Sukses

Survei : Penyebab Perselingkuhan Tersering Bukan karena Pelakor

Liputan6.com, Jakarta - Perselingkuhan dalam pernikahan memang menjadi sebuah masalah yang sepertinya tidak akan pernah lekang dimakan waktu.

Menjalani hubungan sampai membangun rumah tangga berdua, tapi tak jarang kandas karena adanya orang ketiga atau istilah keren zaman sekarang adalah pelakor alias perebut laki (suami) orang.

Sebuah survei mengenai perselingkuhan baru-baru ini dilakukan Teman Bumil dan Populix dengan melibatkan 1.943 orang ibu berumur 20 s/d 35 tahun sebagai responden. 

Setengah dari mereka atau sebanyak 46 persen ibu percaya bahwa adanya orang ketiga dapat mengubah sebuah pernikahan. Ada yang berhasil mempertahankan rumah tangganya, tapi tak sedikit yang berujung pada perceraian. 

Lantas, apa penyebab perselingkuhan bisa terjadi? Apakah perselingkuhan harus berakhir dengan perceraian? Berikut hasil survei yang dilakukan Teman Bumil bersama Populix dikutip dari keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Minggu, 26 Juni 2022. 

Curhat ke Lawan Jenis, Memicu Selingkuh?

Konselor Pernikahan sekaligus Penderi Konsultasi Pernikahan dot Com, Indra Noveldy menyebut bahwa perselingkuhan bisa sangat sulit untuk didefinisikan. 

Sebab, kata Indra, setiap orang menetapkan batas yang berbeda untuk urusan selingkuh. 

Pria yang juga penulis buku Menikah untuk Bahagia pun mendefinisikan perselingkuhan dengan kriteria yang sederhana saja, yaitu curhat.

"Definisi perselingkuhan bisa berbeda pada tiap orang. Namun, bagi saya definisi perselingkuhan itu sederhana: Ketika kita membuka jalan, secara sengaja maupun tidak sengaja, untuk curhat ke orang lain. Itu sama saja sudah membuka pintu perselingkuhan," kata Indra.

 

2 dari 4 halaman

Perselingkuhan Dapat Terjadi karena Hal Sepele

Definisi yang ditetapkan oleh Indra bukan tanpa alasan mendasar. Menurut pemahaman dan pengalamannya, perselingkuhan dapat terjadi mulai dari hal sepele, seperti mengobrol dengan lawan jenis yang bukan pasangan resmi. 

"Tidak ada orang yang berniat selingkuh. Semua terjadi tanpa sengaja. Awalnya bisa saja cuma sekadar cerita, bertukar pikiran, atau bertanya," katanya.

"Tapi lama-lama, bisa merasa nyaman satu sama lain. Makin masuk ke dalamnya, makin terjebak dan malah makin sulit untuk keluar, persis seperti kita berada di dalam pusaran air," Indra menekankan.

Oleh sebab itu, sedini mungkin lebih baik jauh-jauh dari hal yang mendekatkan kita dengan perselingkuhan, seperti curhat kepada lawan jenis, apa pun niatnya dan walaupun bersahabat.

Sejak awal, tambah Indra, tutuplah celah perselingkuhan sedini mungkin, bahkan enggak usah mendekati pinggirannya.

Definisi perselingkuhan berdasarkan penjelasan Indra, senada dengan hasil survei. Sebanyak 51 persen responden setuju bahwa perselingkuhan adalah melakukan percakapan intens dan intim dengan lawan jenis tanpa sepengetahuan pasangan resmi.

Sementara, 48 persen mengategorikan perselingkuhan sebagai pertemuan diam-diam dengan lawan jenis tanpa sepengetahuan pasangan resmi, dan delapan persen menganggap bahwa kagum terhadap seseorang yang bukan pasangannya adalah bentuk perselingkuhan.

 

 

3 dari 4 halaman

Pihak Ketiga Bukan Penyebab Utama Perselingkuhan

Setiap kali kasus perselingkuhan terjadi, akan ada pola yang terbentuk, yaitu mencari siapa orang ketiganya. Padahal, menurut Indra, hal ini tidak benar.

Dalam kebanyakan kasus, perselingkuhan hanyalah gejala dari masalah dalam pernikahan, bukan penyebab utama.

"Perselingkuhan bisa terjadi karena begitu banyak aspek dan sudah ada masalah di pernikahan itu sendiri. Pihak ketiga bukan penyebab utama perselingkuhan," katanya.

Justru ketika kita menunjuk pelakor atau laki-laki lain, itu seperti melimpahkan kesalahan ke pihak ketiga dan suami-istri tidak akan introspeksi ke dalam.

