Sukses

Kampanye 10 Jari, Bisa Bantu Deteksi Kanker Ovarium Lebih Awal

Liputan6.com, Jakarta Penyakit kanker ovarium seringkali dianggap sebagai silent killer. Mengingat gejalanya yang kerap kali sulit terdeteksi oleh pasiennya pada stadium awal.

Menurut Global Burden of Cancer Study (Globocan), kanker ovarium pun menjadi penyakit dengan angka kematian mencapai 9.581 setiap tahunnya di Indonesia.

"Jarang terdeteksi dini karena orang tidak ada keluhan apa-apa. Haidnya normal-normal saja, kemudian indung telurnya juga masih bisa berfungsi," ujar Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI), Dr. dr. Brahmana Askandar, SpOG(K) dalam konferensi pers Kampanye 10 Jari pada Kamis, (13/1/2022).

Brahmana mengungkapkan, biasanya pasien datang ketika sudah merasakan beberapa hal. Seperti perut yang membesar, sesak napas karena cairan di paru-paru, atau gangguan buang air besar karena adanya penyebaran di usus.

Maka berkaitan dengan hal tersebut, mengetahui faktor risiko dan gejala dari kanker ovarium dinilai begitu penting. Mengingat jika dideteksi pada stadium awal, 94 persen pasien dapat hidup lebih dari lima tahun setelah diagnosis.

Meski sering tidak terdeteksi pada stadium awal, Brahmana menjelaskan, ada enam faktor risiko dan empat tanda dari kanker ovarium yang dapat dikenali.

Lalu, apa sajakah itu? Berikut diantaranya:

6 faktor risiko:

1. Wanita usia lanjut

2. Angka kelahiran rendah

3. Riwayat kanker ovarium pada keluarga

4. Gaya hidup buruk

5. Riwayat kista Endometriosis

6. Mutasi genetik

Sedangkan, berikut 4 tanda kanker ovarium:

1. Perut kembung

2. Nyeri panggul atau perut

3. Sering buang air kecil

4. Nafsu makan berkurang

2 dari 3 halaman

Risiko lebih tinggi

Menurut Brahmana, salah satu faktor risiko kanker ovarium adalah saat perempuan tidak memiliki anak atau angka kelahirannya rendah.

"Ketika misalnya, ada dua perempuan yang satu anaknya lima, yang satu tidak punya anak sama sekali atau tidak pernah hamil sama sekali. Maka risikonya lebih besar pada yang tidak pernah hamil sama sekali," kata Brahmana.

"Tetapi ini juga bukan justifikasi bahwa ayo banyak anak, bukan demikian. Tapi faktanya memang salah satu faktor risikonya adalah angka kelahiran rendah atau tidak pernah hamil sama sekali," tambahnya.

Hal tersebut disebabkan oleh paparan terhadap ovulasi atau keluarnya sel telur dari ovarium. Indung telur yang tidak pernah istirahat dari ovulasi tersebutlah yang dinilai dapat memicu terjadinya kanker ovarium.

3 dari 3 halaman

Infografis