya negatif. Walau begitu, risiko masuknya cacar monyet ke Tanah Air tetap ada. Maka dari itu berbagai pihak harus melakukan persiapan.

Salah satu pihak yang berperan penting dalam penanganan penyakit adalah rumah sakit baik rumah sakit vertikal maupun swasta.

Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Drg. Susi Setiawaty, MARS mengatakan sejauh ini pihak rumah sakit sudah cukup terlatih.

“Cacar monyet di sini belum, mudah-mudahan tidak, tapi saya rasa semua rumah sakit untuk ini sudah terlatih,” kata Susi ketika ditemui di Jakarta, Rabu (3/8/2022).

Ia menambahkan, obat untuk penyakit  cacar monyet hampir semuanya adalah antivirus. Tatalaksananya pun tidak begitu berbeda dengan penyakit virus lainnya.

“Biasanya kalau dirawat pun kan isolasi dan itu sudah ada semua. Sekarang teman-teman menyiapkan ruang isolasi kan sudah ada aturannya apalagi waktu pandemi itu malah isolasinya lebih banyak.”

“Saya rasa pengobatan dan tatalaksananya hampir sama dengan penyakit virus lain dan sudah ada edarannya juga.”

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Belajar Banyak dari COVID-19

Susi menambahkan, COVID-19 juga merupakan penyakit virus seperti cacar monyet. Sehingga, para tenaga kesehatan sudah banyak belajar terkait penanganannya.

“COVID itu kan virus juga ya jadi untuk penanganan cacar monyet itu saya rasa teman-teman sudah belajar banyak dari COVID.”

Meski tatalaksananya disebut mirip, tapi kedua penyakit ini memiliki perbedaan di berbagai sisi.

Menurut Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, salah satu perbedaan cacar monyet dengan COVID-19 adalah monkeypox baru menular ketika sudah ada gejala, sedangkan COVID-19 menular walaupun sebelum ada gejala timbul.

"Mereka (monkeypox) menular setelah ada gejala. COVID kan enggak ada gejala langsung sudah bisa menularkan. Monkeypox itu kan  harus ada gejalanya dulu, lesi-lesi, ruam-ruam, itu baru dia menular sehingga surveilansnya lebih mudah," ujar Budi usai acara peluncuran platform SatuSehat di Jakarta, Selasa (26/7/2022).

Surveilans yang lebih mudah membuat masyarakat tidak usah sepanik dulu, kata Budi. Sebab, gejala monkeypox bisa terlihat dengan mata dari ciri fisiknya sehingga tak perlu ada penutupan total seperti COVID-19 di tahun-tahun lalu.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Virus Monkeypox Lebih Besar

Perbedaan lainnya, monkeypox virusnya lebih besar ketimbang virus Corona penyebab COVID-19.

"Jadi kalau SARS-CoV-2 itu cuman 30.000 basis DNA-nya, ini (monkeypox) ratusan ribu. Jadi, tesnya dengan PCR biasa cuma reagennya berbeda dan kita sudah dapat reagen ini dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sekitar 500 tes dan kita sudah beli dan mudah-mudahan akan datang minggu ini dari Cina," katanya.

Alat ini kemudian akan digunakan untuk skrining monkeypox. Saat ini Indonesia sudah memiliki kemampuan tes dan bisa dilakukan di 1.100 laboratorium PCR yang dimiliki Indonesia pada saat masa COVID-19.

“Jadi kita beruntung karena ada COVID jadi kita sudah punya 1.100 lab di seluruh Indonesia yang bisa melakukan tes untuk monkeypox,” kata Budi.

Ia membenarkan bahwa penyebaran monkeypox sebagian besar terjadi di kelompok tertentu. Penularannya pun tinggi seperti HIV aids.

Mengingat kemampuan penularan yang tinggi, Budi pun mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pendekatan dengan organisasi-organisasi yang mengelola kelompok-kelompok berisiko tinggi.

“Untuk bisa melakukan surveilans secara aktif, jadi tidak menunggu laporan tapi kelompok ini kita dekati supaya bisa melakukan testing yang langsung.”

4 dari 4 halaman

Terkonsentrasi di Kelompok Gay

Meski sudah ditetapkan sebagai darurat kesehatan masyarakat global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut cacar monyet cenderung terkonsentrasi di kelompok pria yang berhubungan seksual dengan pria atau sering disebut gay.

Hal itu disinggung WHO saat secara resmi menetapkan cacar monyet atau monkeypox sebagai darurat kesehatan global pada Sabtu, 23 Juli 2022.

"Saya telah memutuskan bahwa wabah cacar monyet global merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dikutip dari keterangan resmi WHO pada Minggu, 24 Juli 2022.

"Untuk saat ini wabah ini terkonsentrasi di antara pria yang berhubungan seks dengan pria, terutama mereka yang memiliki banyak pasangan seksual. Artinya, ini adalah wabah yang bisa dihentikan dengan strategi yang tepat di kelompok yang tepat," Tedros menambahkan.

Oleh sebab itu, penting bahwa semua negara bekerja sama dengan komunitas laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (gay) guna merancang dan menyampaikan informasi dan layanan yang efektif.

Dan, untuk mengadopsi langkah-langkah yang melindungi kesehatan, hak asasi manusia, dan martabat masyarakat yang terkena dampak.