Indra pun mengingatkan bahwa pihak ketiga bisa masuk karena ada celah. Meskipun ada satu oknum berniat ganggu, jika rumah tangga yang diganggu solid, pasti akan terpental.

"Jadi, kuncinya bukan mengusir pelakor atau menghindari pelakor, tapi benahi pernikahan, perkuat fondasi di dalam," ujarnya.

Perbaiki Komunikasi

Memerkuat fondasi hubungan pernikahan memiliki banyak elemen, seperti memperbaiki cara berkomunikasi, menyamakan values, dan memiliki visi-misi yang sama.

Namun, terlepas dari semua itu, satu yang ditegaskan Indra adalah memenuhi kebutuhan masing-masing. Terdengar mudah, nyatanya kebutuhan yang tak terpenuhi di dalam pernikahan sering terjadi dan tidak disadari.

"Perselingkuhan bisa terjadi di pernikahan yang terlihat harmonis. Catat, pernikahan yang beneran harmonis dan yang terlihat harmonis adalah dua hal yang bertolak belakang," kata Indra.

Lebih lanjut Indra, mengatakan, berapa banyak pasangan suami-istri yang sadar bahwa kebutuhan pasangannya terpenuhi? Banyak yang enggak karena semua tampak baik-baik saja, pasangannya enggak komplain, pasangannya saleh, dan lain-lain.

"Artinya, banyak orang yang tidak sadar bahwa pernikahannya bermasalah. Dan Itu adalah masalah besar," katanya.

 

4 dari 4 halaman

Mengapa Ini Bisa Terjadi?

Kenapa hal ini bisa terjadi? Jika ditelaah kembali, rutinitas menjadi alasannya. Sejatinya, rutinitas bukanlah hal yang buruk, tetapi dapat menjadi musuh.

Menurut Indra, rutinitas cenderung menciptakan kebiasaan yang sulit dilewati. Saat itulah akan muncul rasa monoton, ketidakbahagiaan, dan ketidakpuasan.

Baik suami atau istri mulai mempertanyakan siapa yang ia nikahi dan mengapa, maupun tidak menemukan kebahagiaan atau kepuasan di dalam pernikahannya.

Hal ini pun senada dengan hasil survei bahwa 50 persen responden menyatakan rutinitas yang monoton bisa membuat pernikahan berubah dan 46 persen lainnya mengatakan bahwa kehadiran orang ketiga yang mengubah pernikahan. 

"Benar banget, rutinitas yang monoton bisa menjadi masalah dalam pernikahan. Karena terjebak peran normatif sebagai istri, ibu, suami, dan ayah, banyak orang lupa tiga perannya sebagai partner, sahabat, dan kekasih," katanya.

"Kalau ketiga peran ini enggak dijalani, pastinya pernikahan akan membosankan. Lama-lama pernikahan itu jadi normatif, rasa itu akan menguap, lama-lama akan menjadi dingin dan datar, lalu lama-lama mencari rasa dari orang lain yang bukan pasangan resminya," Indra menekankan.

Terjadi Perselingkuhan = Bercerai?

Perselingkuhan merusak fondasi pernikahan. Pengkhianatan ini akan menyebabkan patah hati, kehancuran, kesepian, dan kebingungan pada salah satu atau kedua pihak dalam pernikahan.

Dari hasil survei, sembilan dari 10 responden setuju bahwa perselingkuhan merupakan kesalahan fatal yang dapat menghancurkan pernikahan. Mayoritas responden pun merasa pantas jika perselingkuhan menjadi alasan perceraian.

Sementara 64 persen di antaranya merasa bahwa perceraian itu menyakitkan, tetapi perlu dilakukan karena pernikahan sudah tidak sehat.

Sedangkan sebagian kecil dari mereka atau sekitar 21 persen, merasa bahwa perceraian tidak patut dilakukan karena menyakiti anak-anak.

Menurut Indra, siapa pun berhak untuk memilih jalan berpisah jika perselingkuhan terjadi. Walau begitu, tetap ada harapan pernikahan bisa dibenahi dan bertahan dengan perjuangan, berdarah-darah dalam prosesnya, serta melalui waktu yang tidak sebentar.

Selain itu, jika memutuskan untuk konseling, kedua belah pihak akan diajak banyak transformasi dan introspeksi diri. Itulah mengapa tidak banyak orang yang kuat menjalani prosesnya.

Sebab, pasti akan ada pikiran 'Dia yang selingkuh kenapa saya yang introspeksi? Kan yang salah dia'.