Sukses

Mengenal Inflammatory Bowel Disease dan Perbedaannya dengan Irritable Bowel Syndrome

Liputan6.com, Jakarta - Penyakit inflammatory bowel disease (IBD) adalah penyakit autoimun yang juga dikenal dengan peradangan usus kronis. IBD bisa menciptakan komplikasi hingga kematian bagi penderitanya jika tidak ditangani secara tepat.

Inflammatory bowel disease merupakan sekelompok penyakit autoimun yang ditandai dengan peradangan pada usus kecil dan besar, akibat elemen sistem pencernaan diserang oleh sistem kekebalan tubuh sendiri.

Inflammatory bowel disease ditandai dengan episode peradangan saluran cerna berulang yang disebabkan oleh respons imun yang abnormal terhadap mikroflora usus. Namun, secara klinis IBD sering secara keliru disamakan dengan irritable bowel syndrome (IBS).

Prof Dr dr Murdani Abdullah SpPD-KGEH, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), menjelaskan, IBD dan IBS adalah dua gangguan pencernaan yang berbeda, meskipun perbedaan keduanya dapat membingungkan banyak orang.

“Baik IBD maupun IBS menyebabkan sakit perut, kram, dan buang air besar yang mendesak (diare). Namun, IBS masih diklasifikasi sebagai gangguan fungsional dan tidak menimbulkan peradangan,” ujar Murdani dalam rilis Takeda Pharmaceutical Company Limited yang diterima Health Liputan6.com pada Kamis, 21 Januari 2021.  

“Sedangkan IBD sudah diklasifikasi sebagai gangguan organik yang disertai dengan kerusakan pada saluran cerna,” Murdani menambahkan.

Inflammatory bowel disease lebih berbahaya dari irritable bowel syndrome karena dapat menyebabkan peradangan yang merusak dan kerusakan ini bisa bersifat permanen pada usus, bahkan salah satu komplikasinya bisa meningkatkan risiko kanker usus besar.

2 dari 4 halaman

Dua Tipe IBD

Pada dasarnya, IBD terbagi menjadi 2 tipe, yaitu Ulcerative Colitis (UC) dan Crohn’s Disease. Kini terdapat juga tipe yang lain dari IBD, yaitu Colitis Indeterminate (Unclassified).

Pada Ulcerative Colitis (UC), terjadi peradangan dan luka di sepanjang lapisan superfisial usus besar dan rektum (tempat penyimpanan feses sementara), sehingga sering merasa nyeri di bagian kiri bawah perut. Sedangkan pada Crohn’s Disease (CD), terjadi peradangan hingga lapisan saluran pencernaan yang lebih dalam, sehingga sering merasa nyeri di bagian kanan bawah perut namun pendarahan dari rektum cenderung lebih jarang.

Murdani menambahkan, gejala penyakit radang usus berbeda-beda, tergantung pada tingkat keparahan peradangan dan lokasi terjadinya peradangan.

“Namun pada UC dan CD, keduanya memiliki tanda dan gejala umum yang perlu diwaspadai seperti diare, kelelahan, sakit perut dan kram, nafsu makan berkurang, darah pada feses, dan penurunan berat badan.”

Pada dasarnya, penyebab IBD belum diketahui jelas. IBD ini tentu disebabkan oleh gangguan sistem kekebalan tubuh. Namun, kesalahan pada diet dan tingkat stres berlebih juga bisa memicu terjadinya IBD. Faktor keturunan juga berperan dalam IBD meskipun angka penderitanya sangat sedikit.

3 dari 4 halaman

Infografis 5 Gejala Sakit Kepala Akibat COVID-19

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: