Sukses

[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Global Townhall (GTH) 2021, Tantangan Vaksinasi Penduduk Dunia

Liputan6.com, Jakarta Saya pada 20 November 2011 sore hari ini menjadi moderator pada Session 6 Global Townhall (GTH) 2021. Sejak Session ke satu di pagi hari maka acara ini sudah membahas berbagai hal dibidang politik, sosial, ekonomi, lingkungan hidup, diplomasi internasional dll, dan secara total disampaikan diikuti oleh lebih dari 10.000 partisipan dari lebih 100 negara.

Topik session ke enam di sore hari adalah tentang “COVID-19 Pandemic in Year Two: The Challenge of Vaccinating the Global Population”, yang dibuka oleh Ibu Menteri Luar Negeri.

Dalam sambutan pembukaannya Ibu Menteri Retno Marsudi secara rinci menjelaskan tantangan vaksin di dunia dan ketimpangan yang ada tentang ketersediaan vaksin Ada 4 panelis pada acara ini, yaitu

- Menteri Kesehatan Malaysia YB Khairy Jamaluddin

- Prof. George Fu Gao Direktur Jenderal “Chinese Center for Disease Control and Prevention (China CDC)”

- Dr. Ayoade Olatunbosun-Alakija yang merupakan Co-chair dari African Vaccine Delivery Alliance (AVDA)

- Dr. Bruce Aylward, Senior Advisor dari Direktur Jenderal WHO dan Kepala “Access to COVID-19 Tools Accelerator Hub (ACT-A)”. 

 

2 dari 4 halaman

Tantangan vaksinasi dunia

Diskusinya menyangkut berbagai aspek tantangan vaksinasi di dunia, antara lain:

- Kenyataan tidak meratanya distribusi vaksin di dunia. 80 negara di dunia tidak akan mampu mencapai target WHO untuk memvaksinasi sedikitnya 40% penduduknya pada akhir tahun ini.

- Dibahas berbagai kemungkinan di tingkat global, regional di di masing-masing negara untuk mengatasi ketimpangan penyediaan vaksin

- Pentingnya komitmen politik dan juga kenyataan pelaksanaan di lapangan

- Sistem kesehatan global tidak cukup mampu untuk menjamin ketersediaan vaksin bagi semua yang membutuhkannya, dan ini dapat membawa korban manusia yang seharusnya tidak perlu terjadi

- Kelompok yang menolak divaksin perlu ditangani dengan baik, antara lain dengan transparansi, membangkitkan rasa percaya, komunikasi tapi juga mungkin perlu pendekatan “carrot and stick”, memberi kemudahan bagi yang sudah divaksin dan memberi semacam sanksi bagi yang menolak tanpa alasan yang jelas

- untuk kemungkinan pemberian vaksin booster maka memang sudah diketahui bahwa efikasi vaksin akan turun sesudah beberapa bulan pemberian. Karena itu maka pemberian booster memang menjadi salah satu pilihan agar proteksi dapat tetap terjaga

- dibahas juga bahwa perilaku masyarakat memegang peran amat penting dalam memerangi virus COVID-19 ini, walaupun sudah di vaksin.

Di sisi lain, anggota masyarakat juga dapat menyuarakan pendapatnya agar penentu kebijakan publik dapat bekerja lebih maksimal untuk melindungi rakyat terhadap bahata akibat penyakit ini.

Pertanyaan dari peserta amat banyak, tapi karena waktu maka saya hanya mengakomodir 4 pertanyaan, yaitu dari Fiji, Amerika Serikat, Rusia dan Malaysia. 

 

3 dari 4 halaman

Kata Penutup

Dalam kata penutup saya sampaikan tiga hal:

1. Vaksin merupakan salah satu modalitas penting dalam pengendalian COVID-19. Karena prinsip dasar penanggulangan pandemi adalah “no one is safe until everyone is safe” maka kenyataan bahwa tidak meratanya ketersediaan vaksin di dunia merupakan ancaman dalam upaya dunia menangani pandemi ini

2. Sistem Kesehatan Masyarakat Dunia jelas harus lebih diperkuat lagi untuk mampu menangani pandemi, baik kini mapun di masa datang.

Saya kutipkan pendapat Independent Panel WHO untuk COVID-19 yang menyebutkan perlunya “Global Reset”, yang saya terjemahkan sebagai perlunya “Tata Ulang Kesehatan Global”

3. Hal ke tiga, saya kutip pernyataan Ibu Menteri Luar Negeri pada awal Sessi ini, “now is the time for action”. Hal senada juga disampaikan oleh seluruh ke empat panelis dalam diskusi lebih dari 1 jam di sore hari ini.

4 dari 4 halaman

Infografis Anak Indonesia Usia 6-11 Tahun Siap Terima Vaksin Covid-19.